DUKACITA ATAS KARUNIA
Yunus 3:10-4:11
Yunus 4:1. “Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.”
Dalam bukunya “The Divine Intruder” (Pengacau Ilahi), James Edwards menggambarkan Nabi Yunus sebagai orang yang berdukacita atas karunia Allah. Yunus diutus untuk seruan pertobatan kepada warga Niniwe. Namun, ia merasa kota yang penuh kekejaman dan kejahatan itu lebih layak dihancurkan daripada diampuni. Setelah gagal melarikan diri dari Allah, Yunus akhirnya taat dan mengabarkan penghukuman yang akan Allah jatuhkan atas Niniwe. Lalu, terjadilah sesuatu yang sama sekali tidak terbayangkan: orang-orang Niniwe mau bertobat!
Dengan sangat marah, Yunus mencurahkan kekecewaannya kepada Allah: “Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya” (Yunus 4:2).
Seperti Yunus, kita pun sering merasa bahwa orang-orang tertentu lebih pantas dihukum daripada diampuni Allah. Kita tidak mengharapkan apa pun kecuali hal yang terburuk bagi mereka, mengingat apa yang telah mereka lakukan terhadap kita atau orang-orang yang kita kasihi. Sebab itu, James Edwards mengingatkan, bahwa kisah Yunus juga mengacu pada diri kita. Ia bertanya, “Apakah kita akan membatasi kuasa Allah dengan penghakiman, atau bersediakah kita membebaskan Allah untuk mengubah musuh-musuh kita, bahkan kita sendiri, dengan karunia-Nya?
Dalam komsel, pemuridan, kehidupan bergereja, atau ketika terlibat dalam organisasi, terkadang kita merasa seperti Yunus yang merasa marah terhadap Tuhan karena merasa Tuhan tidak adil dalam menangani orang-orang tertentu. Namun, Tuhan berdaulat atas hidup kita dan Ia Maha mengetahui yang terbaik untuk kehidupan kita.
Doa: “Ajar kami untuk mengasihi orang lain seperti Engkau telah mengasihi dan menerima kami. Di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung