Saya dilahirkan di Lau Bekri Sumatera Utara pada tanggal 30 Agustus 1935. Saat berusia 1,5 tahun sang Ibu meninggal dunia, sehingga saya pun diasuh oleh kakak. Ketika kakak menikah, kemudian saya pun dirawat oleh ibu tiri karena ayah saya juga menikah kembali. Namun tidak berlangsung lama, karena saya kembali ditarik oleh kakak saya nomor dua untuk tinggal dengan beliau, dengan tujuan agar saya dapat membantu beliau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci, menyetrika, mencari kayu bakar dll. Saya hampir-hampir tidak memiliki waktu untuk belajar, padahal waktu itu saya sudah duduk di kelas 6 SD dan akan mengikuti ujian sekolah. Rasanya sangat sedih sekali. Saya pun menangis dan berdoa kepada Tuhan agar Tuhan menolong dan mengubahkan kehidupan saya.
Setelah lulus sekolah, saya melamar untuk sekolah perawat di beberapa kota tetapi tidak diterima, akhirnya saya memutuskan untuk merantau ke Bandung, meski hanya dengan ongkos yang sangat minim. Tetapi saya melihat penyertaan Tuhan yang luar biasa. Sejak dari perjalanan menuju Bandung dari Medan, di atas kapal Belanda yang saya tumpangi, saya berkenalan dengan seorang yang berasal dari Tanah Karo. Ia memiliki saudara yang bekerja di angkutan umum antar kota. Sehingga, dari Jakarta sampai Bandung saya dapat naik bus dengan gratis dan bahkan ikut tinggal di rumah kost beliau untuk beberapa saat. Karena saya tidak mampu untuk membayar uang kost, saya pun harus keluar. Dalam perjalanan saya mencari tempat tinggal yang baru, saya yang saat itu tidak memiliki uang sama sekali, memberanikan diri untuk singgah di warung soto dan sate untuk menanyakan apakah ada pekerjaan yang bisa saya lakukan. Kebetulan saat itu warung tersebut secara tiba-tiba kedatangan rombongan pengunjung, dan saya pun menolong sang pemilik warung untuk bekerja melayani para tamu. Setelah selesai, sang pemilik warung menawarkan saya untuk bekerja kepadanya dan bahkan menawarkan saya tempat tinggal. Saya bersyukur sekali kepada Tuhan!
Singkat cerita saya pun akhirnya dapat pekerjaan di Departemen Keuangan, dan dapat kembali melanjutkan studi saya ke jenjang SMA dengan sambil bekerja. Meskipun tidak mudah, dengan pertolongan Tuhan saya dapat menyelesaikan studi saya meski sambil bekerja dan bahkan oleh anugerah Tuhan saya juga mendapat promosi menjadi Kepala di Departemen Keuangan dan mendapat penghargaan dari Menteri Keuangan di tahun 1978.
Saya bertemu, Ibu Iti Darsiti yang kini telah menjadi istri saya, ibu dari anak-anak saya dan nenek dari cucu-cucu saya saat saya bekerja. Saya yang semula ingin menjadi bidan dipertemukan Tuhan dengan seorang yang sedang bersekolah bidan. Setelah menjalin hubungan cukup lama, kami pun menikah 17 September 1964 dan dari pernikahan tersebut kami dikaruniakan 5 orang anak, 8 orang cucu dan 1 orang cicit.
Meski kami harus kehilangan satu orang anak kami yang telah lebih dahulu dipanggil Tuhan, tetapi saya bersyukur karena pada akhirnya kami dapat menyekolahkan ke-4 anak kami yang lainnya sampai ke jenjang sarjana. Tidak lah mudah bagi kami saat itu untuk membiayai kuliah mereka, dan saya berdoa kepada Tuhan. Saya berpuasa selama 3 bulan saat anak bungsu kami hendak masuk AKABRI agar ia dapat diterima karena saya tidak memiliki cukup biaya. Puji Tuhan, anak saya diterima dan bahkan biaya pendidikannya ditanggung Negara. Bahkan ia kemudian mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah di Jepang. Allah kita Allah yang dahsyat!
Pada tahun 2000, saya diijinkan mengalami suatu penyakit yang cukup mengkhawatirkan di daerah leher saya. Setelah konsul dengan dokter internis dan kemudian dilanjutkan kembali konsultasi dengan dokter THT, ditemukan ada benjolan yang cukup ganas. Setelah dioperasi, saya pun harus menjalani proses radiotherapy sebanyak 33 kali. Setelah menjalani radiotherapy dan terus periksa rutin, setelah 5 tahun saya dinyatakan aman. Allah telah menyembuhkan saya.
Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, karena Ia menunjukkan kasih setia, pertolongan dan anugerah di sepanjang kehidupan saya, sejak saya kecil hingga saat ini. Saya sangat menikmati kebaikan Tuhan. Saat ini saya mengisi waktu luang saya dengan bersaksi dan menginjil kepada orang-orang, seperti supir-supir angkutan umum. Saya menyaksikan semua pertolongan Tuhan dalam hidup saya kepada mereka, karena saya tahu Tuhan pun rindu menyatakan kasih dan pertolongan-Nya tidak hanya kepada saya tetapi kepada semua orang. Haleluya!
Oleh: Bpk. Slamet Senisuka
GBI Pasir Koja 39 Bandung