“MASIH JAUHKAH? KAPAN KITA SAMPAI?”
Ulangan 8:1-20
Ulangan 8:2a. “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu.”
Anak bungsu saya adalah anak yang kurang betah untuk berlama-lama di dalam berkendara. Dalam perjalanan Bandung-Jakarta saja, kami harus berhenti di tempat peristiahatan setidaknya 2 kali. Ditambah dengan pertanyaan yang berulang-ulang ia lontarkan sepanjang perjalanan, “Masih jauh ya? Kapan kita sampai?”
Membaca kisah perjalanan bangsa Israel ke Tanah Kanaan, saya dapat membayangkan, bagaimana Musa pun pasti sering sekali mendapat pertanyaan di atas dari bangsa Israel. Bahkan, mungkin saja ia sendiri pun kerap menanyakannya kepada Allah. “Kapan kami akan tiba di negri yang berlimpah susu dan madu? Masih lama lagikah?” 40 tahun mengembara di padang gurun bukanlah waktu yang singkat, dan Allah mengijinkan mereka mengembara selama itu, tentu dengan suatu maksud yang mulia.
Setelah 400 tahun hidup di tanah Mesir, dengan adat budaya orang Mesir, maka Allah ingin agar bangsa Israel mengarahkan kemballi hati, jiwa dan pikiran mereka kepada Allah (Ul. 8:2, 15-18). Dalam kehidupan kita, terkadang mungkin merasa seperti hidup dalam pengembaraan. Kita merasa seperti berputar-putar tanpa arah dan tersesat. Lalu kita mulai mengggerutu dan bertanya dengan nada rewel, “Berapa lama lagi kami harus mengalami ini? Kapan janji-Mu akan Kaugenapi? Masih lamakah Tuhan?”
Di saat-saat seperti itu, maka perlu untuk kita mengerti dan mengingat, bahwa perjalanan itu sendiri penting bagi Allah, bukan hanya tempat tujuannya. Dia menggunakan proses perjalanan untuk membuat kita rendah hati dan mengandalkan Dia, juga menguji kita guna menunjukkan kepada kita, apa yang sesungguhnya ada di dalam hati kita.
Doa: “Semua proses yang Engkau jinkan kami lalui tentulah mempunyai maksud. Kami mau terus berjalan dengan iman karena waktu-Mu pastilah yang terbaik. Di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung