Filipi 2:1-11
Filipi 2:5. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,”
Seorang istri mengeluh tentang kebiasaan suaminya yang ‘cerewet’ minta ampun, bahkan melebihi cerewetnya seorang perempuan. Jika pergi ke sebuah acara, sang suami bisa menghabiskan waktu untuk bertemu dan ngobrol dengan siapa pun yang dijumpainya. Selalu saja ada bahan pembicaraan dan tak pernah kehabisan ide untuk melempar lelucon. Istrinya berseloroh, bahwa bahan pembicaraan yang dimiliki suaminya itu seperti kasih Tuhan: selalu baru dan tak ada habis-habisnya. Bagaimana bisa menghentikannya?
Seorang istri yang lain menyampaikan keluh-kesah yang lain. Berbeda dengan tipe suami sanguin tadi, suaminya adalah seorang yang ‘cool’, bahkan super-super cool. Dingin! Sudah segala cara dipraktekkan untuk membuat suaminya itu sedikit bisa bercanda. Usahanya berkali-kali mentok dan gagal. Candaan paling lucu sekalipun hanya ditanggapi dingin. “Datarnya sikap suami saya itu lebih datar dari TV keluaran terbaru sekarang yang serba flat,” ungkapnya. Bagaimana bisa membuatnya tertawa?
Siapa sih yang tidak ingin memiliki pasangan hidup yang ideal di dalam pernikahannya? Tentu semua mendambakan sosok suami yang komplit dengan perangkat-perangkat sikap dan sifat yang membuat hidup istri nyaman. Demikian sebaliknya, setiap suami juga mendambakan hal yang sama. Jika itu yang terjadi, kebahagiaan ada dalam genggaman. Betulkah?
Kebahagiaan tidak selalu hadir dalam keluarga kita dalam kondisi yang ideal. Kita acap diperhadapkan pada fakta yang tak seideal seperti yang kita bayangkan. Karena sukacita dan kebahagiaan kita sumbernya dari Allah, maka situasi dan kondisi tidak mempengaruhinya. Kita tetap dapat meraih kebahagiaan bersama suami atau istri yang terlalu cerewet atau terlalu cool. Kita tidak harus mengubah pasangan. Yang penting, kita berubah dalam cara penerimaan terhadap pasangan. Yang kita perlukan adalah menerima pasangan kita apa adanya, sebab temperamennya yang semacam itu memang sudah dari ‘sononya’. (NK).
Doa: “Karuniakan kepadaku, ya Allah, kemampuan untuk menerima pasanganku apa adanya, dengan segala sikap dan sifat yang dimilikinya. Beri kemampuan untuk mengatasi perbedaan itu dengan kasih-Mu. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung
