Pemuridan Seni yang Hilang

Karena itu pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. Matius 28:19-20.

Perintah agung (great commission) yang baru kita baca tadi adalah sebuah perintah dan bukan anjuran atau pilihan (great suggestion or option). Tuhan Yesus dengan jelas memerintahkan kita untuk menjadikan semua bangsa murid, bukan sekedar pengikut atau penggembira atau fans. Murid mengandung arti orang yang mau diajar terus menerus dan mengalami peningkatan  dalam pengenalan akan Tuhan dan pengalaman dengan Dia, ini akan menciptakan orang-orang yang bertumbuh dan berbuah, membawa dampak bagi sekitarnya. Seorang murid tentunya akan dimuridkan dan dibimbing terlebih dahulu, baru setelah itu mereka akan memuridkan orang lain, sama seperti Elia memuridkan Elisa, Paulus memuridkan Timotius, Musa memuridkan Josua, dan setelah itu mereka sanggup untuk memimpin orang lain. Suatu pola Ilahi yang sangat efektif dalam menghasilkan orang orang berkualitas. Gereja tanpa pemuridan akan kehilangan generasi penerus dan orang-orang yang memimpin. Seorang murid juga harus belajar untuk taat, tunduk dan menghormati gurunya. Tidak seperti generasi sekarang, pada generasi dulu guru sangat dihormati dan ditaati. Cerita silat menggambarkan bagaimana seorang murid mentaati gurunya bahkan kakak seperguruannya. Mereka menjunjung tinggi martabat perguruan mereka sampai mati sekali pun. Gereja kehilangan hal ini! Orang menganggap bahwa gereja hanya sekedar tempat berkumpul, tanpa ada hubungan yang  saling mengikat dan menghormati, lebih parah gereja sering dianggap hanya seperti food court. Kita bisa memilih menu yang kita mau (karena seringkali kita dapatkan ada  5 gereja berada dalam satu mall yang sama), bayar dan selesai. Ibadah hanya dianggap sebagai sebuah tontonan dan penghiburan. Gereja sejati menghasilkan murid. Billy Graham melayani  jutaan orang melalui KKR dan penginjilan masal yang luar biasa. Tapi dia melihat bahwa dari ribuan orang yang bertobat itu, yang bertahan tetap menjadi Kristen dan terus bertumbuh hanya 15% saja. Sisanya hilang. Itulah  sebabnya Ia memanggil sahabatnya Dawson Trotman untuk berdiskusi dan memutuskan, harus dilakukan sesuatu untuk menjaga hasil tuaian itu berdampak kekal. Dawson mendirikan The Navigator, pelayanan pemuridan yang sistematis dan mendunia, di Indonesia  dikenal sebagai pelayanan Para Navigator. Saya bersyukur pernah dimuridkan dalam pelayanan ini dan bersama kakak dan rekan-rekan pelayanan remaja,  menerapkan pola ini di GBI Pasirkoja 39 Bandung. Kita salah satu gereja pertama yang menerapkan pola ini di kota Bandung. Oleh karena kita harus terus melakukannya agar buah tuaian kita kekal dan berdampak luas.

Oleh: Simon irianto

Check Also

Pesan Gembala April

PASKAH

Oleh: Pdt. Dr. A. L. Jantje Haans (Gembala Sidang) Rangkaian Paskah yang dikenal dengan Tri …