Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus karena anugrah-Nya dalam kehidupan saya. Beberapa waktu yang lalu, saya diberi berkat oleh Tuhan Yesus: saya lulus dari SMA dan diberi kesempatan untuk mengawali perjuangan hidup di tempat yang baru. Peristiwa ini bukan hasil perjuangan saya tetapi semata-mata hanya karena Tuhan Yesus yang luar biasa dan membuktikan bahwa iman saya akan Tuhan Yesus Kristus tidak sia-sia.
Pada masa awal SMA saya benar-benar tidak tahu dan tidak mempersiapkan apa pun untuk masa setelah lulus SMA. Saya baru menyadari hal itu setelah lanjut ke tingkat berikutnya, saat itu muncul keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Bandung. Saya mencari banyak informasi dan berusaha memaksimalkan nilai akademik demi memenuhi persyaratan masuk PTN. Bukan hal yang mudah, oleh karena itu saya berkomitmen akan melepaskan semua kegiatan di luar sekolah, dengan tujuan agar saya fokus mengejar cita-cita saya. Namun Tuhan berkehendak lain, saya malah diberi kesempatan untuk melayani di musik pujian GBI Pasirkoja. Secara ajaib Tuhan memakai Om Ferry Stiawan dan kawan-kawan hingga akhirnya saya berserah pada Tuhan untuk pelayanan yang dipercayakan-Nya. Saya takjub dan mengerti setelah itu bahwa pelayanan adalah karya Tuhan untuk menjaga dan memakai saya menjadi alat-Nya. Alhasil komitmen saya tidak berjalan, malah semakin banyak kegiatan yang harus saya lakukan, sebagai akibatnya saya kehilangan banyak waktu untuk beristirahat.
Saat memasuki tingkat akhir SMA, entah mengapa saya merasa tidak mampu. Semua akademik yang telah saya usahakan sia-sia begitu saja. Pikiran-pikiran negatif mulai muncul, “saya kehilangan masa depan”, “saya tidak dapat masuk PTN, jika masuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS) saya tidak akan mampu”, “jika bekerja saya tidak punya kemampuan apapun”. Saya merasakan bagaimana rasanya kehilangan harapan, saya adalah anak tunggal, masa depan saya adalah masa depan keluarga besar. Jika di masa sebelumnya saya sering menangis karena berjuang, di masa ini setiap hari menangis karena merasa tidak punya masa depan.
Minggu, 1 Januari 2017 saya bersyukur GBI Pasirkoja mengadakan kebaktian awal tahun. Saat itu saya mendapatkan ayat tahunan: “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari – Matius 6:34”. Saya membaca tetapi saya tidak mengerti dan ketika para pemusik melantunkan intro, saya hanya dapat menangis terus tanpa tahu sebabnya. Sepulang dari kebaktian, keajaiban selanjutnya terjadi, saya mendapatkan kekuatan baru. Semua pikiran negatif tidak membebani lagi, dengan kekuatan-Nya saya kembali berjuang. Tuhan juga mengirimkan anak-anak-Nya untuk meneguhkan saya: Dr. Ronny, Ci Presty dan teman-teman seiman di SMA. Saya tidak pernah bercerita kepada mereka, tetapi Tuhan berbicara lewat mereka. “Tuhan sudah menciptakanmu, masa Ia tidak peduli atas ciptaan-Nya?”, ”Apabila itu kehendak Tuhan, semua pasti jadi!”, dan masih banyak lagi kalimat sederhana yang menjadi rhema bagi saya. Setelah itu banyak orang bertanya kepada saya, “Kamu tidak ambil ke PTS? Kamu tidak bimbel? Kamu gila ya, PTN itu slotnya sedikit apalagi SMA mu swasta,” dan masih banyak pembicaraan seperti itu. Saat itu saya hanya menjawab, “Saya punya Tuhan, masa depan saya ada di tangan-Nya. Jika hari ini saya berjuang, itu bukan untuk masa depan saya tetapi pertanggungjawaban saya kepada Tuhan. Kita lihat saja nanti.” Meskipun kekuatan Tuhan sangat nyata bagi saya, tetapi sebagai manusia kekuatiran saya kadang datang kembali. Hingga H-7 pengumuman PTN, iman saya seperti digoncangkan dengan kuat. Puji Tuhan setiap saya lemah, Tuhan memberikan kekuatan yang baru hingga saat pengumuman, saya dinyatakan lolos jalur undangan di sebuah PTN di Bandung. Hal yang lebih mencengangkan adalah juara satu bertahan di SMA saya malah tidak lolos!
Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya. Apapun kelemahan kita, bersandar dan andalkanlah Tuhan Yesus Kristus, Ia tidak pernah mengecewakan kita. Muliakanlah Dia! Amin.
By : Marshalline Tannusawiejaya (Ai Ching)
GBI Pasir Koja 39 Bandung