PEMURIDAN SENI YANG HILANG

Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, juruselamat kita dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita, kepada Timotius, anakku yang sah dalam iman kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus Tuhan kita, menyertai kamu (1 Timotius 1:1-2).

Salah satu perkembangan teknologi dalam dunia pertanian adalah menghasilkan buah tanpa biji, misalnya melon atau semangka. Ini membuat orang merasa lebih mudah untuk menikmatinya tanpa harus repot dengan banyaknya biji yang harus disingkirkan. Praktis bukan! Sayangnya tanpa biji, buah ini jadi tidak bisa menghasilkan keturunan. Jadi buah ini bisa dinikmati setelah itu selesai.

Banyak sekali orang Kristen bahkan hamba Tuhan seperti buah tanpa biji. Mereka hidup dengan baik, melayani dengan luar biasa tetapi tidak menghasilkan keturunan ilahi yang bisa melanjutkan visi mereka. Karya mereka berhenti setelah mereka tiada. Gereja krisis kepemimpinan karena pemimpin tidak melahirkan pemimpin baru yang bisa melanjutkan karya mereka.

Ketika Tuhan Yesus ada di bumi, Dia sudah memberi contoh. Ditengah kesibukan-Nya melayani ribuan orang,  Dia tetap memprioritaskan melayani murid-Nya secara khusus, memisahkan diri dan mengajar mereka secara istimewa (Lukas 12). Mengapa? Karena masa depan dari pelayanan-Nya dipercayakan sepenuhnya pada murid-Nya. Dan sejarah membuktikan bahwa cara itu berhasil. Dunia saat itu dimenangkan oleh para murid yang menyebar dan menghasilkan murid-murid baru seperti yang ditulis dalam Kisah Para Rasul 12:24. Rasul Paulus pun mengajarkan apa yang telah didengar oleh murid-muridnya harus dipercayakan dan diajarkan kembali (2 Timotius 2:2). Suatu cara yang sangat efektif. Sayang sekali seni pemuridan ini mulai hilang dari gereja. Gereja menjadi tempat pertemuan masal dan kehilangan kontak pribadi. Jadi sekedar tempat ibadah bukan tempat melahirkan dan mendidik orang-orang yang berkualitas, padahal jelas sekali bahwa sesuatu yang berkualitas tidak pernah dibuat secara masal. Batik tulis berharga mahal karena dibuat personal, satu persatu,  berbeda dengan batik printing yang bisa diproduksi ribuan meter perhari. Jam tangan Rolex dibuat secara manual dan personal tentu harganya berbeda dengan yang diproduksi secara massal. Orang-orang berkualitas dihasilkan satu demi satu, tidak pernah  secara masal. Dunia bisnis menerapkan seni pemuridan dalam multilevel marketing, hasilnya bisnis miliaran dolar dan terus berkembang. Perusahaan asuransi, obat-obatan menerapkan personal selling dan sukses. Gereja yang telah mengetahui rahasia ini sejak dulu namun meninggalkannya, maka mereka kehilangan jemaat karena hanya mementingkan pertemuan masal dan ibadah raya. Seharusnya.gereja juga memprioritaskan pertemuan kelompok kecil yang secara intensif membahas firmanTuhan adalah kunci membangun gereja yang sehat dan berkualitas, yang pada waktunya menghasilkan pemimpin-pemimpin baru.

Oleh: Pdt. Simon Irianto

Check Also

Pesan Gembala April

PASKAH

Oleh: Pdt. Dr. A. L. Jantje Haans (Gembala Sidang) Rangkaian Paskah yang dikenal dengan Tri …