
GORESAN TANGAN
2 Korintus 3:1-6
2 Korintus 3:6. “Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.”
Sejak tahun 1930-an, dunia mulai mengenal tentang adanya ilmu tentang Tulisan Tangan yaitu suatu cabang ilmu yang meneliti tentang tabiat dan kepribadian seseorang melalui tulisan tangannya. Pada masa Perang Dunia II di tahun 1940 an, salah seorang ahli di bidang itu adalah Dr. Charles F. Wittschiebi, sering kali mengadakan ceramah dan percobaan dalam penelitiannya di camp prajurit maupun camp tawanan perang.
Ia biasanya menyediakan satu kotak dan meminta secara sukarela beberapa orang yang bersedia menuliskan satu kalimat, di secarik kertas dan mengumpulkannya di kotak itu tanpa menuliskan nama atau identitas yang lain. Seminggu kemudian beliau akan hadir kembali untuk memaparkan hasil penelitiannya, beliau bisa memberikan analisa watak dan kepribadian para relawan secara rinci. Termasuk usaha seseorang untuk mencoba menyembunyikan watak dan kepribadian yang sesungguhnya. Ternyata hampir semua relawan membenarkan hasil analisa tentang tulisan tangan mereka.
Hingga kini, ilmu itu masih terus digunakan, baik untuk kepentingan suatu bidang pekerjaan ataupun menganalisa kepribadian para calon pemimpin masyarakat. Rasul Paulus bahkan sudah melihat secara lebih mendasar tentang kehidupan ini.
Pola, warna dan cara hidup kita secara jujur dan apa adanya mencerminkan jari siapakah yang menggores hidup kita. Apakah itu dunia ini dengan segala daya tariknya yang mendorong ambisi kita? Ataukah kekuatiran, kecemasan, kekecewaan, luka hati dan dendam? Yang membuat hari-hari dipenuhi dengan kegundahan, gelisah, kejengkelan dan geram. Ataukah jari-jari Kristus yang sedang menggoreskan firman Tuhan dan janji-Nya atas hidup kita agar penuh damai sejahtera dan sukacita. Untuk mengetahui hal itu tidak perlu harus menjadi seorang ahli. Hanya perlu perhatian dan ketulusan.
Doa: “Bapa di sorga, kami percaya kepada-Mu dan menyerahkan hidup ini ke dalam tangan-Mu. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung