Pada tanggal 15-17 November 2017, saya dan beberapa rekan sekerja mendapat kesempatan mengikuti Hillsong Worship and Creative Conference di Sydney, Australia. Selama tiga hari kami mengikuti konferensi tersebut, saya pribadi mendapatkan banyak berkat. Beberapa hal yang begitu berkesan bagi saya di antaranya adalah:
- Penjangkauan jiwa-jiwa. Sejak sesi awal konferensi hingga sesi terakhir, topik penjangkauan atau penginjilan begitu kental dan nyata sekali bahwa itu menjadi spirit dari pelayanan Hillsong. Ps. Cass langton menyatakan bahwa setiap karya yang kita buat dan pelayanan kita, entah itu lagu, musik, video, desain grafis, sound, dll. harus tertanam di dalam satu tujuan, yaitu: INJIL (karya keselamatan Kristus).
- Perencanaan yang matang dalam pimpinan Roh Kudus. Ini mengingatkan saya akan khotbah Om Jantje tentang Nehemia beberapa waktu lalu. Bahwa keberhasilan Nehemia adalah karena ia berhasil menggabungkan perencanaan yang matang dengan kehidupan doa yang luar biasa.
Dalam pelayanan musik pujian, konsep musik yang akan mereka bawakan pada ibadah raya, lagu-lagunya, bahkan atmosfir seperti apa yang akan mereka tampilkan telah dikonsep jauh sebelum latihan. Dalam proses persiapan, mereka menekankan pentingnya untuk selalu terhubung dengan Roh Kudus, agar semua yang disiapkan itu sesuai dengan kehendak Allah.
- Kepemimpinan. Brian Houston membagikan bahwa kepemimpinan yang baik akan menghasilkan tim kerja yang baik. Dalam sesi workshop pujian dan penyembahan, hal ini kembali dibagikan, bahwa pemimpin memiliki tanggung jawab besar untuk memimpin, menginspirasi, mendorong, dan mengarahkan agar tim yang dipimpinnya dapat mencapai hasil yang maksimal, sesuai dengan visi dan misi gereja lokal.
- Pemuridan. Dalam sebuah sesi tanya jawab, seorang peserta menanyakan, dari mana Hillsong mendapatkan orang-orang yang kreatif dan ahli, sehingga bisa menghasilkan musik yang bagus dan multimedia yang apik. Jawaban mereka adalah: discipleship. Lewat pemuridan, kita akan melihat talenta-talenta mereka dan tugas pemimpin adalah mengarahkan mereka melayani ke bidang yang sesuai dengan talenta mereka sehingga mereka dapat maksimal menjalani panggilan Tuhan. Put the right man in the right place.
- Relevansi. Sesi ini cukup unik buat saya tetapi juga mencerahkan, yaitu sesi di mana beberapa orang yang dahulu pernah melayani sebagai pemimpin pujian, penyanyi, pemain musik, guru sekolah minggu, dll. diundang hadir. Mereka membagikan bahwa ada waktunya di mana memutuskan untuk mundur dari pelayanan mereka. Mengapa? Karena jaman berubah, dan jemaat yang dilayani pun berubah. Selera musik anak muda jaman mereka dulu berbeda dengan selera musik anak muda sekarang. Untuk menjangkau generasi ini, kita harus relevan (terhubung, terkait) dengan mereka. Apakah mereka jadi berhenti melayani? Tidak! Mereka tetap produktif dan melayani Tuhan di bidang yang lain saat ini. Ada yang menjadi penulis buku, tim produksi, tim misi, dll.
Saya sangat terberkati sekali mengikuti Hillsong WCC 2017, banyak yang hal yang didapat secara kerohanian dari kotbah-kotbah yang dibagikan secara kreatif maupun pembelajaran teknis yang dibagikan Hillsong dalam kelas kecil (co-labs), tapi di luar itu saya sangat kagum bagaimana gereja ini membangun culture gereja yang sangat sehat.
Awalnya saya pikir Hillsong itu adalah gereja yang menjual kreatifitas atau hal-hal yang bersifat hiburan saja, tapi justru yang didapati disana sebaliknya, mereka adalah gereja yang berdoa dan bermisi, bahkan misi secara global, dan ditengah semua kegiatan kerohanian seperti doa, misi, puasa, ibadah dan lain sebagainya, mereka juga membangun kreatifitas sebagai ciri gereja. Saya ingat cerita Brian Houston gembala senior Hillsong bagaimana gereja ini dimulai tahun 1983 dari gedung olahraga dengan jemaat tidak lebih dari 45 orang kemudian di suatu hari gembala tersebut kotbah dengan menggunakan trampoline sebagai alat peraga, dan dari situ orang-orang berdatangan karena mendengar, “Hei ada pendeta disana kotbah dengan menggunakan trampoline” terdengar sederhana, tapi bagaimana Tuhan memberkati gereja ini dari awal dengan satu ciri yang otentik. Selain itu saya melihat di kelas kecil bagaimana pengerja multimedia pada waktu mendapat tugas dari gembala senior untuk membuat video visi misi gereja, mereka benar-benar menyiapkan dengan cara berpuasa dan berdoa sebelum proses shooting dan editing, ini membuat saya terpesona ketika sebuah gereja sebesar itu benar-benar mengandalkan Tuhan dan mengerjakannya segala sesuatu dengan cara professional, sehingga kita bisa melihat buahnya, bagaimana tata panggung, lighting, pujian dan penyembahan terlihat begitu indah dan penuh persiapan, tapi tidak menggeser hadirat dan jamahan Tuhan. #DEV
Tujuan awal saya berangkat ke Hillsong WCC 2017 adalah ingin GBI Pasirkoja 39 menangkap api kegerakan dari gereja yang saat ini menjadi trendsetter pertumbuhan gereja. Begitu menerima surel undangan untuk menghadiri Hillsong WCC 2017, saya sangat antusias, saya berdoa dan tidak berapa lama kemudian saya sampaikan ke Bapak gembala senior agar mengijinkan saya membawa beberapa staff Multi Media yang juga merangkap di komisi Musik Pujian untuk berangkat dan menghadiri Hillsong WCC 2017. Keterlibatan GBI Pasirkoja 39 dalam event ini saya yakini akan berdampak positif bagi kreatifitas gereja dan berdampak positif bagi perkembangan Musik Pujian gereja kita.
Dalam sesi co-labs saya mengikuti kelas-kelas khusus pastor (beberapa kali juga saya sekelas dengan banyak hamba Tuhan dari indonesia), disitu saya banyak belajar bagaimana para pemimpin gereja harus bersikap mengatasi serta mengantisipasi perubahan-perubahan (dinamika gereja).
Ps. Cass Langton: Cerita masing-masing kita adalah unik! Tangan kita adalah berkat bagi kita dan bagi dunia. Dia memberikan kepada kita karunia (1 Kor. 12:7), kita diberikan karunia oleh Tuhan untuk kemulian-Nya. Galatia 6:3-5, kita harus bertanggung jawab atas karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Apapun karunia yang Tuhan berikan, Tuhan menciptakan kita sebagai manusia yang kreatif! Ambil tanggung jawab itu, gunakan karunia itu dan jadilah kreatif.
Pergi dan katakan kalau Tuhan adalah pencipta yang luar biasa.
Co-labs Creative Pastoral
Team night
Team night adalah satu bentuk kreatifitas baru dari Hillsong (sudah mereka jalankan di pusat dan cabang-cabang dalam 2 tahun ini), mereka pun memiliki masalah yang sama seperti gereja-gereja pada umumnya: kesulitan mendapatkan pengerja dan kesulitan menggali potensi baru di dalam gereja. Team Praise and Worship hillsong melakukan Team Night dengan cara: mengumpulkan pengerja musik pujian di hari yang sudah disepakati setiap minggu nya, training & input skill (training everybody) dan mengaplikasikannya ke jemaat (ibadah raya). Dua hal yang dikerjakan di team night: Cultivation hand and heart: menggali potensi, ada bakat-bakat apa saja di jemaat dan Worship together.
Gereja yang sehat adalah gereja yg connected dan doing together. Jd dalam team harus ada hubungan yang kuat agar bisa bekerjasama, tidak ada yg bekerja sendiri.
Bicaralah What to be bukan what it is!
Team night is creativity! Tottaly different with sunday service! Tapi team sepenuhnya menunjang sunday service!
Satu contoh luar biasa dalam co-labs ini, ada satu WL dari Hillsong England, masih sangat belia (Jenny – 19 tahun) namun dia diberi kesempatan untuk berbicara di hadapan para pastor di event besar, dia berbicara tentang “SURRENDER and HONEST”.
Co-labs
Maximizing your time/a week in the life of creative pastor
5 hal penting dalam memaksimalkan waktu kita:
- Measure your win, harus dimengerti karena itu sangat berharga sekali. Mengukur sangat berpengaruh dalam menyusun team. Penting dalam pelaporan (analisa, statistik dan hal-hal yang crucial), kedisiplinan mengambil peran 60% (keterlambatan) – sulit merubah culture dan habit, tapi harus dilakukan.
- Understand the area to grow, why we need to grow? Secara rohani, kita adalah orang-orang yang tidak boleh kalah. Bagaimana team pastoral mendukung kita. Harus ada koneksi antara pelaksana program dengan team pastoral sebagai tempat kita bertanggung jawab.
- Your 1 your 3 and 5 (jaringan 1 — 3 — 5), ada job description. Siapa leader, siapa di bawah kita. Siapa core nya. Jangan ada yg overreact, bagaimana masing-masing saling memperhatikan. Harus tahu apa yang kita lakukan dan hasil apa yang diharapkan.
- Only do what you can only do. Pendelegasian dan pertanggungjawaban! Buat staff memiliki rasa nyaman karena ada seseorang di atas mereka yang melindunginya dalam melaksanakan tugas. Pendelegasian adalah mendelegasikan tugas, bukan mendelegasikan otoritas. Tanggung jawab tetap ada pada pemimpin.
- Your rest — paling penting! Kita tidak bisa mengerjakan segala sesuatu tapi kita jadi sakit atau kita tidak memperhatikan kesehatan staff kita. Kita harus punya waktu untuk keluarga, waktu untuk bersama dengan staff. Hal ini kelihatannya kecil, tapi sangat intentional! Kesehatan bukan hanya menyangkut jiwa dan roh saja tapi tubuh juga!
Kami mengucapkan terima kasih kepada Gembala Senior dan team penggembalaan, pengerja dan jemaat GBI Pasirkoja 39 atas kesempatan yang diberikan dan kepercayaannya kepada kami untuk mengikuti event Hillsong WCC 2017. Terimakasih juga kepada Tante Lis (mantan guru ABI Pasko 39 tahun 80an) dan Tante Nelly atas hospitality nya yang luar biasa.
Let’s build people and maximizing mission together
NB : Jemaat GBI Pasirkoja 39 Bandung dapat melihat dan mendengarkan seluruh khotbah secara lengkap yang disampaikan di Hillsong WC 2017 dalam bentuk flashdisk yang sudah tersedia di Perpustakaan GBI Pasirkoja 39.
Oleh: Zeffry, Bhernadethe S, Denisa E.
GBI Pasir Koja 39 Bandung