Tujuan Allah membentuk keluarga merupakan kehendak-Nya (Kej. 2:18-25 dan Mal. 2:13-16). Pemahaman dan kepercayaan ini hendaknya mengilhami kita untuk melakukan segalanya menurut kekuatan kita untuk membangun rumah tangga
yang berpusat pada Kristus. Sesungguhnya, sejak pemulihan Injil Yesus Kristus, para simpatisan pencari-kebenaran telah dibawa pada ajaran bahwa keluarga dapat kekal selamanya. Asas keluarga kekal merupakan unsur penting dalam rencana besar Bapa Sorgawi bagi anak-anak-Nya. Penting dalam rencana itu adalah pemahaman, bahwa kita memiliki sebuah keluarga sorgawi dan juga sebuah keluarga fana.
Menyadari bahwa kita memiliki sebuah keluarga sorgawi menolong kita memahami sifat kekal keluarga fana kita. Memberi waktu yang memadai dalam menjalin hubungan antar keluarga tak kalah penting (Tit. 2:1-5). Ajaran dan perjanjian untuk menyediakan waktu bagi seluruh anggota keluarga mengajarkan kepada kita bahwa keluarga adalah penting bagi tata tertib sorga: Memahami sifat kekal keluarga merupakan unsur penting dalam memahami rencana Bapa Sorgawi bagi anak-anak-Nya. Sang musuh, sebaliknya, ingin melakukan segalanya dengan kuasanya untuk menghancurkan rencana Bapa Sorgawi. Dalam upayanya untuk menggagalkan rencana Allah, dia memimpin sebuah perang terhadap lembaga keluarga. Kebahagiaan kekal kita bukanlah salah satu tujuan Setan. Dia tahu bahwa kunci penting untuk membuat pria dan wanita sengsara seperti dirinya adalah merenggut waktu mereka dari hubungan keluarga yang memiliki potensi kekal. Karena Setan memahami bahwa kebahagiaan sejati dalam kehidupan ini dan dalam kekekalan terdapat dalam bentuk keluarga, dia melakukan segalanya dengan kuasanya untuk menghancurkannya.
Mempelajari, mengajarkan, serta mempraktekkan asas-asas Injil Yesus Kristus di rumah kita menolong menciptakan suatu budaya di mana Roh Allah dapat tinggal dan mengajarkan Roh pengampunan dalam keluarga (Mrk. 11:20-26). Melalui membangun tradisi pengampunan keluarga yang berpusatkan Kristus di rumah kita, kita akan dapat mengatasi tradisi palsu dari dunia dan belajar untuk saling mendahului dalam mengampuni.
Tanggung jawab untuk membangun rumah tangga yang berpusat pada Kristus terletak pada orang tua dan anak-anak. Orang tua bertanggung jawab untuk mengajar anak-anak mereka dalam kasih dan kebenaran. Orang tua akan diminta bertanggung jawab di hadapan Tuhan dalam bagaimana mereka melaksanakan tanggung jawab sakral mereka. Orang Tua mengajar anak-anak mereka dengan perkataan dan melalui teladan.
Kesatuan kokoh keluarga dapat merupakan kunci penting membangun keluarga kuat dan diberkati (Yos. 24:14-18). Anak-anak juga memainkan peranan penting dalam membangun sebuah rumah tangga yang diberkati, namun tetap berpusat pada Kristus. Ketika orang tua memimpin keluarga dalam kasih dan kebenaran serta mengajari anak-anak mereka Injil Yesus Kristus dengan perkataan dan melalui teladan, dan ketika anak-anak mengasihi dan mendukung orang tua mereka dengan belajar serta menjalankan asas-asas yang orang tua mereka ajarkan, hasilnya adalah pembangunan sebuah rumah tangga yang kuat dan diberkati dan yang berpusat pada Kristus.
Oleh: Pdt. A.L. Jantje Haans
GBI Pasir Koja 39 Bandung