
WUJUD CINTA
Markus 14:3-9
Lukas 10:27. Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Di dalam ruangan itu ada sekitar 15 orang lelaki. Tiba-tiba seorang perempuan masuk. Ia berjalan langsung ke tengah ruangan dan mendekati tokoh yang adalah pusat perhatian pertemuan itu. Tanpa sepatah kata pun perempuan itu menuangkan parfum ke atas kepala tokoh itu.
Enam hari sebelum kematian-Nya (Yoh. 12:1), Yesus diundang makan di rumah seseorang. Semuanya lelaki sebab perempuan tidak boleh makan bersama lelaki. Tiba-tiba seorang perempuan masuk berjalan langsung ke tempat Yesus, Ia mengeluarkan buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni, memecahkannya dan menuangkan isi botol itu ke atas kepala Yesus. Injil Yohanes mencatat perempuan itu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya, dan bau semerbak memenuhi seluruh rumah itu (Yoh. 12:3).
Reaksi dari para lelaki di ruangan itu adalah memarahi perempuan itu (Mark. 12:5). Tetapi Yesus justru membela perempuan itu,…ia telah melakukan suatu perbuatan baik pada-Ku (ay.6, 8).
Inilah wujud cinta perempuan itu kepada Yesus pada waktunya, artinya bukan ketika Yesus sudah tidak ada di dunia, tetapi saat Yesus masih ada. Banyak orang tidak berbuat baik kepada orangtuanya saat orangtuanya masih ada, tetapi ketika meninggal, baru dia menyesal. Apa gunanya? Apakah artinya perbuatan baik diberikan kepada orang yang sudah meninggal?
Mari kita wujudkan cinta kita kepada Yesus yang terutama, setelah itu kepada sesama kita, baik keluarga, teman-teman seiman, ataupun orang-orang sekitar kita (Mat. 22:37-39).
Doa: “Tuhan Yesus, kami mau senantiasa menyatakan kasih kami kepada-Mu juga kepada sesama kami. Amin.”
Bacaan Setahun: Yohanes 16:25-33, Filipi 3:10-16, Yeremia 15:5-21, 1 Tawarikh 15-16.
GBI Pasir Koja 39 Bandung