
Renungan 05 November 2022, Bacaan Injil 2 Samuel 6:12-23
EKSPRESI CINTA
2 Samuel 6:12-23
2 Samuel 6:14. Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan.
Penyembahan itu bicara ekspresi cinta kita kepada Allah. Bagaikan seorang yang sedang jatuh cinta, pujian dan penyembahan kepada Allah mengungkapkan penghargaan dari dalam hati yang tidak dibuat-buat. Penyembahan adalah ekspresi dalam menghargai hal yang paling berharga di dalam hidup kita.
Kata dalam bahasa Inggris kuno untuk penyembahan (worship) adalah weorthscipe atau “worth-ship” (penghargaan). Menyanyi, bermain alat musik, bersujud, memuja-muja, merupakan bagian-bagian penting dari penyembahan, sebagai ekspresi kita dalam memberi penghargaan kepada Allah. Namun, musik dan lagu bukanlah inti dari penyembahan, intinya terletak pada seberapa besar penghargaan kita kepada sesuatu yang paling berharga bagi kita. Bila Allah menjadi pusat penyembahan, penyembahan itu akan hidup dengan sendirinya. Bila Allah tidak lagi menjadi pusat penyembahan kita, penyembahan itu akan mati, dan yang tertinggal adalah sekedar musik dan nyanyian belaka.
Menyembah Allah di dalam roh, berbicara tentang saat di mana roh kita terhubung dengan Allah, sehingga keraguan, keangkuhan, pemikiran tentang harga diri, rasa malu, jarak dan waktu, tidak ada satu pun di antaranya yang dapat membatasi penyembahan kita kepada Tuhan. Allah bertahta di atas penyembahan, baik dari orang-orang yang sedang terluka dan berduka, maupun orang-orang yang sedang bergirang. Bebaskanlah roh dan ekspresikan cinta kita kepada-Nya, maka kita akan mengalami berkat yang luar biasa dari penyembahan kita kepada Allah.
Doa: “Tuhan Allah, Aku mau bersorak-sorai atas kesetiaan-Mu dan menari karena sukacitaku penuh di dalam-Mu. Amin.”
Bacaan Setahun: Yeremia 23-25; 1 Timotius 6.
Renungan 05 November 2022, Bacaan Injil 2 Samuel 6:12-23.
Untuk membaca artikel atau renungan yang lain silakan klik disini
Menyembah Allah di dalam roh, berbicara tentang saat di mana roh kita terhubung dengan Allah, sehingga keraguan, keangkuhan, pemikiran tentang harga diri, rasa malu, jarak dan waktu, tidak ada satu pun di antaranya yang dapat membatasi penyembahan kita kepada Tuhan. Allah bertahta di atas penyembahan, baik dari orang-orang yang sedang terluka dan berduka, maupun orang-orang yang sedang bergirang. Bebaskanlah roh dan ekspresikan cinta kita kepada-Nya, maka kita akan mengalami berkat yang luar biasa dari penyembahan kita kepada Allah.
GBI Pasir Koja 39 Bandung