Pada ibadah pertama, firman yang disampaikan oleh Pdt. Simon Irianto mengenai Immanuel, Allah menyertai kita (Mat. 1:21-23). Penyertaan Allah membuat bangsa Israel berhasil; ketika bangsa Israel meninggalkan Tuhan, maka mereka dijajah dan menderita. Tidak ada yang lebih penting daripada penyertaan Tuhan bagi setiap orang percaya. Sekalipun kita berjalan dalam lembah kekelaman, bila ada penyertaan Tuhan kita tidak perlu takut. Pastikan bahwa kita bersama Tuhan, tidak ada yang lebih baik dibandingkan dengan kasih-Nya. Imanuel berarti penyertaan Allah, Firman yang bersama-sama dengan Allah diwujudkan dalam nama Yesus Kristus. Dimana Yesus berada, pasti terjadi pemulihan, mujizat, dan segala yang baik.
Tahun 2018 (5778 – penanggalan Yahudi) adalah tahun permulaan yang baru, tahun mujizat. Carilah Allah dengan sungguh-sungguh, akan ada intervensi Ilahi bagi hidup kita. Allah mencari orang-orang yang rohnya terbakar, jangan biasa-biasa; bila ada penyertaan Allah, hidup kita tidak akan biasa-biasa. Allah adalah penasehat ajaib, bertanyalah pada-Nya dan dengar nasihat-Nya. Imanuel yang sesungguhnya ialah bukan hanya Allah menjadi manusia saja, tetapi juga ketika Ia pergi dan memberikan Roh Kudus untuk menyertai kita selama-lamanya. Roh Allah tinggal dalam kita dan mengubah hidup kita menjadi serupa dan segambar dengan Allah.
Tidak perlu kuatir, yang penting adakah penyertaan Allah dalam hidup kita. Hal yang membuat penyertaan Allah hilang ialah dosa dan kepahitan yang disimpan. Tanggalkan dosa dan kepahitan tersebut. Hanya dekat Allah aku merasa tenang; sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, gada-Mu dan tongkat-Mu melindungi aku. Perlu passion untuk mengalami hal yang besar; Allah sedang mengerjakan breakthrough, pilihlah jalan itu. Yusuf yang sedang di penjara dan dipanggil keluar menjadi raja muda adalah contoh breakthrough. Yang penting kita tinggal dalam panggilan-Nya; bila kita meninggalkan-Nya, segeralah berbalik. Pesan Natal bagi kita semua: Imanuel, Allah menyertai kita.
Pada ibadah kedua, firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Jantje Haans mengenai Natal, kelahiran Tuhan Yesus dan pemberitaan Injil. Ada empat kategori manusia di dalam dunia: kesatu (ciptaan) adalah lelaki tanpa ibu dan tanpa bapa, dari debu/tanah, yaitu Adam; kedua (ciptaan) adalah wanita tanpa ibu dan tanpa bapa, dari rusuk Adam, yaitu Hawa; ketiga (lahir) adalah laki-laki dan wanita yang beribu dan berbapa, dari kelahiran, yaitu manusia; keempat (lahir) adalah laki-laki yang tidak berbapa tetapi beribu, dari Roh Kudus, yaitu Yesus. Secara normal di dunia ini keturunan laki-laki yang diangkat, namun Yesus lahir dari seorang wanita muda, seorang perawan (Yes. 7:14), divine maternity (bunda Allah).
Kejadian 3:15 menuliskan tentang permusuhan dunia terhadap Injil sejak semula (protoeuangelion), kelahiran Yesus melalui perawan natal (alma: betulah), dan pemberitaan Injil melalui visi-misi amanat agung. Kondisi dunia ini adalah bermusuhan terhadap Injil, seperti ancaman permusuhan Herodes yang terjadi ketika kelahiran Yesus; itulah sebabnya malaikat katakan pada gembala di Efrata “jangan takut” (Lukas 2:10). Yesus lahir sebagai keturunan perempuan, sebagaimana nubuat nabi Yesaya yang mengatakan bahwa “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”. Nabi Yesaya mengatakan “seorang perempuan muda”, atau seorang perawan (alma-betulah). Lukas 1:34-35 juga menyatakan bahwa Maria belum bersuami (I am virgin – NIV), namun Maria taat akan perintah Tuhan. Iblis ingin melumpuhkan pemberitaan Injil sejak semula; supaya gereja lumpuh, iblis berusaha melumpuhkan gerakan penginjilan. Oleh karena itu, gereja harus mengenakan kasut kerelaan untuk memberitakan Injil (Ef. 6:15, Yoh. 4:35). Injil adalah berita sukacita, kelahiran Yesus adalah pemberitaan sukacita besar karena di dalam Yesus ada keselamatan.
Imanuel, Allah beserta kita dalam setiap langkah pemberitaan Injil sebagai sukacita besar bagi dunia. Selamat Natal!
Oleh: Ivan Stefanus, Timotius Witono
GBI Pasir Koja 39 Bandung