
Saat menyusuri jalanan yang penuh sesak dengan trem, mobil, dan kereta kuda, tak seorang pun bisa menebak bahwa ia telah berpidato tiga kali di hadapan Kongres dalam kesempatan berbeda, sekali ketika ia masih remaja. Siapa yang akan percaya perempuan tua bongkok ini telah menulis buku laris pada umur 20-an dan lebih dari 8000 lagu. Siapa menyangka, ketika ia berjalan dengan riang di sepanjang trotoar, gereja-gereja di seluruh penjuru dunia akan menghormati kontribusi perempuan buta ini pada iman Kristen setiap minggu. Namun, itulah persisnya yang terjadi pada 26 Maret 1905. Kongregasi di seluruh Amerika, Eropa, Asia, dan Afrika akan memenuhi angkasa dengan lagu gubahan perempuan yang dijuluki “Orang Suci Gereja Metodis” ini.
Jadi, bagaimana penggubah lagu rohani Kristen terkemuka di dunia, perempuan yang himnenya masih dinyanyikan oleh ratusan juta orang, berada di antara sebagian pendosa terbesar di dunia? Ini adalah doa, iman, kerja keras, dan perubahan arah hidup yang dramatis, dan tidak pernah mungkin terjadi tanpa keterlibatan empat orang yang berbeda, tetapi sangat istimewa.
Kisah Fanny Crosby mungkin adalah kisah paling tidak lazim dari seluruh kisah orang Amerika. Ia dilahirkan pada 1820 di pedesaan New York State. Hidupnya dimulai dengan dua tragedi besar. Pada umur enam minggu, dokter yang ceroboh mengobati radang matanya dengan cara yang salah, yang menyebabkan kebutaan. Beberapa bulan kemudian, ayah Fanny, pencari nafkah keluarga, tiba tiba meninggal. Kejadian ini sangat berat bagi ibunya, Mercy Crosby, yang saat itu berumur 21 tahun. Ia mengemban tugas yang terlalu besar bagi perempuan mana pun. Namun, dengan iman yang melangkah maju. Dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga, ia bekerja keras untuk menghidupi anak perempuannya. Si anak yang buta, Frances Jane, seharusnya dikesampingkan, dilupakan, tidak diajar: hal lumrah pada masa itu. Orang cacat jasmani diabaikan atau dikucilkan, dan kerap dipandang sebagai hukuman Tuhan. Akan tetapi, Fanny telah diberkati. Neneknya, Eunice, memandang gadis kecil ini sebagai kasih karunia dan menetapkan bahwa ia akan diberi kesempatan untuk tumbuh, bereksplorasi, dan mendapatkan berbagai sarana untuk berhasil.
Ketimbang mengurung Fanny di rumah, Eunice membuka pintu dan membiarkannya menjelajah dunia. Dibiarkannya Fanny jatuh, lantas menyuruhnya bangun. Ia pun mengembangkan perasaan berharga pada diri Fanny dengan cara memberikan pujian ketika Fanny kecil merampungkan sesuatu bahkan pekerjaan yang paling sepele. Terutama, Eunice mengajarinya untuk melihat dengan cara menyentuh dan mendengarkan. Jadi anak ini mengembangkan pikiran sehat dan dapat mulai memahami. Sekalipun tidak biasa pada masa itu. Eunice juga mendorong Fanny agar menonjol di sekolah.
Meskipun guru-gurunya….bersambung..
GBI Pasir Koja 39 Bandung