
Renungan Harian 04 Juli 2022
PENOLONG BUKAN PERONGRONG Renungan Harian 04 Juli 2022
Ayub 2:1-13
Ayub 2:9. Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” Renungan Harian 04 Juli 2022
Kita tentu pernah mendengar kisah tentang suami atau isteri yang meninggalkan pasangannya justru saat kehadiran mereka paling dibutuhkan. Seorang suami menelantarkan isterinya ketika sang isteri divonis sakit tertentu. Atau seorang isteri yang meninggalkan suaminya saat bisnis sang suami bangkrut. Ketika pasangan sehat dan produktif, dapat diandalkan secara materi, maka banyak pasangan yang sepertinya hidup harmonis sekali. Namun ketika hal sebaliknya terjadi, kasih dan kesetiaan pasangan sungguh diuji. Isteri Ayub gagal dalam ujian ini.
Ayub adalah seorang yang saleh dan takut akan Tuhan. Ia punya tujuh putra dan tiga putri, dan semuanya hidup rukun (Ayb. 1:2, 4). Hartanya melimpah. Namun, semua itu musnah dalam sekejap ketika pasukan musuh merampas segalanya. Ayub kehilangan segala miliknya, termasuk anak-anaknya. Bahkan Ayub mengalami penyakit yang mengerikan dan menjijikkan. Dalam situasi yang demikian isterinya bangkit tetapi bukan untuk menopang atau menguatkan Ayub melainkan justru merongrongnya. Isteri Ayub mendesak Ayub untuk meninggalkan hidupnya yang saleh, mengutuki Allah, dan mati saja. Padahal sebagai orang yang paling dekat dengan Ayub, seharusnya ia berperan menjadi penolong yang sepadan buat suaminya (Kej. 2:18).
Bercermin dari kegagalan isteri Ayub, hendaklah kita menjadi penolong di saat orang yang kita kasihi paling memerlukan kehadiran kita. Hal ini berlaku bagi seorang isteri dan juga sebaliknya, suami terhadap isterinya. Dalam segala situasi hidup, baik itu suka dan duka, sehat dan sakit atau kaya dan miskin, ingatlah selalu pesan Kristus yang disampaikan melalui hamba-Nya Rasul Paulus, “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya…” (Ef. 5:25-26). Demikian pula berlaku sebaliknya isteri terhadap suaminya.
Doa: “Ya Allah, ini hidup kami dengan pasangan kami dalam berkeluarga sesuai janji pernikahan kami!”
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 18-20; Kisah Para Rasul 4:1-22.
Untuk membaca artikel atau renungan yang lain silakan klik disini
GBI Pasir Koja 39 Bandung