
Atmosfer menyenangkan dan bersahabat sangat kental dirasakan ketika mendatangi Hillsong Worship & Creative Conference (WCC). Orang orang dari berbagai negara datang untuk belajar dan menikmati kebersamaan. Sepanjang konferensi 3 hari tersebut catatan selalu saya siapkan untuk hal-hal yang perlu ditangkap dari konferensi ini, baik yang secara gamblang disampaikan pembicara maupun kesan yang didapatkan dari pengalaman sepanjang konferensi.
Hillsong yang kini berhasil menjadi gereja yang memberkati lintas negara tentu saja memiliki titik awal. Salah satu pengajar di Hillsong College menyampaikan bahwa proses yang dilalui panjang, tetapi seringkali orang hanya melihat puncak kesuksesan tanpa mengerti perjuangan yang telah dilalui. Banyak gereja yang meremehkan apa yang dapat mereka kerjakan dalam 10 tahun ke depan, namun berekspektasi berlebihan pada apa yang dapat mereka lakukan dalam 1 tahun. Andaikan kita mengambil foto seorang anak pada hari ini dan kita memotretnya kembali esok hari, mungkin orang lain tidak dapat membedakan mana foto yang diambil kemarin atau foto yang diambil hari ini. Namun, bila kita memotret seorang anak pada hari ini lalu kembali memotretnya 10 tahun kemudian, tentu dengan mudah orang dapat membedakan kedua foto tersebut. Ilustrasi ini menggambarkan bahwa hal besar dibangun hari demi hari! Gereja perlu fokus melihat pada hal yang memberikan dampak jangka panjang. Tidak perlu berkecil hati ketika perkembangan apa yang dikerjakan selama satu tahun berjalan seakan tak signifikan, selama apa yang telah dikerjakan dalam setahun tersebut memberikan kontribusi pada visi 10 tahun. Seperti ketika membangun sebuah gedung, membangun pondasi yang membutuhkan waktu lama dan hasilnya seakan tak nampak signifikan. Akan tetapi hal itulah yang krusial karena tanpa pondasi yang baik, gedung itu tidak dapat berdiri.
Ketika kita membangun gereja dan komunitas seringkali tantangannya sukar bagaikan menyusun puzzle. Bahkan seringkali tidak semua potongan puzzle-nya kita miliki. Lantas bagaimana mengerjakan puzzle menjadi satu gambar yang utuh bila tidak semua potongan puzzle dimiliki? Dalam 1 Korintus 13:12, Paulus menyampaikan bahwa kita melihat gambaran yang samar-samar dan mengenal dengan tidak sempurna akan tetapi ia tetap melayani dengan kondisi demikian. Ketika Tuhan memberi sebuah visi, seringkali tidak dilengkapi dengan rincian bagaimana menggenapi visi tersebut. Abraham diberikan visi bahwa keturunannya akan sebanyak bintang di langit dan menjadi berkat bagi banyak bangsa, namun bagaimana rincian visi tersebut tidaklah ia ketahui. Bagian Abraham ialah percaya dan taat mengikuti rencana Allah.
Visi tidak hanya untuk pemimpin saja, namun untuk seluruh pengikut atau jemaat. Visi dari Allah yang didapatkan oleh pemimpin perlu meresap ke seluruh jemaat. Ketika bangsa Israel mengintai tanah Kanaan, hanya dua dari dua belas mata-mata yang memiliki keyakinan akan visi yang diteruskan pada mereka. Kedua orang tersebut ialah Yosua dan Kaleb. Yosua yang kemudian menjadi pemimpin bangsa Israel dan Kaleb yang menjadi pengikut, pendukung dan sahabat setia Yosua. Mungkin hanya bisa ada satu pemimpin seperti Yosua, namun setiap kita bisa menjadi seperti Kaleb. Kaleb ialah orang yang sama-sama menangkap dan mengerti visi yang diberikan Tuhan bagi Israel, namun ia tidak ngotot jadi orang nomor 1 di Israel dan ia pun bukan orang yang mundur ketika tidak dipilih menjadi nomor 1. Kaleb menjadi orang yang mengerti visi dan menjadi pengikut yang mendukung dengan setia. Hal seperti inilah yang dibutuhkan gereja untuk menjadi hebat, bukan hanya tentang leadership namun juga followship.
Saya rasa hal inilah yang dialami oleh gereja yang hebat. Dukungan kuat dari setiap orang yang menangkap visi yang sama walaupun ditempatkan diberbagai jabatan dan pelayanan berbeda. Mereka yang datang dari berbagai generasi berbeda dapat bergerak bersama saling mendukung dengan penuh rasa hormat kepada yang lebih senior dan penuh penghargaan kepada yang lebih muda dengan cara memberi kepercayaan dan dukungan satu dengan lainnya. Hal ini dilakukan karena mereka sama-sama mengerti bahwa Allah-lah yang bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap yang mengasihi-Nya. Amin.
Merupakan pengalaman pertama hadir di Hillsong Worship and Creative Conference. Berangkat bersama Ivan Stefanus dan Josafat Yohan 17 Oktober 2019. Kami berkesempatan beribadah di Hillsong. Banyak hal yang saya kagumi mengenai bagaimana mereka memperlakukan orang dalam pelayanan mereka . Kami disambut oleh pelayan “tukang parkir”, yang sangat supel seakan-akan ia sangat terhormat dipercaya melayani sebagai “tukang parkir” dan bahkan membantu mengambil foto kami bertiga. Hillsong juga memiliki pelayanan antar jemput gratis bagi jemaatnya, menyediakan coffee shop, tempat nongkrong, dan toko souvenir di lobby. Ibadah pun terasa berbeda, jemaat secara sigap berdiri tanpa ada yang menyuruh menyambut ibadah dimulai dalam hitungan mundur. Pelayan musik pujian memakai baju yang casual jadi jemaat pun merasa pelayan bagian dari mereka yang hadir. Saya kagum akan sikap jemaat ketika pujian penyembahan berlangsung, mereka mengangkat tangan, berlutut, bahkan melompat dengan sendirinya. Ketika firman dibagikan, saya kagum akan betapa jelas poin per poin firman yang dibagikan. Saya terkagum akan respon jemaat dan betapa hormatnya mereka kepada seseorang yang dipercaya berdiri di mimbar. Jemaat memberikan respon positif seperti kata-kata (“ya”/”amin”/”that’s good”/”come on”) bahkan tepuk tangan pada tiap lirik lagu/kata/firman/poin yang kuat. Sesi firman Tuhan sangat terbantu oleh pelayan yang mengoperasikan LED, bagaimana poin per poin dan ayat ditampilkan secara gamblang dan tepat waktu. Ayat yang ditampilkan bisa dari berbagai macam versi alkitab (NIV/MSG/KJV/AMP). Pelayanan ini sangat membantu jemaat yang mungkin hanya punya alkitab buku yang hanya 1 versi, atau mungkin jemaat/petobat baru yang tidak memiliki alkitab. Pada akhir ibadah, Hillsong selalu menantang setiap orang yang datang untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat lalu berdoa atas mereka. Setelah ibadah selesai, gembala mengundang setiap jemaat untuk makan malam bersama di parkiran belakang dimana dijual makanan dan minuman yang tentunya tidak gratis. Saya kagum pada Hillsong atas pemberian gratis “The Word” yaitu alkitab perjanjian baru dalam bentuk seperti magazine yang didesain sedemikian rupa agar menarik untuk dibaca. Menurut pendapat saya hal ini sesuatu terobosan yang baru. Jika saya membaca dimana pun. Orang awam tidak langsung menolak/merendahkan saya bahkan mereka akan penasaran bahwa saya sedang membaca buku apa dan ketika mereka bertanya, saya dapat berbicara mengenai Kristus. Saat ini Hillsong sedang bergerak dalam Hillsong Channel, yaitu channel televisi dimana setiap orang di rumah bisa mengaksesnya. Target dari Hillsong Channel adalah orang-orang di pedalaman, karena yang dapat masuk ke pedalaman dengan mudah adalah TV. Saya kagum akan semua hal di atas karena yang Hillsong lakukan itu minggu demi minggu, bukan pada acara tertentu saja.
Saat Hillsong WCC 2019 dimulai. Di tempat duduk, kami menemukan amplop berisikan secarik kertas. Ketika di buka, itu adalah doa bagi orang yang akan duduk di tempat itu. Kertas tersebut ditulis tangan oleh tim kreatif dan sukarelawan dari Hillsong. Saya sangat tertegun membaca doa itu, karena doa itu berbicara tentang diri saya. Teman saya pun merasakan hal yang sama. Saya sadar bahwa itu bukan hal biasa, hal itu adalah hal yang profetik/kenabian. Roh Kudus bekerja melalui hal-hal profetik.
Saya senang bagaimana Hillsong bergerak dalam pelayanan anak muda (Hillsong Young and Free). Mereka menciptakan lagu tidak sembarangan, mereka berdoa dan selalu bertanya pada Tuhan tentang apa yang anak muda harus katakan atau berprofetik pada musim ini. Menurut pemimpin Hillsong Young and Free, gereja perlu memiliki sikap “gold digger” tapi dalam hal baik. Potensi itu bagaikan emas, emas itu harus digali dan biasanya ada di dalam tempat tersembunyi. Jika gereja mengerti hal ini, gereja pastinya tidak akan membiarkan satu orang pun tidak diperhatikan. Banyak anak muda di Hillsong Y&F yang sekarang dipercaya memimpin banyak hal yang dahulu bukan siapa-siapa. Mereka bisa seperti ini sekarang karena ada pemimpin yang terus membagikan hatinya, visinya dan menggali potensi mereka. Setiap mereka adalah risiko, Hillsong berani mengambil risiko. Mereka diberikan kesempatan dan ruang untuk kesalahan, dan terus dibimbing. Berbicara tentang pujian penyembahan, tantangan dalam dalam ibadah anak muda adalah dimana gadget adalah sesuatu yang lebih menarik daripada firman dan pujian penyembahan. Oleh sebab itu, pelayan memiliki tugas untuk “engage” atau memikat seluruh ruangan. Seorang pelayan perlu sadar bahwa pelayan diberikan tanggung jawab untuk memimpin, menunjukan Yesus. Seorang Worship Leader perlu memiliki hikmat ketika bernarasi, karena anak muda butuh seseorang yang berbicara kepada mereka pribadi, bukan sekedar berbicara kepada jemaat. Oleh sebab itu, penting sekali membangun hubungan dengan anak-anak muda dalam komunitas yang kita miliki dan mengasihi mereka apa adanya. Gereja akan menjadi tahu hal hal yang sedang menjadi masalah di anak muda jika ada hubungan yang akrab dengan anak anak muda. Jika satu sama lain sudah akrab, kepercayaan akan terbangun, segala kritik/masukan/pujian akan lebih mudah diterima, dan akan minim risiko miskomunikasi.
Dalam pengajaran Hillsong mengenai kepemimpinan. Diajarkan “don’t just lead the worship, lead the meeting”. Bagaimana setiap pelayan Hillsong dibentuk tidak hanya memimpin pujian penyembahan saja, tapi keseluruhan pertemuan ibadah. Ketika melayani maupun tidak, mereka perlu sadar bahwa mereka diberikan tanggung jawab yang berharga atas atmosfer keseluruhan pertemuan ibadah, mereka diajarkan bagaimana mereka dapat berpartisipasi untuk membuat atmosfer ibadah menjadi atmosfer yang menyenangkan. Partisipasi melalui hal-hal yang praktis semacam duduk hadir dalam ibadah, mengangkat tangan ketika menyembah, menyorakkan dan tersenyum pada pembicara, berkata “amen”, membawa alkitab, mencatat khotbah, tidak membuka sosmed ketika ibadah. Partisipasi sangat membantu memimpin keseluruhan pertemuan ibadah.
Hillsong juga mengajarkan bagaimana tetap memimpin walaupun dalam kondisi yang sedang penuh tantangan atau tertekan. Hubungan pribadi dengan Yesus adalah hal inti untuk membantu mereka. Kita datang untuk menyembah, dan menyembah itu bukan berfokus pada diri kita dan apa yang sedang kita rasakan. Menyembah itu berfokus kepada Tuhan, apa yang kita bawa pada Tuhan. Tuhan yang mengangkat kepala kita (Maz 3:4 NIV), ketika kita hanya memandang pada-Nya bukan pada diri kita. Tuhan memberikan perspektif atau cara pandang yang berbeda. Pelayan selain bertanggung jawab atas ibadah, pastinya bertanggung jawab juga atas latihan. Bagaimana mereka secara tim sangat penting dapat menyatu, karena dalam kesatuan Tuhan mencurahkan berkat (Maz 133:1-3 NIV). Mereka seringkali sebelum latihan ada penyembahan bersama tim yang akan melayani. Sungguh sangat penting untuk memimpin diri kita sendiri untuk keluar dari ketakutan, kecemasan, melangkah dengan iman, sebelum memimpin seluruh jemaat dengan iman (1 Kor 14:26 TPT). Hillsong mengajarkan pelayanan dengan hati yang gembira dan rasa syukur. Dalam perspektif kepemimpinan, harus disadari bahwa pemimpin harus lebih daripada orang-orang dibawahnya. Jika ingin bawahannya senang, maka pemimpinnya harus lebih senang. Bagaimana pemimpin akan membawa orang ke tempat yang pemimpin tersebut bahkan tidak pernah mencapainya? Seringkali ketika pemimpin telah berjuang 100%, bawahannya hanya akan berjuang 60% saja. Jika kita sebagai pemimpin merindukan bawahan kita berjuang 100%, maka sebagai pemimpin perlu berjuang 150% bahkan 200% dan hal itu pastinya menjadikan kita lebih lelah. Hillsong juga mengajarkan bahwa kita perlu memiliki kepercayaan diri yang tinggi, kita harus jadi diri kita yang terbaik. Jika kita mengidolakan seseorang, walaupun kita mengikuti orang itu sampai semirip mungkin. Kita pasti selalu menjadi kedua terbaik.
Mimbar bukan milik pelayan, tapi milik gembala senior kita. Jadi, sangatlah penting bertukar pikiran mengenai visi gembala kita dan kita harus bisa mendelegasikan visi itu pada saat memimpin ibadah. Rasa percaya itu didapatkan dari komunikasi, konsistensi dan karakter. Rasa percaya perlu juga dijaga dan dihormati. Jika kita diberikan kepercayaan, terima itu dengan rasa hormat dan lakukan dengan percaya diri. Jika kita mendapatkan feedback yang buruk dari gembala senior, kita perlu terbuka akan teguran yang mungkin dapat membuat kita bertumbuh dan ingat bahwa mimbar bukanlah milik kita tapi mimbar gembala senior. Jadi, kita perlu tunduk pada otoritas di atas kita.
Oleh: Ivan Stefanus & Hagi Aryanto
GBI Pasir Koja 39 Bandung