
Keluarga merupakan kelompok primer yang terdiri dari dua orang atau lebih, di dalamnya terdapat hubungan keterikatan, dan rasa untuk saling berbagi baik dalam keadaan susah, senang, sehat ataupun sakit. Tempat di mana kita saling memelihara sehingga baik orangtua dan anak-anak dapat bertumbuh dalam perkembangan fisik, mental dan emosional yang baik. Keluarga pertama yang tercatat dalam Alkitab ialah keluarga Adam dan Hawa.
Kejadian 1:28.
Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.
“Design sebuah keluarga yang paling ideal telah Allah ciptakan sendiri, yaitu dengan berkat untuk menaklukkan bumi dan memenuhinya. Sehingga seharusnya sebuah keluarga yang dipersatukan dalam pernikahan itu tidak hidup dalam ukuran-ukuran dunia dan tunduk pada hal-hal duniawi.
Di pembacaan selanjutnya kita tahu, bahwa Tuhan memberikan perintah dan firman untuk Adam sebagai kepala keluarga, tentang buah yang tidak boleh dimakan dan memberi hikmat sehingga Adam mampu menamai segala jenis binatang. Keluarga di dalam Tuhan seharusnya tidak pernah lari dan menjauh dari perintah dan Firman Allah.
Roma 12:2. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Yang berarti definisi keluarga yang seharusnya menurut Allah ialah mereka yang berkelompok (1 laki-laki dan 1 perempuan) dengan firman Tuhan untuk beranak cucu dan hidup untuk melayani Allah.
Tapi hari-hari ini banyak keluarga yang lupa, bahwa mereka punya fungsi untuk saling melayani, yang harusnya terjadi dulu pelayanan di dalam keluarga, baru diaken itu selanjutnya berdampak keluar. Banyak keluarga yang terkenal dermawan, penuh dengan santun di lingkungannya, donatur besar gereja, pemerhati jemaat, tapi untuk mengasihi istrinya mereka tidak sanggup, tapi untuk berdoa dalam mengampuni suaminya, hati istri sudah terlalu asam untuk memberikan pengampunan, tapi untuk membawa anak-anak mereka hidup dalam kebenaran peran seorang bapa dan ibu tidak mereka ambil karena terlalu sibuk untuk dapat berdoa, saat teduh, bahkan dalam level yang ekstrim sudah enggan untuk saling bertegur sapa. Jadi, pelayanan yang dimulai tanpa melayani keluarganya sendiri adalah pelayanan yang kosong.
1 Timotius 3:12-13.
Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik. Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa. Setiap hal yang terjadi dalam keluarga merupakan hasil dari setiap anggota yang berhubungan. Karena tidak mungkin satu hal terjadi tanpa yang lain ikut bagian dan berkontribusi di dalamnya. Perlu dua tangan untuk menghasilkan tepuk tangan.
Kolose 3:18-21.
Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
Di dalam Kolose 3 dijabarkan secara spesifik bagaimana setiap keluarga seharusnya memiliki kewajiban untuk melayani. Melayani dengan hati yang murni, tanpa pemikiran untuk dilayani terlebih dahulu. Sebagai contoh suami harusnya mengasihi istrinya dan tidak kasar walaupun istrinya mungkin tidak tunduk pada suaminya. Tapi saya percaya ketika suami terus melayani istrinya, Tuhan pasti akan dan sanggup untuk membaharui karakter seorang istri itu seharusnya. Ini yang di sebut menyangkal diri dan memikul salib Kristus. Karena untuk Kristuslah kita hidup, sehingga pelayanan dalam keluarga harus kita mulai bukan karena suami dulu yang mengasihi istri, atau bahkan karena istri dulu yang tunduk, atau seorang anak yang hormat, tetapi karena semua hidup kita buat Yesus dan Tuhan. Itu yang memampukan kita hidup sebagai dalam ayat 18-21 ini.
Kalau ditanya dari mana kita harus memulai? Jawabannya adalah dimulai dari ‘doa’. Sehingga Roh Kudus akan memampukan kita dan memperbaharui kita. Dimulai dari komitmen untuk hidup dalam doa dengan seluruh anggota keluarga. Kolose 3:23. Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
GBI Pasir Koja 39 Bandung