
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Filipi 2:8
Merenungkan kembali tentang Paskah (pass over), maka pemikiran kita akan diproyeksikan kembali kepada sejarah terjadinya peristiwa Paskah, saat bangsa Israel akan keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan oleh Tuhan kepada Abraham sebagai milik pusaka mereka. Di mana ketika Tuhan hendak menghukum bangsa Mesir dengan ‘membinasakan’ semua anak sulung yang ada di kota tersebut (Kel. 11:4-6; 12:12), pada saat itu Tuhan melewatkan (pass over) setiap rumah orang Israel (Kel. 12:13). Mengapa Tuhan melewatkan rumah bangsa Israel? Karena setiap ambang pintu dan ambang batas rumah dari bangsa itu diberi tanda dari darah anak domba yang dikorbankan (Kel. 12: 4,13). Tanda bahwa tanpa darah tidak ada pengampunan dosa bagi umat manusia sebagaimana Ibrani 9:22 menyatakan “hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” Demikian pula saat Kristus di kayu salib, ketika seruan pengampunan Tuhan Yesus dikumandangkan, “Ya Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:33-35).
Tuhan meluputkan bangsa Israel dari malapetaka yang akan terjadi karena ada pengorbanan, Dan Paskah ini menjadi peringatan bagi bangsa Israel secara turun temurun sebagai hari raya untuk Tuhan (Kel 12:14). Menilik kembali apa yang dicatat di dalam kebenaran firman Tuhan di kemudian hari setelah bangsa itu keluar dari tanah Mesir, maka kita akan menemukan bahwa pengorbanan binatang merupakan sesuatu yang lazim dilakukan sebagai korban penghapus dosa, korban pendamaian dan persembahan kepada Tuhan.
Beribu-ribu tahun kemudian, pengorbanan ini juga yang dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus sebagai anak domba Allah, ketika “Dia merendahkan diri-Nya, dan taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil. 2:8) untuk mengampuni manusia yang berdosa dan memperdamaikannya dengan Bapa sorgawi (Yohanes 15:13).
Sebenarnya bukan Tuhan tidak sanggup menyelamatkan manusia tanpa harus turun ke dalam dunia. Tuhan sanggup berkata kepada seseorang: “bertobatlah!” atau kepada si Rinto: “bertobatlah, jika tidak kamu akan mati,” maka saya yakin orang tersebut akan bertobat. Tapi, Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang setia dan berkelimpahan kasih karunia-Nya pada umat manusia, Dia setia kepada apa yang sudah pernah dikatakan-Nya bahwa manusia boleh mengalami pendamaian lewat pengorbanan besar, yaitu melalui diri-Nya sendiri.
Salib menjadi bukti sejarah penyelamatan umat manusia, salib membawa Tuhan Yesus pada kematian-Nya, dan pada hari ketiga setelah peristiwa Jumat Agung, yaitu kematian-Nya, sebuah berita yang menggemparkan dunia terjadi, bahwa Yesus bangkit dari kematian,dan kebangkitan-Nya menimbulkan dampak besar bagi setiap orang yang percaya pada-Nya, bahwa suatu kali kelak orang yang percaya pada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, juga akan dibangkitkan dari antara orang mati dan masuk ke dalam hidup yang kekal sampai selama-lamanya dan tidak turut mengalami hukuman kekal di neraka.
Selamat Hari Raya Paskah, 2019. Happy Easter and Christ loves you forever!
GBI Pasir Koja 39 Bandung