Generasi Milennial menjawab tantangan Bonus Demografi

Dalam sebuah pidatonya saat menghadiri acara puncak peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-45 di Ancol beberapa waktu silam, Presiden Jokowi menyinggung soal bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia mulai tahun 2020 mendatang. “Kita punya kesempatan yang besar, tetapi jumlah yang besar itu ibarat pedang bermata dua bisa berkah, tapi bisa juga mendatangkan masalah,” begitu ungkapnya.

Apa itu Bonus Demografi? Berdasarkan data dari BKKBN, proyeksi penduduk usia produktif (15-64 tahun) pada tahun 2020 akan mencapai 180 juta jiwa, sementara penduduk berusia non-produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun) mengalami penurunan jadi hanya sekitar 60 juta jiwa. Hal ini berarti, kita akan mendapatkan surplus penduduk usia produktif  hingga 70% dari total seluruh penduduk Indonesia di tahun tersebut. Lebih banyak penduduk usia produktif, berarti lebih banyak pula kesempatan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi karena yang menggerakkan roda perekonomian adalah mereka yang merupakan angkatan kerja. Setuju?  Inilah yang disebut Bonus Demografi.

Dengan jumlah penduduk usia produktif sebanyak itu, pasti pengembangan-pengembangan dan pembangunan yang bisa dilakukan pun tidak kalah banyak. Apalagi, bonus demografi ini nantinya akan didominasi oleh Generasi Z dan Milllennial yang terkenal dengan ide-ide kreatif dan inovatifnya. Selain bisa mendatangkan berkah, Bonus Demografi nyatanya juga bisa jadi sumber masalah. Sekarang, jumlah penduduk usia produktif membludak, artinya tenaga kerja pun melimpah. Tapi, apa lah guna tenaga kerja yang melimpah kalau lapangan kerjanya tidak ada dan tidak dipersenjatai dengan kemampuan dan skill yang mumpuni untuk bersaing di dunia luar. Yang ada pengangguran semakin menjamur dan beban negara jadi bertambah.

Oleh karena itu, kita terutama generasi muda harus melakukan sesuatu untuk mencegah agar bonus demografi tidak berubah jadi bencana demografi. Korea Selatan, pada tahun 1970-an berhasil memanfaatkan momentum bonus demografi mereka dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi mereka sebesar kurang lebih 10%. Hasilnya, Korea Selatan kini jadi salah satu negara termaju di benua Asia dan bahkan di seluruh dunia. Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan saat itu diikuti oleh pertumbuhan gereja yang luar biasa.  Rahasianya? Peningkatan kualitas human capital anak-anak muda yang menjadi pondasi utama dari bonus demografi tersebut. Sebagai pondasi utama bonus demografi, there must be something we can do to maximize this windows of opportunity, right?

Lalu bagaimana kita sebagai umat Kristen menyikapi Bonus Demografi ini dan dapat memahami pola pikir generasi millennial, karena banyak diantara mereka yang tidak mengenal Tuhan ataupun jika sudah mengenal Tuhan, mereka meragukannya?

Masa depan gereja ada di tangan generasi muda, oleh karena itu raihlah generasi ini untuk mengenal Kristus. Libatkan generasi muda dalam peran membangun pelayanan di gereja (make a room). Gereja kadang juga lupa, setelah generasi milenial ini dari Senin sampai Jumat disibukkan dengan pekerjaan ataupun pendidikannya dan saat beribadah, gereja masih saja tidak menyegarkan mereka dengan firman Tuhan. Mereka jadi tidak nyaman karena beranggapan tidak ada tempat (komunitas) yang mampu menjawab kebutuhan mereka terhadap masalah yang dialami. Mereka tidak memiliki ruang untuk berekspresi dan menunjukkan jatidiri mereka.

Berikan pengajaran yang sehat dan buat mereka tertanam di gereja lokal. Generasi milenial ini punya kecenderungan egosentris yang tinggi. Mereka akan mencari tempat dimana mereka nyaman untuk bernaung, seperti gereja. Beberapa dari mereka berganti-ganti gereja demi menemukan komunitas yang ‘pas’. Padahal semua gereja harusnya bisa menjadi tempat mereka bernaung tinggal bagaimana kita memfasilitasi mereka, berikan mereka ruang tapi jangan permisif akan dosa. Mungkin mereka berbuat salah atau pelanggaran tapi jangan biarkan mereka hidup dalam dosa itu.

Meraih prestasi dan memiliki banyak kemampuan itu bagus, tapi kalau sudah menomorduakan hubungan dengan Tuhan, tidak sedikit orang tua milenial yang lebih mementingkan pendidikan dan kemampuan anak dibandingkan mereka bergabung dalam acara gereja ataupun pelayanan. Bukan hanya itu saja, generasi milenial juga cenderung sibuk. Tuntutan ekonomi yang begitu tinggi membuat mereka punya kesibukan sampai malam bahkan weekend sekalipun.

so, come on church…..mari kita bangun generasi millennial ini, bangkitkan mereka menjadi generasi penerus bagi GBI Pasirkoja 39 Bandung. Beri mereka ruang dan jangan hakimi mereka.

Oleh: Zeffry

 

 

Check Also

Artikel Doa

KOSMO

Oleh: Sonny Syam Matius 28:19-20 (TB) Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah …