Misi Kalteng

misi-KaltengSenin, 28 Maret 2016 merupakan hari yang luar biasa bagi saya karena dapat mengikuti perjalanan misi Kalimantan yang di luar pikiran saya, bersama dengan Pdt. Simon, Pdm. Tonny, Ferry St, Indri dan Bertha. Pukul 04.30 kami berkumpul di rumah Pdt. Jantje, didoakan agar siap dalam pelayanan misi ini. Pukul 06.00 kami berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta, sesampainya di bandara Tjilik Riwut – Palangkaraya kami dijemput Pdt. Dodi, Pdm. Daud, dan Berti lalu kami pergi ke rumah Pdt. Dodi untuk makan siang di sana. Setelah istirahat, pukul 18.00 kami melayani di ibadah KKR dengan firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Simon.

Selasa pagi, 29 Maret kami menuju desa Antang Kalang, dua mobil Kijang dan satu mobil Ranger penuh dengan tas dan obat-obatan. Sepanjang jalan kiri kanan kulihat saja banyak pohon kelapa sawit (bukan pohon cemara), cukup membosankan tetapi kami menikmati dengan tawa canda. 8 jam dengan kondisi  jalan yang cukup parah, adalah pengalaman baru buat saya, menegangkan di usia tak muda lagi tapi tidak berarti kalah dengan yang muda-muda. Semangat dan kekuatan  saya dapat dari Tuhan. Tiba di Desa Antang Kalang disambut hujan deras, puji Tuhan semua sukacita penuh gairah siap melakukan tugas masing-masing.

Pelayanan KKR dimulai pukul 19.30 yang seharusnya pukul 18.00 karena cuaca buruk dan jalan berlumpur yang tidak memungkinkan banyak masyarakat hadir. Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Simon, dan masyarakat tampak begitu haus akan firman Tuhan. Rabu, 30 Maret pelayanan dilanjutkan ke desa berikutnya dengan menyeberangi sungai untuk pemeriksaan kesehatan oleh dokter Agus yang cool dan mahal senyum (pengaruh udara panas). Sementara kami berbagi tugas untuk menyiapkan obat sesuai resep dokter, yang lain mendoakan masyarakat yang datang. Dalam keadaan sakit siapapun mau didoakan, biarlah nama Yesus yang mereka dengar satu saat akan menjadi Tuhan dan Raja dalam hidup mereka. Di akhir acara semua sehati mendoakan rumah yang dipakai juga buat ibadah supaya bertumbuh dan banyak jiwa datang mencari Tuhan.

Desa selanjutnya adalah desa Buana Mustika. Semula kami mengira desa ini bernama desa Curly tetapi ternyata salah besar karena Curly itu adalah nama ibu gembala, nama desanya Buana Mustika (ampun..ampun). Maaf ya bu, salah informasi dari sananya. Membutuhkan waktu ± 4 jam untuk tiba di Desa Buana Mustika, ini benar-benar perjalanan yang tak terlupakan karena off road dan di tempat itu babi-babi bebas berkeliaran di tengah jalan. Pdt. Dodi yang cukup tangguh mengendarai harus memperhatikan jalan dan babi-babi itu dengan baik dan kami tidak perlu turun dari kendaraan. Sampai di sana kembali hujan turun dengan derasnya. Sandal-sandal menjadi tebal dan berat oleh lumpur, ada yang terpaksa harus ditinggalkan karena putus. Ibadah sore di gereja dengan lantai tanah, tapi gembala dan jemaatnya penuh sukacita karena masih ada tempat ibadah. Tempat seperti itu tidak akan kita temukan di kota Bandung, kita patut bersyukur. Firman Tuhan disampaikan oleh Pdm. Tonny. Berta, saya, Berti melayani Sekolah Minggu di rumah Ibu Curly, yang dihadiri 20 anak. Saya benar-benar terharu melihat anak-anak begitu antusias memuji Tuhan dan  mendengarkan firman Tuhan. Semua rasa capek hilang karena ada anak-anak yang mau membuka hati untuk Tuhan, tempat tak menghalangi kuasa Tuhan bekerja.

Esok harinya pagi-pagi saat mau mandi, airnya begitu kuning sekali seperti lumpur karena hujan semalam. Jujur saya sempat kaget takut gatal-gatal mandi pakai air seperti itu, sekali lagi saya pribadi diajar untuk sadar inilah misi, saya pun mandi dan tidak apa-apa. Pemeriksaan kesehatan di balai desa, yang datang berobat banyak dari Jawa Barat dan Jawa Tengah karena ini daerah transmigrasi. Keluarlah bahasa Sunda, bahasa Jawa (hehe). Biarlah mereka merasakan dan bisa melihat kasih Tuhan melalui pelayanan misi ini. Selesai makan siang kami menuju Desa Pundu, bersyukur tidak harus melewati jalan waktu datang, tapi lewat perkebunan sekalipun tidak mulus juga. Ibadah dimulai pukul 18.00. Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Simon, juga disertai dengan pelayanan Sekolah Minggu. Firman yang meneguhkan jemaat untuk tetap percaya dan setia pada Tuhan Yesus saja.

Sebelum kembali ke Palangkaraya kampung tengah kembali diisi dengan lontong (lupa namanya) tapi mantap deh. Siap-siap untuk besok kembali ke Bandung. Sangat lega rasanya, karena rasanya saya tidak malu-maluin Pdt. Simon dan Ibu Indri yang mengikutsertakan saya di misi ini, juga Ferry tidak perlu menuntun saya (hahaha). Saya bukan saja menerima berkat rohani tapi juga berkat kesehatan dan kekuatan Dia sediakan, penyertaan Tuhan luar biasa, Yesusku dahsyat. Di sana bisa melayani Sekolah Minggu, membantu Liana, ikut ibadah, sangat-sangat kompak dan selalu menghargai satu dengan yang lain.

Tibalah hari yang ditunggu-tunggu, Jumat 1 April kembali ke Jakarta dan langsung dilanjutkan ke Bandung. Capek tapi menyenangkan dan makin menyadari kita harus punya hati Tuhan karena banyak jiwa-jiwa di luar sana yang tidak tahu arah hidupnya.

Terima kasih buat GBI Pasirkoja dan semua yang sudah mendukung pelayanan misi Kalimantan ini. Terima kasih juga buat Pdt. Dodi dan keluarga serta semua hamba-hamba Tuhan di Palangkaraya, juga untuk Liana dan keluarga. Sampai jumpa di misi berikutnya. Tuhan memberkati.

Oleh: Hilda Kurniawan

Check Also

Artikel Ibadah awal tahun 2026 copy

IBADAH AWAL TAHUN 1 Januari 2026

Oleh: Dedy Gunawan (Koordinator Komisi Kompas) Puji syukur kepada Tuhan Yesus,  Kamis, 01 Januari 2026, …