
KEKUATAN SENYUM
Ayub 29:1-25
Ayub 29:24. “Aku tersenyum kepada mereka, ketika mereka putus asa, dan seri mukaku tidak dapat disuramkan mereka.”
Dalam fisiologi, senyum adalah ekspresi wajah yang terjadi akibat bergeraknya atau timbulnya suatu gerakan di bibir atau kedua ujungnya, atau pula di sekitar mata. Kebanyakan orang senyum untuk menampilkan kebahagiaan dan rasa senang. Senyum itu datang dari rasa kebahagian atau kesengajaan karena adanya sesuatu yang membuat dia senyum. Saat seseorang tersenyum umumnya raut wajahnya menjadi lebih cantik, ketimbang ketika dia biasa saja atau ketika dia marah.
Ayub menggunakan senyum untuk menyatakan ketulusan kasihnya kepada sesama. Ayub tersenyum kepada orang-orang yang sedang putus asa untuk menguatkan mereka. Kepada orang-orang yang sedang berduka untuk menghibur mereka. Kepada orang-orang yang sedang patah semangat untuk membangkitkan semangat mereka. Kepada orang-orang yang lemah untuk memberi dorongan kepada mereka. Bahkan seri muka Ayub tidak dapat disuramkan oleh keadaan mereka. Artinya situasi dan kondisi tidak mampu menyuramkan senyum Ayub. Penolakan mereka, caci maki mereka, pengkhianatan bahkan kebencian orang lain kepada Ayub, tidak mampu menyuramkan senyum Ayub.
Dapatkah kita meneladani Ayub? Memberikan senyum kita untuk orang-orang yang membutuhkan senyum kita. Bahkan dapatkah kita mempertahankan senyum kita dalam keadaan suram? Kita tetap tersenyum sebagai tanda kasih kepada orang-orang yang membenci, yang memusuhi, yang mengkhianati dan yang menolak kita sekalipun. Tetap berikan senyum kita yang terbaik bagi orang-orang yang tidak mengasihi kita.
A smile is a curve that sets everything straight (Senyum adalah lengkungan yang meluruskan segala sesuatunya). Marilah kita pakai senyum kita untuk memberkati dunia.
Doa: “Kami mau tersenyum dan tidak membiarkan siapa pun atau kondisi apa pun menyuramkan wajah kami, agar sukacita-Mu dapat dirasakan dan memberkati dunia di sekitar kami, ya Allah. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung