Sebelum kita membahas kedewasaan yang Alkitab ajarkan, kita perlu mengerti terlebih dahulu realitas kedewasaan itu sendiri. Ketika kita membicarakan mengenai kedewasaan, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan:
A. Kedewasaan: Suatu Proses Kedewasaan adalah suatu proses. Tidak ada orang yang lahir tiba-tiba langsung berubah menjadi dewasa baik dari segi usia, iman, maupun karakter. Semua membutuhkan proses. Jika kedewasaan adalah sebuah proses, bukankah lebih bijaksana jika kita tidak pernah menganggap diri lebih dewasa dari orang lain? Mengapa? Karena standar kedewasaan kita belum tentu sesuai dengan standar kedewasaan yang Allah tetapkan.
B. Signifikansi Keterlibatan Pihak Luar di Dalam Proses Dibutuhkan pihak lain untuk membentuk proses kedewasaan. Pihak lain yang terpenting di dalam pembentukan proses kedewasaan ini adalah Roh Kudus yang memimpin kita sebagai anak-anak Tuhan di dalam pengudusan terus-menerus (progressive sanctification). Roh Kudus inilah yang memimpin langkah hidup kita untuk terus-menerus dewasa di dalam iman, usia dan karakter, dalam memuliakan Tuhan. Selain Roh Kudus, kita juga memerlukan Alkitab yang memimpin kita untuk lebih dewasa dan mengerti kehendak-Nya. Sebagai sarana ketiga, kita membutuhkan saran dan nasihat dari saudara seiman, hamba Tuhan yang bertanggungjawab, orangtua, dan teman sebagai masukan agar kita menjadi lebih dewasa lagi. Oleh karena itu, langkah-langkah kedewasaan rohani membutuhkan proses, sebagai berikut:
1. Untuk membentuk karakter Kristen (Rom. 12:1-2) Bukan hanya untuk mendewasakan iman Kristen, firman Tuhan juga membentuk karakter Kristen. Firman Tuhan ini membentuk karakter kita yang dahulu adalah budak Iblis menjadi anak-anak Tuhan yang memiliki karakter Ilahi. Karakter Ilahi tersebut sesuai dengan pengajaran Tuhan Yesus di dalam Matius 5:16. Biarlah Roh Kudus memimpin kita di dalam membentuk karakter Ilahi tersebut, sehingga kita bisa memancarkan terang Kristus.
2. Pribadi yang Memberkati (Kej. 12:1-3)
Kita dituntut untuk bertanggungjawab menjadi pribadi yang memberkati, tidak mementingkan diri sendiri, melainkan senang memberi berkat, sehingga menjadi pribadi atau individu yang antusias untuk memberkati dan tidak hanya ingin diberkati.
3. Penguasaan Diri (Rm. 12:3-5).
Akhir pernyataan buah Roh (Gal.5:23) adalah penguasaan diri. Mengapa? Karena penguasaan diri memberi dampak dan potensi berseminya kasih karunia, memelihara keseimbangan seluruh buah roh, supaya menumbuhkembangkan rasa hormat satu dengan yang lain sesama anggota tubuh Kristus.
4. Loyal dan Rela Berkorban (Ef. 4:11-15)
Salah satu indikasi kedewasaan rohani adalah loyal, setia kepada Tuhan Yesus dengan kerelaan berkorban mendominasi hidupnya, tidak egois atau mementingkan diri sendiri, relaan berkorban, terlebih kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera (Ef. 6:15).
5. Hidup Kudus dan Tidak Bercela (Ef. 1:3-4)
Memprioritaskan gaya hidup kudus (holiness life style). 1 Petrus 1:16 menyatakan “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Disertai hidup tak bercela, tak bercacat dan menjauhkan diri dari noda dan dosa, menjadikan kedewasaan rohani memiliki nilai-nilai iman Kristen yang sehat dan bertanggung jawab.
Oleh: Jantje Haans
GBI Pasir Koja 39 Bandung