George Best adalah salah satu legenda sepakbola Inggris yang memiliki talenta yang luar biasa. Kecepatan dan kehebatan kedua kakinya membuat dia menjadi ikon bagi Manchester United, bahkan di kota kelahirannya Belfast – Irlandia Utara, dia dianggap sebagai dewa bola yang hebat; melebihi pemain lainnya. “Maradona good, Pele better but George best!” kata mereka. Sebagai pemain terbaik Eropa dan termasuk 100 pemain sepakbola terbaik sepanjang abad, dia menjadi sangat terkenal . Sayang sekali talenta yang dia miliki tidak disertai dengan gaya hidup yang sehat. George Best menjadi celebrity olahraga yang hidup dengan glamour, berganti-ganti wanita dan mulai terikat dunia malam dan alkohol. Nasihat dan perhatian dari pelatihnya tidak dia pedulikan, yang akhirnya membawa dia dalam hidup yang tragis. Kemiskinan dan penyakit kanker yang akhirnya merenggut hidupnya.
Dari cerita di atas, kita belajar dua hal: pertama, talenta yang hebat mungkin bisa membawa kita ke puncak, tetapi untuk membuat kita tetap ada di sana diperlukan karakter yang kuat. Ini menjadi kisah klasik yang selalu kita temui di sekitar kita bahkan di gereja sekalipun. Orang-orang yang bertalenta besar tetapi mengakhiri kariernya dengan menyedihkan. Karakter itu seperti fondasi rumah, untuk membangun sebuah apartemen berlantai 10 tentu memerlukan fondasi yang sangat dalam yang berbeda dengan membuat rumah sederhana berlantai satu. Untuk menjadi seorang yang sukses sejati, diperlukan watak luhur dan mulia.
Sebagai orang Kristen, karakter dibentuk oleh keintiman kita dengan Tuhan dan proses yang dikerjakan Roh Kudus melalui keadaan, masalah dan orang-orang di sekitar kita. Kedua, untuk memiliki kesuksesan yang langgeng kita memerlukan penundukan diri. Tuhan menempatkan pemimpin di sekitar kita untuk menjadi pagar tembok yang menjagai kita dari kejatuhan. Mereka menolong kita untuk mencapai kemaksimalan dan meraih yang terbaik dalam hidup ini. Sayang sekali, alih-alih berterima kasih dan menghormati mereka, justru kita merasa “terganggu” dengan nasihat bahkan mungkin disiplin yang mereka berikan. Padahal upah dari kerendahan hati dan ketaatan adalah kemuliaan. Dalam revive yourself pembahasan kitab Ester, kita melihat bagaimana Ester mengalami kemuliaan karena penundukan diri yang dia lakukan, baik kepada Mordekhai maupun kepada Hegai, sida-sida Raja. Tanpa sadar sebenarnya Tuhan menyediakan orang-orang yang menjadi alat promosi dari Tuhan, sehingga pada waktunya kita siap untuk sebuah kesuksesan dan menjagai kita tetap ada disana. Mario Balotelli adalah contoh lain, sikapnya yang memberontak dan suka bertikai membuat dia disingkirkan dari dream team Inter Milan. Padahal Roberto Mancini – pelatih Manchester City, yang kemudian membelinya, mengatakan sedikit sekali orang yang bertalenta sehebat “si anak Bengal“ ini. Jika dia mau belajar taat dan menghormati orang lain dia akan menjadi pemain yang sangat hebat. Sayang sekali kesempatan inipun disia-siakan, Balotelli kerap membuat ulah yang membuatnya lebih banyak di bangku cadangan dan kemungkinan besar akan segera dijual dari Manchester City.
John Bevere dalam buku “Upah Dari Penghormatan” menuliskan bahwa orang-orang yang mendapatkan dan memberikan yang terbaik adalah orang-orang yang tahu menghargai otoritas dan menghormati orang lain. Saya sangat setuju.
Oleh: Pdt. Simon irianto
GBI Pasir Koja 39 Bandung