
Kesaksian Ibu Christie Tapiheru
Sebelum kami menikah, saya divonis dokter kecil kemungkinan untuk dapat memiliki anak, karena infeksi yang tidak saya sadari telah berlangsung selama 8 tahun. Padahal saya pada dasarnya senang dengan anak-anak. Saya melayani sekolah minggu dan di rumah, adik-adik semua saya yang mengurus. Jadi dapat dibayangkan bagaimana rasanya vonis itu seperti dunia runtuh rasanya.
Saya bilang ke Om George waktu itu untuk kita putus saja, karena saya tidak ingin ia menderita karena saya. Namun, Om George menolak. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Australia untuk sementara waktu, dan jika selama saya di sana ia berjumpa dengan wanita lain, saya rela untuk putus. Akan tetapi Om George tetap teguh dan berkata, “Menikah itu bahagia atau tidaknya bukan karena punya anak atau tidak. Kalau Tuhan mau kasih pasti akan kita terima. Kalau tidak, ya tidak apa-apa. Kita berdua saja kemana-mana.” Lalu kami pun menikah.
Malam sebelum berhubungan suami istri, kami berdua berdoa dan saya meminta seorang anak yang akan kami persembahkan untuk melayani Tuhan, seperti Hana berdoa meminta Samuel kepada Tuhan. Di tengah malam saat sudah tertidur, saya dibangunkan oleh sebuah suara yang saya dengar dengan jelas sekali berkata, “Aku telah menyembuhkan engkau.” Saya mendengar suara itu sampai tiga kali dan di kali ketiga diikuti dengan simfoni sorga. Saya membangunkan suami saya dan meski ia tidak mendengar apa yang saya dengar, Om George percaya itu suara Tuhan dan mengajak saya untuk berdoa mengucap syukur. Dan puji Tuhan, bulan itu saya hamil yang kemudian lahirlah anak kami yang pertama yang kami beri nama Christofer Tapiheru.
Meski sempat ia hidup jauh dari apa yang kami doakan, akan tetapi kami tahu ia adalah anak yang jujur dan selalu meminta ijin terlebih dahulu sebelum melakukan hal-hal yang dianggap ‘nyeleneh’ oleh banyak orang. Setelah sebuah perdebatan sengit antara kami (baca edisi 39news bulan lalu), ia langsung datang meminta maaf kepada saya dan kami pun saling berpelukan dan menangis bersama.***
Kami sangat bersyukur kalau saat ini ia dipakai Tuhan menjadi hamba-Nya. Haleluya!
*** Penulis meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak keluarga, atas kelalaiannya menuliskan bagian ini di artikel 39News edisi bulan Juli 2019.
Oleh: Bhernadethe Siregar
GBI Pasir Koja 39 Bandung