
KASIH DAN DISIPLIN
Ulangan 8:5-6; Ibrani 12:5-6
Ibrani 12:6. “Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”
Karena berbagai alasan, para orangtua seringkali mengabaikan anak dalam kedisiplinan. Jika orangtua mengasihi anaknya, maka mereka juga harus mendisiplinkan anak-anaknya. Kasih tanpa disiplin mengakibatkan munculnya sentimen atau ketidakpedulian.
Cara Tuhan mendisiplinkan umat-Nya sama dengan cara seorang ayah mendisiplinkan anaknya (Ul. 8:5; Mzm. 6:2). Tujuan Allah mendisiplinkan umat-Nya agar taat kepada-Nya. Dia izinkan banyak masalah, penderitaan dalam rangka pendisiplinan. Disiplin adalah bukti kasih-Nya, karena kita adalah anak-anak-Nya (Ibr. 12:5-6). Ketika pendisiplinan sedang dialami terasa seperti dukacita, tetapi kalau sudah diterima dan dipahami, suka duka berubah menjadi kebaikan.
Yesus mengajarkan pula, bahwa kepentingan orang lain harus selalu didahulukan (Mrk. 3:20-21). Bagi Yesus, orang dewasa harus mendisiplin anggota tubuhnya – tangan, kaki, mata – agar tidak membawa keburukan bagi orang lain, terutama “menyesatkan” anak-anak di bawah asuhan mereka. Yesus melarang mereka meremehkan anak-anak kecil (Mat. 19:13-15).
Mari kita belajar seperti Yesus, yang bukan hanya mengajar murid-murid-Nya tetapi juga menjadi contoh disiplin dalam segala hal (penggunaan waktu, uang, dan doa).
Ayat Bacaan: Matius 21:33-46; Kisah Para Rasul 13:4-12; Mazmur 39:1-40:9; Keluaran 24:12-26:37
GBI Pasir Koja 39 Bandung