
Dalam Lukas 22, dikisahkan mengenai ketakutan Yesus yang mendalam di taman Getsemani, beberapa saat sebelum Ia diserahkan. Dalam kisah ini, dikatakan bahwa Tuhan Yesus pergi ke tempat yang biasa Ia kunjungi sendirian, yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus memiliki kebiasaan untuk sering menyendiri dan berdoa, mengajarkan kepada kita untuk berlaku seperti itu supaya kita bebas bercakap-cakap dengan Allah dan hati kita sendiri.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada para murid untuk berdoa, sekalipun ujian yang sedang datang mendekat itu tidak dapat dihindari, kita tidak boleh jatuh dalam pencobaan dan berbuat dosa. Ketika kita berada dalam ketakutan dan bahaya pencobaan, kita tidak boleh meninggalkan Tuhan Yesus, melainkan kita harus tetap berdoa supaya kita terhindar dari dosa.
Hal yang terpenting juga dalam sebuah doa, Tuhan Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya dan kepada kita, yaitu dengan menyadari bahwa sudah menjadi kehendak Bapa bila Tuhan Yesus harus menderita dan mati, karena hal itu penting bagi pertobatan dan keselamatan kita; Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa dalam kita berdoa kita harus mengutamakan kehendak Bapa yang terjadi dalam kehidupan kita, bukan kehendak kita yang terjadi.
Kemudian, Tuhan Yesus mengajarkan untuk kita tetap berjaga-jaga dan berdoa, menanggalkan kemalasan yang datang mencobai kita, supaya kita dapat berdoa, berdoalah agar anugerah Allah dinyatakan dalam kehidupan kita sehingga kita mampu mengusir kemalasan kita. Bila oleh suatu sebab dari luar atau dari dalam diri kita sendiri, kita merasa akan jatuh ke dalam pencobaan, segeralah bangun dan berdoa, memohon kasih dan anugerah-Nya untuk menolong kita dari kesesakan kita itu.
Tuhan Yesus memberikan kita sebuah keteladanan yang patut kita ikuti yaitu bahwa dalam ketakutan yang sangat Ia makin bersungguh-sungguh berdoa. Sementara penderitaan dan kesusahan semakin bertambah di dalam diri-Nya, Ia semakin teguh di dalam doa. Bukan berarti sebelum itu doa-doa-Nya dingin dan tidak bersungguh-sungguh, tetapi sekarang doa-doa-Nya menjadi semakin kuat dan teguh, yang dinyatakan dalam suara dan sikap tubuh-Nya. Hal ini ini mengajarkan kepada kita bahwa semakin hebat ketakutan kita, semakin hidup, kuat dan teguh doa-doa kita seharusnya.
Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Tuhan Yesus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis kepada Bapa, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan. Sehingga setiap musuh-musuh dalam hidup kita telah Ia taklukkan di bawah kaki-Nya dan karena kemenangan-Nya itu, Ia telah menjadikan kita menjadi umat yang lebih dari pemenang oleh Dia yang mengasihi kita. Amin.
TERIMA KASIH, TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA.
GBI Pasir Koja 39 Bandung