MENGERAT HATI
Matius 5:23-24
Matius 5:24. “Tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”
Sebelum kita masuk ke hadirat Allah untuk menyembah-Nya, pertama-tama yang harus kita lakukan adalah lebih dahulu menyelesaikan persoalan dengan orang yang telah melukai kita atau yang telah kita lukai (Matius 5:23-24). Saat menyembah Tuhan, hati kita harus benar, tidak ada ganjalan, harus terbebas dari hal-hal yang negatif: iri hati, amarah, jengkel, sakit hati, benci, dendam, sombong dan sebagainya. Jika ada perasaan-perasaan jahat di hati, maka kita tidak akan dapat menyembah Allah di dalam roh dan kebenaran.
Penyembahan artinya menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Allah. Abraham mengembalikan miliknya yang paling ia kasihi, Ishak kepada Allah. Ia menyembah Allah ketika ia melakukan hal itu (Kej. 22:5). Kita sedang memuliakan Dia dan menempatkan Allah sebagai yang terutama di atas segala-galanya tatkala kita melepaskan ego kita dan memilih taat kepada kehendak-Nya. Dan kehendak-Nya ialah: Ia ingin agar kita mengampuni dan hidup dalam kasih dengan sesama kita.
Paulus berkata, “Kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. (Flp. 3:3). Bersunat artinya mengerat hal-hal yang kita bawa sejak lahir. Kesombongan, dendam, egois, dan penyakit-penyakit hati lainnya yang berasal dari sifat dosa. Penyembahan sejati muncul saat kita mengerat semua itu dengan taat melakukan kehendak Bapa.
Mari lebih lagi menyerahkan diri kita kepada Allah sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, sebab itulah ibadah kita yang sejati (Rm. 12:1).
Doa: “Ajar kami untuk senantiasa menempatkan Engkau sebagai yang paling utama di dalam hidup kami, karena itulah penyembahan yang sesungguhnya, ya Allah. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung