
Dalam Yakobus 3:9-12 ini, kita diajar untuk merenungkan bagaimana menggunakan lidah di dalam liturgi agama dan dalam melayani Allah. Dengan perenungan ini, kita juga diajar bagaimana menjaga lidah supaya tidak mengutuk, mencela, dan melakukan apa saja yang jahat pada kesempatan-kesempatan lainnya. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi (Yak. 3:9-10).
Jika kita memuji Allah sebagai Bapa kita, seharusnya itu mengajar kita untuk berbicara yang baik mengenai orang lain dan juga ramah kepada sesama kita yang diciptakan oleh Allah menurut gambar-Nya. Lidah yang menyapa Allah dengan rasa hormat harus tetap dijaga dengan baik dan benar, supaya jangan digunakan untuk mencerca dan mencaci maki sesama kita. Kesalehan hidup kita dipermalukan jika hanya dipamerkan tanpa ada kasih di dalamnya. Kita menyangkal diri kita sendiri jika pada suatu waktu kita berlagak memuja Allah dengan segala kebesaran-Nya, sementara di lain waktu kita mengutuk dengan kata-kata yang tidak baik.
Dari penjelasan yang Allah nyatakan dalam Yakobus 3:9-12 di atas, marilah kita mempergunakan perkataan kita yang disertai dengan perbuatan yang mendatangkan berkat bagi bangsa dan kota di mana kita berada. Jika mengaku diri kita sebagai orang yang telah dibenarkan oleh Tuhan Yesus Kristus, tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan firman-Nya. Dan sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, pasti tidak akan pernah membiarkan dirinya mengalami pertentangan dalam hatinya entah melalui perkataan maupun perbuatannya.
Dengan menjaga perkataan dan perbuatan, sesungguhnya kita sedang mencegah banyak dosa yang akan terjadi. Serta dengan menjaga perkataan dan perbuatan, kita juga membuka pintu untuk sesama kita di bangsa ini yang mendengarnya untuk kembali bertobat dan memuliakan nama Tuhan Yesus. Jika kita senantiasa setia untuk menjaga diri sendiri melalui perkataan dan perbuatan, hal itu akan membuat diri kita semakin teguh dalam Tuhan Yesus dan menjadi terang dan garam bagi bangsa dan kota di mana kita berada.
Lebih lanjut, Tuhan Yesus mengatakan dalam Matius 12:36, bahwa setiap perkataan sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya. Hal ini menunjukkan, bahwa Allah memperhatikan setiap kata yang kita ucapkan, bahkan perkataan yang tidak kita perhatikan. Perkataan yang sia-sia, dan yang kasar itu merupakan buah dari hati yang sombong dan tidak sungguh-sungguh di dalam Tuhan Yesus.
Oleh sebab itu, marilah kita mendisiplinkan lidah perkataan dan perbuatan kita agar senantiasa selaras dengan Kebenaran firman Allah, dan dengan pertolongan Roh Kudus, kita pasti akan membawa perubahan dan pemulihan bagi bangsa dan kota di mana kita berada. Amin.
GBI Pasir Koja 39 Bandung