Matius 28:16-20
Matius 28:19. ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,”
Pada tahun 1990 yang lalu, Joseph Djan memutuskan untuk pidah dari Ghana ke New York. Di kota ini Djan kemudian belajar di sebuah perguruan tinggi, Borough of Manhattan Community College (BMCC). Tapi entah mengapa Djan kemudian memutuskan untuk menjadi seorang pendeta.
Joseph Djan semula memang berprofesi sebagai seorang sopir taksi, yang bagi kebanyakan orang di Indonesia profesi ini tentunya sangat jarang diminati oleh mereka yang pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Untuk menunjang semangatnya untuk memberitakan Injil, maka Djan kembali menggeluti profesinya semula, tapi kini Joseph Djan menjadikan taksinya sebagai sebuah gereja berjalan.
Alasannya adalah sangat sederhana, dengan demikian Djan bisa berinteraksi dengan banyak orang dalam keadaan dan masalah mereka sehari-hari. Sehingga diharapkan para pelanggan taksinya dengan bebas dapat menyampaikan keluh kesah dan segala masalahnya ketika mereka sedang beraktivitas. Hal seperti itu memang seringkali tidak dapat disampaikan pada kesempatan formal. Pada kesempatan-kesempatan itulah Djan rindu untuk dapat menyampaikan solusi berdasarkan Frman Tuhan.
Seringkali kita berpikir bahwa pelayanan itu harus selalu dilakukan di lingkungan gedung gereja, padahal seorang pelayan seyogyanya selalu siap di mana pun ia berada, dan siap memberikan solusi bagi mereka yang sedang menghadapi masalah. Melalui kisah Joseph Djan, kita mau belajar untuk selalu siap siaga di manapun untuk menjadi pelayan Kristus. Tuhan Yesus memanggil kita untuk berada di tengah-tengah masyarakat, mulai dari tengah keluarga sampai ke ujung bumi, agar menjadi saksi-saksi di akhir zaman, bukan sekedar bangga menjadi pelayan di dalam lingkungan gereja. (NK).
Doa: “Tuhan Yesus, kami mau selalu siap untuk untuk memberitakan Injil Keselamatan-Mu di mana pun dan kapan pun. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung
