
Renungan 24 Desember 2022, Bacaan Alkitab Yesaya 43:1-4.
ALLAH BESERTA
Yesaya 43:1-4
Yesaya 43:2. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.
Saya mengerti sekali, bahwa bulan dan perayaan Natal justru kerap membuat kesedihan dan kesepian yang dirasakan seseorang menjadi dua kali lipat lebih terasa berat dan menyedihkan. Karena saya dan adik-adik saya pernah ada di masa-masa itu. Setiap kali Natal tiba, yang kami ingat adalah pertengkaran hebat kedua orang tua kami yang diikuti dengan perginya sosok ibu dari hidup kami. Ada juga yang sedih karena Natal mengingatkan mereka akan sosok kekasih yang telah dipanggil Tuhan dan kehadirannya sangat terasa kosong di musim ini. Korban bencana alam yang merayakan Natal di tenda-tenda pengungsian pun dapat mungkin merasakan perasaan pedih, seolah Allah tidak beserta.
Akan tetapi, kehadiran Allah di dalam hidup kita tidak ada hubungannya dengan perasaan kita. Emosi kita rentan terhadap segala bentuk pengaruh, sehingga tidak dapat dipercaya. Allah datang ke dunia di hari Natal untuk mengingatkan Anda dan saya, bahwa Dia senantiasa menyertai Anda di mana pun dan di setiap musim hidup kita. Apa pun kesulitan yang kita hadapi saat ini sehingga kita merasa sesak dalam tekanan, Allah mengetahuinya. Ia peduli dan menyertai kita melewatinya. Anda dan saya tidak sendiri!
Sejak saya menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka Natal menjadi momen yang membahagiakan. Mata saya lagi tidak tertuju pada trauma yang kami alami tetapi kepada Allah yang kini ada beserta saya.
Tidak ada seorang pun menginginkan yang terbaik bagi Anda melebihi Allah. Berpalinglah kepada-Nya!
Doa: “Tuhan Yesus, mataku tertuju pada-Mu. Terima kasih Allah Imanuel. Amin.”
Bacaan Setahun: Habakuk 1-3; Wahyu 13-14.
Renungan 24 Desember 2022, Bacaan Alkitab Yesaya 43:1-4.
24 , 24 Desember 2022, 2022, Desember, Renungan Harian
Untuk membaca artikel atau renungan yang lain silakan klik disini
Paulus mengatakan, bahwa ibadah yang sejati tak dapat dipisahkan dari konsep mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Banyak orang memahami ibadah dalam arti menghadiri kebaktian gereja, berdoa, menyanyikan pujian, dan memberikan uang persembahan, tidak salah. Lebih jauh ibadah yang sejati adalah mempersembahkan seluruh kehidupan kita. Orang-orang Kristen daripada mempersembahkan sesuatu di luar diri mereka, sebaliknya, harus mempersembahkan tubuh mereka sendiri kepada Allah sebagai korban yang hidup, kudus, dan pantas. Yang dimaksudkan adalah suatu pelayanan rohani yang melibatkan seluruh kemampuan nalar mereka.
GBI Pasir Koja 39 Bandung