Renungan Harian (02 Desember 2015)

02CINTA DI TENGAH BADAI

Lukas 7:1-10

Lukas 7:9 “Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!”

Seorang pria baru saja menikah dan kembali ke rumah dengan istrinya. Mereka menyeberangi sebuah danau dengan sebuah perahu, ketika tiba-tiba badai dahsyat muncul. Pria itu seorang pemberani, tapi istrinya merasa sangat takut karena tampaknya tidak ada harapan.

Perahu itu kecil dan badai sangat kuat, sehingga setiap saat mereka bisa saja tenggelam. Tapi laki-laki itu duduk diam, tenang dan tidak tampak panik, seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa. Wanita itu gemetar dan dia berkata, “Apakah engkau tidak takut? Ini mungkin saat akhir hidup kita! Sepertinya kita tidak akan dapat mencapai pantai lainnya. Hanya keajaibanlah yang bisa menyelamatkan kita dan yang pasti datang adalah kematian. Apakah kamu tidak takut? Apa kau sudah gila atau apa?”

Pria itu tertawa dan mengambil pedang dari sarungnya. Wanita itu bahkan lebih bingung: Apa yang dia lakukan? Kemudian ia meletakkan pedang itu mendekat ke leher wanita, begitu dekat sehingga hanya berjarak tipis hampir menyentuh lehernya. Dia berkata, “Apakah kamu takut?”

Wanita itu tertawa dan berkata, “Mengapa aku harus takut? Jika pedang di tanganmu, mengapa aku harus takut? Aku tahu kau mencintaiku.”

Lelaki itu menyarungkan kembali pedangnya dan berkata, ”Aku juga tahu Tuhan mencintaku dan badai ini ada dalam kendali tangan-Nya. Jadi apa pun yang terjadi akan mendatangkan kebaikan. Jika kita selamat, itu baik. Jika kita tidak bertahan hidup, itupun baik. Karena segalanya ada di tangan-Nya dan DIA tidak akan melakukan hal yang buruk.

Lukas 7:1-10 mencatat bagaimana Yesus memuji seorang perwira karena memiliki iman yang sejati. Iman yang didasarkan atas belas kasihan kepada bawahannya, membangkitkan keyakinan dan sikap positif. Sebagaimana halnya rasa cinta istri kepada suami yang menimbulkan kepercayaan, begitulah seharusnya dasar iman orang percaya kepada Allah. Iman yang timbul karena cinta, bukan karena dorongan sugesti emosional. Dan itulah Iman Sejati. (NK).

Doa: “Kami percaya, bahwa Engkau mengasihi kami dan Engkau hanya memiliki rencana-rencana yang terbaik bagi kami. Di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.”

Check Also

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN

Renungan 31 Desember 2023

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN Renungan 31 Desember 2023 …