
Apa yang Anda pikirkan tentang gereja? Sekumpulan orang yang diselamatkan oleh pengorbanan Kristus yang disebut Kristen, yang menikmati persekutuan dengan berbagai acara berbalut kerohanian. Namun, tanpa disadari mereka menjadi kelompok eksklusif. Orang-orang di luar gereja hanya dianggap sebagai domba tersesat yang harus didoakan dan diinjili. Kita bangga menjadi orang-orang pilihan Allah, tetapi seringkali kita risih dengan orang-orang yang baru bergabung dengan kita atau orang-orang di luar gereja.
Seorang misionaris E. Stanley Jones bertemu dengan Gandhi dan bertanya,”Sekalipun Anda sering mengutip kata-kata Kristus, mengapa Anda kelihatannya keras menolak untuk menjadi pengikut-Nya?”
Jawab Gandhi, “Saya tidak pernah menolak Kristus. Saya suka Kristus Anda. Tapi saya tidak suka dengan orang Kristen Anda. Jika orang Kristen benar-benar hidup menurut ajaran Kristus, seperti yang ditemukan di dalam Alkitab, seluruh India sudah menjadi Kristen hari ini,” katanya lagi.
Kita akan mengerti alasan Gandhi mempunyai pandangan itu, jika kita melihat pada pengalamannya saat ia bekerja sebagai seorang pengacara di Afrika Selatan yang menjalani sistem apartheid pada waktu itu.
Di Minggu pagi saat ia mau melangkah masuk ke gereja, seorang penerima tamu menghalangi langkahnya. “Mau ke mana kamu orang kafir?” tanya seorang pria berkulit putih padanya dengan nada yang angkuh. Gandhi menjawab, “Saya ingin mengikuti ibadah di sini.” Penatua gereja itu membentaknya dengan berkata, “Tidak ada ruang untuk orang kafir di gereja ini. Enyahlah dari sini atau saya akan meminta orang untuk melemparkan kamu keluar!”
Suatu tindakan keangkuhan dari seorang yang seharusnya mewakili Kristus menghentikan langkah seorang Gandhi untuk mempertimbangkan Kekristenan bagi dirinya. Gandhi berkata bahwa terdapat ribuan pria dan wanita hari ini, yang sekalipun tidak pernah mendengar tentang Alkitab atau Yesus, tetapi memiliki iman dan lebih takut pada Tuhan ketimbang orang-orang Kristen yang mengenal Alkitab.
Gandhi pernah berkata, “Penginjilan paling efektif adalah hidup di dalam Injil, menjalaninya dari awal, pertengahan, dan akhir. Bukan saja mengkhotbahkannya, tapi hidup menurut terang itu. Jika Anda mengutip Yohanes 3:16 dan meminta mereka untuk menyakininya, itu sama sekali tidak menarik bagi saya, dan saya yakin, orang lain juga tidak akan memahaminya. Injil itu lebih kuat kuasanya saat dipraktekan ketimbang dikhotbahkan.”
“Bunga mawar tidak perlu berkhotbah. Ia hanya menebarkan wewangiannya. Aroma itu adalah suatu khotbah tersendiri. Aroma kesalehan dan kehidupan spiritual jauh lebih halus dari wewangian bunga mawar.” Tidak ada orang Kristen yang mawas diri yang akan menyangkal kebenaran kata-kata Gandhi. Di lain pertemuan dengan seorang misionaris, Gandhi berkata, “Jika Yesus datang kembali ke bumi. Dia akan memungkiri banyak hal yang dilakukan di dalam nama Kekristenan.”
Hari ini, mungkin gereja tidak berteriak, “Pergilah kafir!” kepada orang yang belum percaya. Gereja mungkin menerima dengan penuh senyuman dan salam. Namun apakah kita sebagai pengikut Kristus benar-benar mengasihi jiwa-jiwa itu? Apakah kita siap menginvestasikan waktu, telinga untuk mendengarkan keluhan, bahkan uang untuk jiwa-jiwa yang baru? Ingatlah, ketika kita berdoa dan menginjili orang-orang untuk percaya Kristus, jiwa-jiwa tersebut bukan orang-orang yang hebat dan siap melayani. Mereka mungkin adalah pelacur, LGBT, memiliki penyakit keras bahkan menular, memiliki latar belakang yang hancur, karakter yang buruk, menyebalkan, dan sebagainya. Gereja harus siap untuk menerima mereka yang harus berproses dengan kesabaran. Ingatlah, Kristus yang tidak pernah menolak siapapun, seburuk apapun orang itu.
Oleh: Erly
GBI Pasir Koja 39 Bandung