Markus 11:15-19
Markus 11:15. “Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya,”
Peristiwa Tuhan Yesus menyucikan Bait Allah adalah sebuah peristiwa yang pasti menghebohkan dan fenomenal waktu itu. Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah, membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati. Ia begitu marah karena Bait Allah yang mestinya menjadi rumah doa bagi segala bangsa, tetapi kenyataannya saat itu Bait Allah menjadi sarang penyamun, yang secara tidak langsung merendahkan dan menodai kekudusan Allah.
Sebagai gereja, kita harus ingat bahwa peristiwa Tuhan Yesus menyucikan Bait Allah itu bukan peristiwa yang hanya terjadi ribuan tahun lalu, tetapi Ia masih tetap mengerjakannya hingga hari ini. Firman Tuhan mengatakan, bahwa bait Allah itu kudus dan bait Allah itu adalah kita. “Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu (1 Kor. 3:17).”
Sebagai orang percaya yang telah dikuduskan lewat darah Kristus yang tercurah di atas kayu salib, kita wajib menjaganya dengan senantiasa hidup dalam kekudusan. Kasih karunia Allah tidak membuat kita jadi bisa bebas berbuat dosa. Alkitab mengajarkan kita untuk mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar (Filipi 2:12). Bedanya, sebelum kita lahir baru, kita tidak bisa hidup kudus karena hakekat kita kala itu adalah orang berdosa. Tetapi karya keselamatan Kristus dan Roh Kudus yang kini ada di dalam kita memampukan kita untuk menang dari kuasa dosa. Bagian kita kini adalah taat akan setiap firman Allah.
Kekudusan mutlak ada dalam kehidupan kekristenan, karena Alkitab mencatat, bahwa tanpa kekudusan, maka tidak ada seorang pun yang dapat melihat Allah (Ibrani 12:24). Kalau melihat saja tidak, apalagi mengalami kuasa-Nya? Melihat-Nya saja tidak, apalagi menjadi mempelai-Nya di pernikahan Anak Domba kelak? Melihat-Nya saja tidak, apalagi menjadi rekan sekerja-Nya? Karenanya, kejarlah kekudusan!
Doa: “Ya Allah, ampuni dosa kami dan biarlah Roh-Mu terus memampukan kami untuk hidup sesuai dengan firman-Mu. Kami mau mengejar kekudusan, agar kami senantiasa dapat melihat-Mu. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung
