Ibrani 9:18-22; Imamat 17:11-18
Ibrani 9:22. “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.”
Mengapa pengampunan memerlukan penumpahan darah? Ini bukanlah ketetapan sewenang-wenang dari Allah yang seolah-olah haus darah, seperti pendapat sebagian orang. Tidak ada lambang yang lebih baik tentang kehidupan selain darah: darah membuat kita tetap hidup. Yesus mencurahkan darah-Nya, memberikan nyawa-Nya, karena dosa-dosa kita, agar karena-Nya kita tidak harus mengalami kematian rohani, perpisahan kekal dari Allah. Yesus adalah sumber kehidupan, bukan kematian. Dia memberikan nyawa-Nya sendiri untuk membayar hukuman kita supaya kita bisa hidup.
Bagaimana darah mengadakan pendamaian bagi dosa? Dalam Imamat 17:11-18, jika dipersembahkan dengan sikap benar, kurban dan darah yang tercurah darinya memungkinkan diperolehnya pengampunan dosa. Di satu pihak, darah mewakili kehidupan orang berdosa, yang diracuni oleh dosanya dan menuju kepada kematian. Di pihak lain, darah menunjukkan kehidupan yang tidak bersalah dari binatang yang dikurbankan sebagai ganti orang yang bersalah yang melakukan persembahan kurban itu. Kematian binatang tersebut (di mana darahnya menjadi bukti) memenuhi hukuman mati, itu sebabnya Allah memberikan pengampunan kepada si orang berdosa. Allahlah yang mengampuni berdasarkan iman orang yang melakukan persembahan kurban.
Bersyukur, Kritus telah menjadi perantara bagi kita saat ini untuk memperoleh pengampunan Allah. Kematian-Nya di kayu salib, di mana tubuh dan darah-Nya tercurah menjadi korban penebusan atas dosa dan pelanggaran kita. Iman Anda atas korban Yesus mendatangkan pengampunan Allah atas dosa Anda.
Doa: “Terima kasih Tuhan Yesus untuk darah-Mu yang telah tercurah bagi penebusan dosaku. Terima kasih untuk kasih-Mu yang luar biasa atasku. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung
