
DOSA BUKAN SEPELE
Roma 5:12-21
Amsal 14:9. “Orang bodoh mencemoohkan korban tebusan, tetapi orang jujur saling menunjukkan kebaikan.”
Kesalahan terbesar yang dibuat umat Kristiani adalah menyepelekan kuasa dosa. Kita tidak suka mengakui dosa karena dengan demikian kita harus menebusnya atau mengubah perilaku kita. Jadi, kita berargumentasi bahwa kita tidak berdosa sama sekali. Hal pertama yang kita perbuat adalah mencari nama baru untuk dosa. Dosa kedengarannya terlalu kuno. Terlalu kasar. Marilah kita menyebutnya “kesalahan”, atau “kebiasaan”, atau “keliru menilai”. Itu kedengarannya lebih baik. Lalu, kita berusaha menjelaskan mengapa kita melakukannya: “Semua orang juga melakukannya kan?” “Itu bukan salahku; habis aku kecanduan”. Akhirnya, kita meremehkan akibat-akibatnya: “Kok orang-orang zaman sekarang terlalu serius, ya.” “Seharusnya mereka tidak usah begitu peka deh.”
Ujung-ujungnya, persoalannya adalah bahwa kita tidak suka disuruh-suruh. Kita menginginkan kebebasan untuk membuat pilihan-pilihan kita sendiri. Namun kita tidak memahami suatu hal: bukan kita yang mengendalikan dosa; dosalah yang mengendalikan kita. Dosa adalah sikap atau perilaku yang menentang kehendak Allah. Firman Allah telah menetapkan suatu standar yang jelas, bagaimana seharusnya kita hidup. Alkitab juga memperingatkan kita tentang ganjaran-ganjaran dari ketidaktaatan. Mengapa? Karena dosa itu serius. Dosa itu menghancurkan. Dosa itu mematikan (Roma 6:23). Bukan itu yang diinginkan Allah bagi kita. Ia ingin kita mendapatkan kehidupan. Ia ingin kita bebas dari rasa bersalah, malu, dan ganjaran-ganjaran dosa. Selama kita menganggap remeh dosa itu, kita tidak akan pernah merasakan kehidupan seperti yang dikehendaki Allah. Itulah kuasa dosa di atas kita.
Janganlah takut melihat dosa apa adanya. Janganlah biarkan pandangan yang keliru tentang dosa merampas kehidupan yang direncanakan Allah bagi Anda. Berdoalah agar Allah memberi kemenangan atas dosa. Akui dosa Anda dan hiduplah dalam kehendak Allah.
Doa: “Bapa di dalan nama Yesus, kami mengakui sebagai berdosa. Terima kasih Engkau telah menyediakan pengampunan dosa. Kami mau hidup kudus. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung