
Renungan 17 Desember 2022, Bacaan Alkitab Yesaya 9:1-6.
RAJA DAMAI
Yesaya 9:1-6
Yesaya 9:5. Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
Dalam sebuah kesempatan mengikuti seminar manajemen stress, salah satu saran yang diberikan oleh pembicara dalam melepaskan stress adalah dengan menceritakan penyebab stress itu kepada pendengar sejati, dan pendengar terbaik adalah hewan kesayangan Anda. Wow, saya heran bagaimana orang mau membayar tiket seminar hanya untuk mendengarkan saran itu, padahal Alkitab memberikan solusi yang jauh lebih baik, bahkan yang terampuh.
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4:6.
Hewan kesayangan memang luar biasa, tetapi mereka tidak dapat membantu Anda menyelesaikan konflik atau masalah dalam hidup Anda yang merupakan akar dari stress yang Anda alami. Hanya Allah yang sanggup. Ia pendengar terbaik dan penolong yang setia. Ia adalah Raja Damai. Damai sejahtera hanya akan kita alami jika kita benar-benar percaya kepada-Nya. Untuk mengalami damai sejahtera, ijinkanlah sang Raja Damai itu bertakhta di dalam hati dan hidup kita.
Damai sejahtera hanya akan kita dapat bersama dan dari Allah. Saat Kristus, sang Raja Damai bertakhta dan memerintah di dalam hati dan hidup Anda, maka Anda pun pasti akan hidup dalam kerukunan dengan sesama yang mendatangkan damai sejahtera dan berkat dalam hidup Anda.
Hiduplah dalam persekutuan dengan Tuhan. Berdoa, membaca firman Tuhan dan taat untuk melakukan-Nya adalah cara Anda untuk menjadikan Kristus, Raja Damai memerintah di hati dan hidup Anda.
Doa: “Tuhan Yesus, bertakhta lah di hati dan hidup kami. Amin.”
Bacaan Setahun: Amos 1-4; Wahyu 3.
Renungan 17 Desember 2022, Bacaan Alkitab Yesaya 9:1-6.
17 , 17 Desember 2022, 2022, Desember, Renungan Harian
Untuk membaca artikel atau renungan yang lain silakan klik disini
Paulus mengatakan, bahwa ibadah yang sejati tak dapat dipisahkan dari konsep mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Banyak orang memahami ibadah dalam arti menghadiri kebaktian gereja, berdoa, menyanyikan pujian, dan memberikan uang persembahan, tidak salah. Lebih jauh ibadah yang sejati adalah mempersembahkan seluruh kehidupan kita. Orang-orang Kristen daripada mempersembahkan sesuatu di luar diri mereka, sebaliknya, harus mempersembahkan tubuh mereka sendiri kepada Allah sebagai korban yang hidup, kudus, dan pantas. Yang dimaksudkan adalah suatu pelayanan rohani yang melibatkan seluruh kemampuan nalar mereka.
GBI Pasir Koja 39 Bandung