
YESUS PENDOA SYAFAAT
Lukas 6:12-16
Ibrani 5:7. “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.”
Sering sekali kita membaca Yesus naik ke atas bukit seorang diri untuk berdoa. Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Yesus mengambil waktu untuk berdoa secara pribadi kepada Allah, mempersembahkan doa dan permohonan kepada Bapa-Nya.
Injil-injil, terutama Lukas, kerap kali menyatakan, bahwa Yesus berdoa seorang diri di tempat sunyi atau di malam hari, waktu makan, dan sehubungan dengan peristiwa-peristiwa penting: waktu dibaptis, sebelum memilih keduabelas rasul, sebelum mengajar doa “Bapa Kami”, sebelum murid-murid mengakui Yesus sebagai Mesias, waktu Yesus dimuliakan di atas sebuah gunung, di taman Getsemani, waktu di salib Yesus mendoakan mereka yang menyalibkan-Nya, semua murid-Nya; Ia pun mendoakan diri-Nya sendiri. Doa dan permohonan yang dipersembahkan Kristus diiringi dengan ratap tangis dan keluhan juga bersikukuh dan kesungguhan.
Doa-doa itu menyatakan, bahwa Yesus terus menerus berhubungan dengan Bapa-Nya. Semuanya itu membuktikan, bahwa Yesus dalam hidup-Nya sebagai manusia adalah pendoa syafaat yang sungguh-sungguh kepada Bapa-Nya di sorga dan sampai hari ini pun Dialah pengantara kita kepada Bapa di sorga (Ibrani 7:25).
Dengan semuanya itu Yesus memberi teladan kepada kita supaya kita juga menjadi pendoa syafaat. Jika Yesus merasa doa merupakan bagian penting dalam pelayanan-Nya, siapakah kita sehingga masih memandang remeh doa?
Doa: “Tuhan Yesus jadikan kami seperti Engkau yang senantiasa dan selalu berdoa dalam setiap kesempatan. Amin.”
Bacaan Setahun: Lukas 8:1-15; Roma 10:1-8; Amsal 3; Ulangan 12:1-28
GBI Pasir Koja 39 Bandung