
PENYEMBAHAN = KEINTIMAN
Mazmur 22:23-32
Mazmur 138:2. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.
Penyembahan adalah suatu respon manusia terhadap penerimaan kehadiran kudus yang lebih penting dari aktivitas manusia normal dan bersifat kudus adanya.
Sifat dasar penyembahan adalah memberikan penyembahan kepada Allah dari bagian diri kita yang paling dalam: dalam pujian, doa, nyanyian, memberi bantuan, dan hidup selalu berdasarkan kebenaran-Nya yang dinyatakan.
Penyembahan bukanlah masalah berada di tempat yang benar pada waktu yang tepat. Penyembahan bukanlah kegiatan lahiriah yang menuntut terciptanya suasana tertentu. Penyembahan terjadi di dalam hati, di dalam roh.
Allah menciptakan manusia lebih utama untuk tujuan menyembah Dia. Panggilan untuk menyembah ini menunjukkan penyembahan sebagai prioritas universal dan satu-satunya tanggung jawab setiap orang percaya.
Penyembahan sebagai latihan spiritual kudus yang menghubungkan manusia dengan Allah melalui ekspresi hati yang mengasihi. Ini sebagai pernyataan ketergantungan kepada Allah (Rob Harbison).
Martvin E. Tate mendefinisikan penyembahan dalam Alkitab bergerak terus di antara pengalaman pribadi dan bersama. Hal ini membawa manusia masuk ke dalam hubungan keintiman dengan Allah.
Mari kita tingkatkan hubungan keintiman (penyembahan) kita dengan Bapa yang selalu mengasihi dan memperhatikan kehidupan kita, supaya kita semakin mengenal siapa Dia dengan pengalaman pribadi, bukan pengalaman orang lain.
Doa: “Bapa, aku rindu untuk semakin intim dan mengenal-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.”
Bacaan Setahun: 2 Petrus 1:11-15; 2 Timotius 2:1-7; Ratapan 5:1-22; Hosea 2
GBI Pasir Koja 39 Bandung