Renungan Harian 12 Agustus 2020

FALSAFAH JEPANG >< INJIL

Ibrani 7:22-27

Kisah Para Rasul 8:32. “Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya.”

Beberapa waktu yang lalu ada sebuah film seri, “Oshin”. Perangai Oshin adalah menyimpan perasaan nyeri. Di saat hatinya nyeri, ia berdiam seribu bahasa. Ibu mertuanya suka mengomel, suka memfitnah, namun Oshin hanya menarik nafas panjang sambil menundukkan kepala, tidak pernah membantah. Mengapa Oshin begitu “bodoh” dan diam saja? Ternyata dia rela menanggung rasa nyeri itu demi suaminya. Dia tidak pernah mengadu kepada suaminya. Dalam falsafah Jepang, penderitaan Oshin itu disebut tsurasa (nyeri yang dialami demi seseorang yang kita junjung tinggi).

Ibrani 2:10 Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah — yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan —, yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.

Kunci untuk mengerti ayat ini adalah kata sesuai (Yun: eprepen = cocok dengan hakikatnya). Artinya hakikat Allah adalah penderitaan. Dan Allah menyempurnakan Yesus dengan penderitaan. Kazoh Kitamori, seorang pakar teologi Jepang berkata, nyeri Allah menunjukkan keinginan-Nya untuk mencintai sasaran murka-Nya. Allah merasa nyeri karena di dalam diri-Nya selalu ada dua keinginan yang saling bertentangan: keharusan menghukum dan keinginan mengasihi.

Kalau Oshin menderita tsurasa demi cinta suami, maka Allah menderita demi cinta umat manusia. Di sini letak perbedaan antara falsafah Jepang dengan berita Injil. Injil menekankan, bahwa Yesus Kristus berkorban bagi umat manusia yang sama sekali tidak patut dijunjung. Yesus mau berkorban untuk kita yang sebenarnya tak patut mendapat pengorbanan-Nya.

Kita sekarang harus bersyukur bahwa kita dibebaskan dari semua kutuk karena pengorbanan-Nya bagi kita.

Doa: “Tuhan Yesus, terima kasih untuk kasih-Mu yang Engkau nyatakan dengan kerelaan-Mu mati untuk menebus dosa-dosaku. Amin.”

Bacaan Setahun: Yohanes 10:11-21; Galatia 4:12-20; Yesaya 56:1-57:5; I Raja-raja 15-16.

Check Also

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN

Renungan 31 Desember 2023

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN Renungan 31 Desember 2023 …