Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Dodo Suhendar mengatakan, hingga 14 Desember 2017, pihaknya mencatat ada 153 kasus Difteri. Dari jumlah tersebut, 14 orang dinyatakan meninggal (http://regional.kompas.com).
Bukan tidak mungkin penyakit ini bisa makin menyebar, bahkan pada orang dewasa. Menyadari hal tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) memberikan rekomendasi untuk imunisasi pada orang dewasa. PAPDI juga menyebut bahwa orang dewasa merupakan kelompok risiko tinggi Difteri. Terutama pada orang yang kontak langsung dengan anak terinfeksi Difteri, seperti petugas rumah sakit dan medis, guru, serta anggota keluarga dari anak yang terinfeksi Difteri. (http://sains.kompas.com/read/2017/12/15/170400723/Difteri-merebak-dokter-sarankan-orang-dewasa-imunisasi-ulang).
Hari-hari ini kita dihantui oleh berbagai macam berita baik media cetak ataupun elektronik akan berita tentang wabah Difteri. Apa itu Difteri? Difteri adalah satu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae, penyakit ini masih mewabah sampai sekarang dan umumnya terjadi di negara-negara yang belum berkembang yang sistem kesehatan dan sistem immunisasi dasarnya nya belum baik.
Menurut WHO, tercatat ada 7.097 kasus Difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus Difteri menjadi masalah di Indonesia – ini terjadi karena adanya immunity gap, yaitu kesenjangan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah, terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap Difteri, karena kelompok ini tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya (akhir-akhir ini, di beberapa daerah di Indonesia, muncul penolakan terhadap imunisasi). Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi Difteri yang lengkap.
Difteri merupakan “airborne disease” artinya ditularkan melalui udara, dari percikan ludah penderita. Kemudian melalui kontak dengan barang-barang yang terkontaminasi (misalnya handuk, tissue, gelas minum dan lain-lain) atau bersentuhan langsung dengan luka dari kulit penderita.
Apa sih gejala-gejala dari Difteri? Gejala akan muncul 2 – 3 hari setelah kontak dengan penderita Difteri. Gejala yang muncul ialah sakit menelan, demam tinggi, batuk yang keras atau menggonggong, sulit bernapas, mengeluarkan lendir dari mulut dan hidung, dan penderita akan terlihat lemah. Akan timbul juga pembesaran kelenjar getah bening di leher dan terasa sakit. Lapisan selaput berwarna putih keabu-abuan tebal terbentuk menutupi tenggorokan (di bagian amandel). Pada kasus yang parah, infeksi akan menyebar ke jantung, sistem saraf dan kulit.
Bagaimana cara mencegah agar tidak tertular Difteri? Difteri termasuk penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan imunisasi terhadap Difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Vaksin Difteri diberikan melalui program imunisasi dasar DPT (Difteri, Tetanus, Pertusis), sebanyak lima kali sejak bayi berusia 2 bulan, kemudian usia 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dan usia SD kelas 1 – 2, kemudian booster di usia 10 tahun dan 18 tahun. Untuk anak usia di atas 7 tahun diberikan vaksinasi Td atau Tdap. Ini juga termasuk untuk orang dewasa.
Periksa status imunisasi putra-putri kita untuk mengetahui apakah status imunisasinya sudah lengkap sesuai jadwal, jika belum lengkap segeralah lengkapi. Kemudian terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, biasakan gunakan masker bila sedang batuk dan segera berobat ke pelayanan kesehatan terdekat jika ada yang mengalami demam disertai nyeri menelan, terutama jika didapatkan selaput putih keabuan di tenggorokan.
Oleh: Zeffry, dr.
GBI Pasir Koja 39 Bandung