Renungan Harian (10 Oktober 2015)

10INI AKU

Yesaya 6:4-9

Yesaya 6:8. “Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”

Di hadapan kekudusan dan kemuliaan Tuhan, Yesaya menyadari kenajisan diri dan bangsanya. Dia telah dilahirkan dari bangsa itu dan hidup di tengah mereka. Dia tidak memiliki titik kesucian di dalam dirinya maupun dalam bangsa itu; bahkan sebaliknya. Seorang dari para Serafim secara simbolis menyucikan Yesaya. Bara api diambil dari mezbah dan disentuhkan pada mulut Yesaya. Ini berarti, bahwa Tuhan berkenan mengampuni kesalahannya dan menghapus kenajisannya. Penyentuhan mulut dengan api dihubungkan dengan tugas kenabian Yesaya yang menuntut kemurnian dan keberanian dalam memberitahan firman Tuhan. Demikianlah Yesaya disucikan dan disiapkan untuk mengemban tugas pengutusannya.

Setelah Yesaya diampuni dan disucikan dari kenajisannya, maka ia bersikap tenang dan bersyukur, siap menerima tugas yang hendak diberikan oleh Tuhan. Tugas panggilan itu tidak dalam bentuk perintah mutlak, tetapi dalam bentuk tawaran dan tantangan (challenge). Respon Yesaya juga menarik sekali. Ia memberi jawaban pribadi (timbul dari kesadaran diri sendiri) secara spontan (tanpa pikir panjang) dan dengan tekad bulat serta penyerahan diri yang total. “Ini aku” menunjuk kepada seluruh kepribadian dan kemampuan yang ada pada dirinya, siap untuk diserahkan bagi tugas pengutusan ilahi itu.

Tugas panggilan missioner semacam ini sebenarnya masih tetap diberikan kepada setiap orang Kristen, dan Tuhan menantikan respon yang tegas dan rela dari kita. Apa respon Anda?

Doa: “Ini aku, Tuhan Yesus. Aku yang telah Kautebus dan ampuni, utuslah aku menjadi pemberita-pemberita firman-Mu. Amin.”

Check Also

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN

Renungan 31 Desember 2023

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN Renungan 31 Desember 2023 …