HANA
1 Samuel 1:1-28
1 Samuel 1:10. “Dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu.”
Dia adalah salah seorang dari dua istri Elkana. Dia lebih dikenal sebagai ibunya Samuel; salah satu nabi Israel. Hana mandul, dan Penina, istri Elkana yang lain, menggunakan keadaan itu untuk menyakitinya. Suatu perbuatan yang kejam untuk dilakukan. Hal ini terjadi dari tahun ke tahun hingga menyebabkan kepedihan yang mendalam bagi Hana. Namun, bukannya membiarkan rasa sakit membuatnya pahit hati kepada Tuhan, Hana malah menggunakan rasa sakit hatinya sebagai sebuah katalisator untuk berdoa (1 Samuel 1:12-20).
Allah selalu mendengar doa orang benar yang disampaikan dengan kesungguhan hati (Yakobus 5:16). Hana adalah seorang pendoa. Dia mengalami apa yang kebanyakan dari kita menyebutnya “getirnya kehidupan”. Dia tidak menyerah. Dia mencari Allah. Dia mencurahkan seluruh isi hatinya kepada-Nya, dan Dia menjawab, mengabulkan keinginannya! Sesuatu telah berubah di dalam hati Hana sebelum anaknya lahir. Dia percaya kepada Allah sebelum dia melihat hasilnya.
Mungkin kita seperti Hana yang sudah kenyang mengalami getirnya kehidupan. Bila kita mau menjalani hidup seperti orang dunia, dengan mudahnya kita dapat merespon dengan kepahitan. Dengan hati yang terus mengingat kesalahan orang dan tidak mau mengampuni. Atau kita dapat memilih pilihan yang kedua seperti Hana: 1. Menjadikan kesakitan dan kegetiran menjadi penggerak doa kita. 2. Tidak menyalahkan keadaan atau orang lain atas rasa sakit yang kita alami. 3. Berserah dan menyerahkan keputusan akhir dalam tangan Tuhan.
Mengapa anak-anak Penina yang sombong tidak disebutkan dalam satu kisah pun di Alkitab? Sedangkan nama Samuel muncul puluhan kali dalam Akitab. Terbukti, bahwa apa yang kelihatan baik di mata manusia belum tentu baik di hadapan Allah, dan begitu juga sebaliknya. Marilah kita contoh kehidupan Hana yang mengandalkan Allah dan menyerahkan keputusan akhir dalam tangan Tuhan. Ia tahu yang terbaik untuk kita.
Doa: “Kami mau terus mengandalkan Engkau ya Allah, karena kami percaya kasih-Mu hebat atas kami dan rancangan-Mu selalu rancangan yang terbaik bagi kami. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung