“MENANGKAN SATU JIWA BERAPA PUN HARGA YANG HARUS DIBAYARKAN” adalah sebuah slogan yang sering kita dengar, baik dalam khotbah maupun dalam seminar-seminar Misi/ PI atau di kalangan orang-orang Kristen yang memiliki semangat Misi/ PI. Misi/ PI tidak cukup hanya dilengkapi dengan semangat yang berkobar-kobar tetapi juga harus disertai dengan ketulusan hati dalam berkorban. Ketika saya terlibat secara langsung sebagai pelaksana misi dari GBI Pasirkoja 39 Bandung, untuk menjalankan Amanat Agung Yesus Kristus. Ketika berada di ladang Misi hingga saat ini saya mulai menyadari bahwa tidak ada misi tanpa pengorbanan, bahkan kadangkala kita harus rela kehilangan hal-hal yang kita anggap berarti.
Pada tanggal 7 Februari 2013, ketika berada di ladang misi di Kalimantan Tengah. Untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di desa Tumbang Bemban (daerah pedalaman Kalimantan Tengah), dengan semangat yang berkobar-kobar saat itu ditambah lagi dengan satu pesan yang dikirim oleh Ibu Gembala (Ibu Indri), melalui SMS “MENANGKAN SATU JIWA BERAPA PUN HARGA YANG HARUS DIBAYARKAN”, pesan ini begitu tertanam kuat dalam ingatan saya, sehingga dengan penuh semangat saya mulai menetapkan target-target khusus dalam pelayanan anak dengan kegiatan yang melibatkan anak-anak baik Islam, Hindu dan Kristen, sehingga dengan yakin saya mengatakan saat itu bahwa 75% anak-anak di desa Tumbang Bemban telah menerima Tuhan Yesus secara peribadi. Semangat dalam pelayanan terus berkobar, namun seiring dengan itu saya diperhadapkan dengan masalah yang cukup berat yaitu ketika saya harus kehilangan ayah satu-satunya yang saya cintai. Peristiwa itu cukup mematahkan semangat, selepas dari peristiwa itu saya berusaha untuk menghindar dari pelayanan misi di Kalimantan dan kembali ke Ternate agar bisa menjaga dan merawat Ibu yang ditinggalkan, namun dalam satu kesempatan pertemuan dengan Pak Simon Irianto dan Pak Dodi Ramosta Sitepu bersama beberapa hamba Tuhan lainnya saya ditantang untuk kembali mengambil bagian dalam pelayanan misi di Kalimantan Tengah. Setelah beberapa bulan saya mulai kembali melayani di Tumbang Bemban, pada tahun 2015, Ibu saya juga dipanggil Tuhan, saya memiliki suasana hati yang tidak bisa dimengerti oleh orang lain di saat itu kecuali Tuhan. Namun kedaulatan Allah ada di atas segalanya, “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:9). Saat itu yang paling saya khawatirkan adalah ketika kehilangan orangtua, tetapi itulah yang terjadi di saat saya sedang berada di ladang misi. Dan masih banyak hal-hal lain yang terjadi di lapangan yang selalu berada di luar dugaan.
Berbicara tentang misi penginjilan kita dapat belajar dari beberapa tokoh dalam Alkitab yang memiliki semangat misi yang patut kita teladani. Di antaranya adalah Yesus Kristus sebagai tokoh utama dalam misi pemberitaan Injil Keselamatan dengan tidak memperhitungkan apapun dan mengorbankan segala sesuatu untuk Injil itu bahkan nyawa Dia korbankan agar kita yang berdosa diselamatkan dan yang terhilang ditemukan kembali, Simon Petrus, Yohanes, Rasul Paulus dan yang lainnya melakukan tugas yang sama yaitu memberitakan Injil Keselamatan yang telah diperintahkan oleh Tuhan Yesus dengan penuh kerelaan. mereka seperti “seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.” (2 Timotius 2:4).
Dalam Kisah Para Rasul 1:10-11, ketika Tuhan Yesus terangkat ke surga, para murid memandang ke atas melihat keagungan yang telah Tuhan nyatakan. Namun, pandangan mereka harus kembali ke bawah karena ada tugas yang telah menanti, yaitu melanjutkan misi penyelamatan-Nya bagi semua orang di bumi. Bukan hanya para murid, saat ini kita juga diundang untuk ambil bagian dalam melanjutkan misi penyelamatan Tuhan Yesus Kristus sesuai dengan panggilan kita masing-masing.
Yesus Kristus telah memulai letupan gerakan pengutusan ini, dan semua murid-Nya ditugaskan untuk terus melanjutkannya. Segala wibawa dan kuasa surga ada pada kita ketika kita pergi untuk menjalankan misi atau pengutusan ini kepada orang lain, entah di lingkungan sekitar tempat tinggal kita atau satu daerah yang jauh (Mat. 28:18-20). Seperti Tuhan Yesus, kita juga seorang yang diutus!
“Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.”(Yoh.17:18)
Oleh: Berti Sungi
GBI Pasir Koja 39 Bandung