Misi Terhadap Generasi Millennial

Sekali lagi, saya ingin mengulas tentang generasi Millennial berkenaan bulan Oktober adalah bulan Misi GBI. Siapa itu generasi Millennial? Mengapa generasi ini penting? Bagaimana sih kehidupan mereka?

Dalam studi demografi, secara ringkas dikenal ada 4 jenis generasi, yaitu: generasi baby boomers (lahir pada tahun sebelum 1960an), generasi X (kelahiran 1961 – 1980), generasi Y – millennial (kelahiran 1981 – 2000 an), generasi Z (kelahiran 2001 – sekarang). Lalu mengapa generasi Millennial menjadi pusat perhatian? Bonus Demografi adalah jawabannya. Selain jumlah mereka yang cukup banyak, konsentrasi kependudukan dan gaya hidup mereka yang cukup berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Dalam hal jumlah, 35% penduduk Indonesia di tahun 2015 adalah penduduk muda usia 15-34 tahun, pulau Jawa adalah lumbung generasi Millennial, dan Jawa Barat adalah propinsi dengan jumlah penduduk terbesar setelah DKI Jakarta. Teknologi dan informasi adalah gaya hidup yang sangat melekat pada generasi millennial. Pada tahun 2016 generasi ini (usia produktif) mencapai total 66,31% jumlah pendduk Indonesia. Dengan kemampuan daya beli yang cukup, pendidikan yang cukup, dan pemikiran kritis yang tinggi, kelompok ini dapat menjadi motor penggerak perubahan secara sosial ekonomi. Pertumbuhan segala aspek khususnya ekonomi di tangan generasi ini khususnya melalui jejaring internet sangatlah menjanjikan, generasi ini memiliki angka potensi yang sangat tinggi bagi perkembangan ekonomi di Indonesia.

Bagaimana cara mengelola potensi mereka yang sangat luar biasa ini?” Adalah suatu kebodohan jika gereja harus kehilangan generasi ini hanya karena tidak mengenal mereka.  Sekali lagi, siapakah mereka sehingga gereja harus mengenal mereka?

Ciri dan karakter generasi ini, mereka adalah generasi yang connected – kemampuan generasi ini untuk memiliki relasi dengan banyak individu karena kemajuan teknologi dan informasi. mereka juga adalah generasi yang creative – wawasan dan daya imajinasi memungkinkan mereka mencipta dan berdaya saing tinggi, mereka juga adalah generasi yang confidence – percaya diri, berani mengambil keputusan dan resiko, berani menabrak peraturan, industrialisasi membuat mereka fokus pada pendidikan umum dan membuat  pendidikan agama tersingkir, pemahaman agama pun menjadi dangkal sehingga terjadi degradasi iman percaya akan Kristus.

David Kinnaman dalam buku “You Lost Me” (You Lost Me: Mengapa Orang Kristen Muda Meninggalkan Gereja dan Memikirkan Ulang tentang Iman Mereka, Bandung: Visi Anugrah Indonesia), menggambarkan degradasi iman generasi millennial. Barna Group mencatat bahwa ada penurunan aktifitas keagamaan pada orang muda usia 15-39 tahun, ada penurunan pengaruh nilai kekristenan di ranah sosial. Tentu banyak aspek yang mempengaruhi hal tersebut, Kinnaman merangkumnya dengan sangat baik dalam buku tersebut. Ada 6 hal yang dicantumkan disana:

  1. Over Protektif

Gereja dipandang sebagai institusi yang sangat protektif terhadap pengikutnya. Generasi muda merasa terlalu dilindungi oleh gereja, dan tidak jarang dengan rasa ketakutan.

  1. Dangkal

Fakta yang menarik adalah adanya tren pelayanan anak muda yang hanya fokus pada kuantitas tanpa melihat kedalaman (kualitas) iman mereka. Tidaklah salah menjadi besar, asalkan kualitas mengiringinya.

  1. Anti Ilmu Pengetahuan

Hanya 1% hamba Tuhan yang membahas isu ilmu pengetahuan di gereja. Kinnaman mengusulkan adanya tipe pemuridan yang ilmiah, yang merelasikan panggilan iman dan pekerjaan khususnya yang berkaitan dengan bidang ilmiah.

  1. Represif

Contoh: Seks seringkali tabu untuk dibahas dalam ruang lingkup gereja. Pandangan tersebut berakibat pada 25% anak muda merasa tidak perlu mengikuti aturan gereja dalam hal seks, 21% anak muda menginginkan kebebasan di luar gereja, 17% anak muda merasa terhakimi di gereja, dan 12% memiliki kehidupan ganda. Mayoritas dari mereka terputus hubungan dengan gereja dalam pandangan seksual, mereka menganggap bahwa pandangan seks gereja sangatlah terbelakang.

  1. Eksklusif

Eksklusif menjadi masalah tersendiri bagi gereja. Kenyataan bahwa akses generasi muda kepada teologi dan agama lebih luas daripada generasi sebelumnya, membawa generasi ini memiliki ruang lingkup pertemanan berbeda agama yang luas pula. Budaya postmodern sangatlah berpengaruh, budaya mempertanyakan segala sesuatu telah dipraktekan oleh generasi millennial.

  1. Sempurna

Ada bayang-bayang keraguan secara intelektual dan institusional terhadap agama. Generasi millennial merasa bahwa ada pertentangan antara iman dan keraguan, tidak didapatinya jawaban di dalam gereja telah membuat generasi ini bertindak sendiri untuk menyelesaikannya.

Generasi millennial bukanlah generasi teori saja atau khayalan atau data, generasi ini memiliki potensi yang luar biasa. Mari, gereja harus peduli terhadap mereka. Gereja harus merancang sebuah program untuk menjangkau generasi millennial ini. Generasi ini membutuhkan kepemimpinan yang riil bukan sekedar teori, memerlukan kepemimpinan dengan nilai moralitas dan sosial yang tinggi (kualitas bukan hanya sekedar kuantitas).

Oleh: Zeffry

 

Check Also

Kesaksian Jawa Tengah

KESAKSIAN JAWA TENGAH

Oleh: Indri Haans Agnecia: Arti melayani yang Sesungguhnya untuk saya pribadi adalah Kasih yang nyata, …