NATAL = SUKACITA
Roma 15:10-15
1 Tesalonika 5:16. “Bersukacitalah senantiasa.”
Entah bagaimana, bukan hanya ketika Natal, melainkan di sepanjang tahun kehidupan kita, sukacita yang kita bagikan kepada orang lain menjadi sukacita yang kembali kepada kita. Semakin sering kita memakainya untuk memberkati mereka yang miskin, kesepian, dan dirundung duka, maka semakin hati kita diperkaya, yang menjadikan kita bersukacita.
Kita dipilih untuk bersukacita. Bagaimanapun sukarnya jalan Kristen itu, baik dalam perjalanannya maupun tujuannya, jalan itu adalah jalan sukacita. Selalu ada sukacita di dalam melakukan hal-hal yang benar. Jika kita mengelak dari beberapa kewajiban atau tugas, ketika pada akhirnya kita melakukannya, sukacita itu akan datang kepada kita. Orang Kristen adalah pengikut Kristus yang penuh sukacita. Orang Kristen yang cemberut adalah suatu kontradiksi terhadap terminologi (peristilahan) itu. Sepanjang sejarah keagamaan, serangan yang paling merusak kekristenan adalah jika ia dikaitkan dengan jubah-jubah hitam dan muka cemberut.
Yesus datang dan lahir ke dalam dunia untuk membawa sukacita dan bukan kesedihan. Ia akan membebaskan semua belenggu dosa. Bersukacitalah!
Doa: “Kami senantiasa bersukacita karena kami tahu Engkau Allah Imanuel senantiasa bersama kami. Engkau telah menebus, menyelamatkan, membebaskan dan memulihkan kami. Terima kasih, ya Allah. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung