MISI

Care Cell Okt
Oleh: Pdm. N. Tonny Saputra

I. Jiwa Terdekat (Mazmur 133; 1 Timotius 5:8)
Kalau kita berbicara tentang misi, sering kali pikiran kita langsung pergi jauh: pergi ke bangsa-bangsa, pergi ke daerah terpencil, pergi memberitakan Injil, menjadi misionaris, atau melakukan pelayanan besar. Misi tidak selalu dimulai dari tempat yang jauh. Misi sering kali dimulai dari jiwa yang paling dekat. Misi bukan hanya tentang ke mana kita pergi, tetapi tentang bagaimana kita hidup di mana Tuhan menempatkan kita.

1. Misi Dimulai Dari Orang Yang Tuhan Tempatkan Paling Dekat
Mazmur 133 berbicara tentang indahnya hidup bersama dalam persatuan. Pemazmur berkata: “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” Ini bukan sekadar berbicara tentang suasana yang menyenangkan. Persatuan adalah sesuatu yang sangat berharga di hadapan Tuhan. Karena kasih kepada sesama paling nyata justru ketika kita hidup bersama dengan orang lain. Mungkin misi pertama kita adalah keluarga, pasangan, anak, orang tua, teman kerja yang setiap hari berinteraksi dengan kita. Bisa jadi Tuhan sedang membuka ladang misi tepat di depan mata kita.

2. Kasih Sejati Bukan Hanya Diucapkan Tetapi Dibuktikan Melalui Tindakan
1 Timotius 5:8 Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.
Kita tidak boleh memisahkan kehidupan rohani dari kehidupan sehari-hari. Tuhan juga melihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang terdekat kita. Karena itu, love in action adalah ketika kasih kepada Tuhan diterjemahkan menjadi tindakan kepada manusia. Kasih kepada keluarga kadang-kadang keluarga tidak membutuhkan ceramah panjang. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang berkata: “Saya ada untuk kamu.” Ada keluarga yang tinggal serumah, tetapi secara hati sudah berjauhan. Jangan hanya tinggal serumah; belajarlah hidup dalam kasih.

3. Jadikan Orang Terdekat Sebagai Ladang Misi
Misi tidak selalu membutuhkan panggung. Misi membutuhkan hati. Misi tidak selalu membutuhkan mikrofon. Misi membutuhkan kehidupan yang menjadi kesaksian. Kita memiliki tempat kerja, lingkungan, komunitas, teman relasi bisnis dan semua itu adalah ladang misi. Tuhan telah menempatkan kita di sana dengan sebuah tujuan. Dan ketika Tuhan membuka pintu, beritakanlah tentang Kristus. Tujuan misi adalah supaya seseorang mengalami kasih Tuhan dan mengenal Kristus.

Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
1. Siapakah “jiwa terdekat” yang Tuhan sedang taruh dalam hati saat ini? Mengapa merasa Tuhan mengingatkan kepada orang tersebut?
2. Selama ini, apakah orang-orang terdekat lebih banyak mendengar berbicara tentang kasih, atau benar-benar mengalami kasih melalui Tindakan?
3. Dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, atau bisnis, tindakan kasih konkret apa yang dapat dilakukan minggu ini?

II. Mission of God + Mission of Man = Commission
Dipanggil untuk Menggenapi Amanat Tuhan (Matius 28:19-20; Kisah Para Rasul 1:1-8)
Kalau mendengar kata “misi”, apa yang langsung muncul dalam pikiran kita? Mungkin ada yang berpikir tentang pergi ke pedalaman. Ada yang berpikir tentang menjadi misionaris. Ada yang berpikir tentang berkhotbah kepada orang banyak. Ada yang berpikir tentang pergi ke bangsa-bangsa. Semua itu benar. Tetapi hari ini kita akan melihat bahwa misi bukan pertama-tama tentang apa yang manusia kerjakan untuk Tuhan. Misi dimulai dari apa yang Tuhan sedang kerjakan bagi manusia. Ini penting! Karena kalau kita memandang misi hanya sebagai pekerjaan manusia, kita akan cepat lelah. Tetapi kalau kita memahami bahwa Allah lebih dahulu memiliki misi, maka perspektif kita berubah. Kita bukan memulai pekerjaan Tuhan. Kita sedang masuk ke dalam pekerjaan Tuhan yang sudah lebih dahulu dimulai-Nya.

1. Mission of God: Misi Dimulai Dari Hati Allah Bagi Dunia
Sebelum kita berbicara tentang misi manusia, kita harus terlebih dahulu memahami hati Allah. Karena misi manusia tidak pernah bisa dipisahkan dari misi Allah. Allah adalah Allah yang mencari. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, Allah datang mencari manusia. Kita melihatnya sejak Kejadian. Manusia bersembunyi. Tetapi Allah bertanya: “Di manakah engkau?” Bukan karena Allah tidak tahu lokasi Adam. Allah tahu. Tetapi Allah sedang menyatakan hati-Nya: Allah mencari manusia yang terhilang. Itulah Mission of God. Allah tidak tinggal diam melihat manusia terpisah dari-Nya.

2. Mission of Man: Setiap Orang Percaya Dipanggil Untuk Ambil Bagian
Yesus berkata: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku…” Perhatikan kata: “Kamu.” Bukan hanya pendeta. Bukan hanya penginjil. Bukan hanya misionaris. Bukan hanya pemimpin gereja. Kamu. Artinya setiap orang percaya memiliki bagian dalam misi Tuhan. Yang bekerja di kantor memiliki ladang misi, yang menjalankan bisnis memiliki ladang misi, Ibu rumah tangga memiliki ladang misi, Anak muda memiliki ladang misi, Guru memiliki ladang misi, Pengusaha memiliki ladang misi, Mahasiswa memiliki ladang misi, Orang yang melayani di gereja memiliki ladang misi.

3. Commission: Dipanggil Untuk Menggenapi Amanat Tuhan
Yesus berkata: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…” Ini disebut Amanat Agung. Perhatikan bahwa Yesus tidak hanya berkata: “Pergilah.” Ada tujuan: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Jadi misi bukan sekadar membuat orang datang ke gereja. Misi adalah membawa orang kepada Kristus dan menolong mereka bertumbuh sebagai murid. Dan ini bukan tugas eksklusif segelintir orang. Ini adalah Commission panggilan yang dipercayakan kepada seluruh gereja dan setiap orang percaya. Commission berarti Kita Diutus. Kata “commission” mengandung gagasan tentang seseorang yang menerima mandat untuk menjalankan tugas tertentu. Ketika Yesus memberikan Amanat Agung, kita bukan hanya menerima informasi. Kita menerima mandat.

Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
1. Setelah memahami Mission of God, bagaimana pandangan kita tentang misi berubah? Mengapa penting memahami bahwa misi dimulai dari hati Allah, bukan dari usaha manusia?
2. Selama ini, apakah lebih banyak mengetahui tentang misi atau sudah benar-benar terlibat dalam misi? Apa yang menjadi penghalang terbesar?
3. Di antara keluarga, tempat kerja, lingkungan, komunitas, bisnis, dan pertemanan, di mana Tuhan sedang memberikan ladang misi yang paling nyata saat ini?

III. Misi Dan Vocational Calling
Profesi Sebagai Panggilan Untuk Menggenapi Rencana Allah
(Efesus 2:1-10; Kolose 3:5-25)

Saya mau mulai dengan satu pertanyaan sederhana: “Mengapa kita bekerja? Jawabannya mungkin bermacam-macam. Ada yang berkata: “Untuk mencari nafkah.”, Untuk membayar cicilan.”, “Untuk memenuhi kebutuhan keluarga.”, “Untuk masa depan anak.”, “Untuk mencapai kesuksesan.”, “Untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik.” Semuanya benar. Tetapi saat ini kita akan melihat sesuatu yang jauh lebih dalam. Orang percaya tidak hanya bekerja untuk hidup. Orang percaya bekerja karena hidupnya memiliki panggilan Tuhan. Pekerjaan bukan hanya tempat kita mendapatkan gaji. Pekerjaan adalah salah satu tempat di mana iman kita diuji, karakter kita dibentuk, dan Kristus dinyatakan. Kita sering memisahkan kehidupan menjadi dua bagian: Hari Minggu adalah milik Tuhan. Hari Senin sampai Sabtu adalah urusan pekerjaan.

1. Kita Diselamatkan Untuk Melakukan Pekerjaan Baik Yang Tuhan Siapkan
Efesus 2:8-10 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman… itu bukan hasil pekerjaanmu…” Kemudian ayat 10 berkata: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.” Ini sangat penting. Kita tidak diselamatkan oleh pekerjaan baik. Tetapi kita diselamatkan untuk melakukan pekerjaan baik. Jangan dibalik. Kita tidak bekerja supaya Tuhan menerima kita. Kita bekerja karena Tuhan sudah menerima kita di dalam Kristus. Kita tidak melayani supaya mendapatkan keselamatan.

2. Kita Dipanggil Membawa Karakter Kristus Ke Dalam Pekerjaan
Kolose 3 memberikan gambaran yang sangat kuat tentang kehidupan baru di dalam Kristus. Paulus mulai dengan berbicara tentang perubahan hidup. “Matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi…” Kemudian berbicara tentang: kemarahan, geram, kejahatan, fitnah, perkataan kotor, dusta. Mengapa? Karena ketika seseorang hidup dalam Kristus, cara hidupnya harus berubah. Dan perubahan itu tidak berhenti di gereja. Perubahan itu masuk ke tempat kerja, masuk ke kantor, masuk ke ruang rapat, masuk ke bisnis, masuk ke relasi professional, masuk ke cara kita mengambil keputusan.

3. Kita Bekerja Bukan Hanya Untuk Keberhasilan, Tetapi Untuk Kemuliaan Tuhan
Kolose 3:23 “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Ini adalah prinsip yang sangat kuat. “Seperti untuk Tuhan.” Bukan berarti kita tidak menghormati atasan, bukan berarti pelanggan tidak penting, bukan berarti target tidak penting, bukan berarti kualitas tidak penting. Justru sebaliknya. Karena kita bekerja untuk Tuhan, maka kita harus bekerja dengan sebaik-baiknya, kita bekerja dengan sungguh-sungguh, kita bertanggung jawab, kita menjaga kualitas, kita menghormati waktu, kita memenuhi janji, kita menjaga kepercayaan, kita memberikan pelayanan terbaik. Mengapa? Karena pada akhirnya: Bos tertinggi kita adalah Tuhan. Ini kesempatan yang Tuhan percayakan kepada saya.

Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel.
1. Selama ini bagaimana memandang pekerjaan: sebagai sumber penghasilan, karier, kewajiban, atau panggilan Tuhan? Apa yang berubah setelah mendengar firman ini?
2. Efesus 2:10 mengatakan bahwa kita diciptakan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah. Bagaimana ayat ini berhubungan dengan profesi yang sedang dijalani?
3. Nilai Kristiani apa yang paling sulit untuk dipertahankan di lingkungan kerja: integritas, kejujuran, kasih, kerendahan hati, kesabaran, atau lainnya? Mengapa?

IV. Passion of God + Passion of Man = Compassion
Ketika Hati Tuhan Bertemu dengan Hati Manusia, Lahir Belas Kasihan bagi Dunia
(Matius 9:35-38; Kolose 3:5-17)

Saya mau mulai dengan sebuah pertanyaan sederhana: “Apa yang terjadi ketika kita melihat orang lain sedang mengalami kesulitan? Ada orang yang langsung berkata: “Kasihan ya.” Ada yang berkata: “Semoga Tuhan menolong.” Ada yang melihat sebentar, lalu berjalan terus. Ada juga yang berkata: “Bukan urusan saya.” Mengapa respons kita bisa berbeda? Karena yang menentukan respons kita bukan hanya apa yang kita lihat dengan mata, tetapi apa yang ada di dalam hati kita. Dua orang dapat melihat pemandangan yang sama. Yang satu melihat masalah. Yang lain melihat kesempatan untuk menolong. Yang satu melihat orang yang merepotkan. Yang lain melihat jiwa yang sedang membutuhkan kasih.

1. Melihat Seperti Tuhan Melihat
Matius 9:36 “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka…” Perhatikan urutannya. Yesus melihat. Kemudian: Yesus tergerak. Lalu: Yesus bertindak. Ini sangat penting. Karena sering kali masalah kita bukan tidak ada kebutuhan. Masalahnya adalah kita tidak lagi melihat kebutuhan itu dengan hati Tuhan. Gereja tidak dipanggil hanya untuk berkumpul, gereja dipanggil untuk menjadi tangan dan kaki Kristus. Kita tidak dipanggil hanya untuk menikmati hadirat Tuhan. Kita dipanggil untuk membawa hadirat kasih Tuhan kepada dunia.

2. Merasakan Seperti Tuhan Merasakan
Matius 9:36 “…tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka…” Kata ini menunjukkan sebuah respons hati yang dalam. Yesus tidak hanya mengetahui keadaan mereka. Yesus merasakan penderitaan mereka. Inilah compassion. Belas kasihan bukan sekadar berkata: “Kasihan.” Belas kasihan adalah ketika penderitaan orang lain menyentuh hati kita sehingga kita terdorong untuk melakukan sesuatu.
3. Bertindak Seperti Tuhan Menghendaki: Compassion Harus Menjadi Misi
Matius 9:37-38 “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Perhatikan. Yesus melihat orang banyak. Hati-Nya tergerak. Kemudian Yesus berbicara tentang: tuaian. Ini berarti belas kasihan Yesus menghasilkan misi. Hati yang tergerak harus menghasilkan kaki yang berjalan. Tangan yang menolong. Mulut yang bersaksi. Hidup yang melayani.

Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel.
1. Dari Matius 9:35-38, apa yang paling kuat berbicara kepada tentang hati Yesus terhadap manusia yang lelah, terlantar, dan membutuhkan pertolongan?
2. Apakah ada area dalam kehidupan dimana hati mulai menjadi dingin atau kurang peduli terhadap kebutuhan orang lain? Apa penyebabnya?
3. Siapakah orang di sekitar yang mungkin selama ini dilihat hanya sebagai “masalah”, “orang sulit”, atau “orang yang merepotkan”, tetapi Tuhan sedang mengajar untuk melihatnya sebagai jiwa yang dikasihi-Nya?
4. Kolose 3:12 berkata agar kita mengenakan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” Dari lima karakter tersebut, mana yang paling perlu ditumbuhkan saat ini? Mengapa?

 

Check Also

Care Cell copy

PUJIAN PENYEMBAHAN

Oleh: Pdm. N. Tonny Saputra I. Pujian Sebagai Senjata Rohani. Kisah Para Rasul 16:25-34; 2 …