“Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya Tuhan, diberkati untuk selama-lamanya” 1 Tawarikh 17:27.
Kita bisa memiliki semua yang terbaik di dunia ini, harta, kedudukan dan kemewahan, tetapi kita akan tetap berduka ketika tidak memiliki orang-orang yang terdekat yang mencintai kita, keluarga .….Anonim.
“Harta yang paling berharga adalah keluarga, istana yang paling indah adalah keluarga”, adalah cuplikan dari theme song sinetron yang sangat indah “Keluarga Cemara”, menceritakan kehidupan sehari-hari keluarga yang sederhana tetapi dipenuhi dengan kebahagiaan dan kedamaian. Bagaimana mereka mengisi hari-hari dengan saling membantu dan menyelesaikan masalah-masalah kehidupan dengan bersatu, suatu kehidupan yang seharusnya menjadi kehidupan keluarga Kristen yang sejati. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat, dimana semua nilai-nilai kehidupan diajarkan dan dipraktekkan. Rasa hormat, kejujuran, simpati, kepedulian, pengampunan dimulai di dalam rumah tangga.
Di rumahlah seharusnya orang memiliki rasa aman, merasa dikasihi dan dihargai sebagai bagian dari sebuah komunitas. Di dalam keluarga pulalah orang dapat bertumbuh dalam hal fisik, akal budi, hubungan sosial, kasih dan hal-hal rohani. Di dalam keluarga orang dapat dengan bebas mengembangkan semua talenta dan karunianya.
Melihat betapa pentingnya keluarga, itulah sebabnya keluarga harus dibangun di atas dasar yang teguh yaitu firman Allah. Hubungan antara suami, istri; orang tua dan anak akan menjadi indah bila berlandaskan kepada ketetapan firman Allah. Efesus 5:22-23 dan Kolose 3:18-21, mengajarkan apa yang harus dilakukan agar Ayah, Ibu dan anak-anak berbahagia. Suami harus mengasihi istri, istri harus tunduk dan menghormati suami, orang tua mendidik anak-anak di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Anak-anak menghormati dan taat pada orang tua.
Saya terkagum-kagum melihat National Geographic tentang keluarga anjing hutan, betapa luar biasanya binatang yang seringkali kita anggap rendah ini membangun dan menghidupi keluarganya. Setiap hari orang tua dari anjing hutan ini berjalan berkilo-kilometer jauhnya untuk mencari makanan buat anak-anaknya. sementara mereka pergi, anak-anak yang telah dewasa, yang masih sedarah, menjagai adik-adiknya yang masih kecil dari serangan binatang lain. Seringkali mereka melakukan perburuan bersama-sama dengan bahu membahu mengepung buruannya dan menikmati bersama hasil buruannya. Anjing hutan disebut sebagai predator yang tersukses dan terus berkembang biak. Seharusnya kita sebagai ciptaan Tuhan tertinggi memiliki kehidupan rumah tangga yang terbaik. Bagaimana orang akan tertarik mengenal Tuhan bila mereka tidak melihat keindahan dalam rumah tangga Kristen?
Oleh: Pdt. Simon Irianto
GBI Pasir Koja 39 Bandung