Demam Berdarah

Oleh: Pdp. Zeffry, dr.

Saat ini kita sedang fokus pada pandemic Covid19 yang melanda seluruh negara di bumi ini tanpa terkecuali, termasuk Indonesia. Kita semua sedang berusaha agar pandemic ini cepat berlalu. Namun, satu hal penting jangan dilupakan adalah wabah tahunan Demam Berdarah Dengue (Dengue Hemorrhagic Fever = DHF), kita sudah memasuki musim kemarau, dan inilah saatnya wabah itu dimulai.

Demam berdarah atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Dengue. Virus ini masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang hidup di wilayah tropis dan subtropis. Diperkirakan terdapat setidaknya 50 juta kasus demam berdarah di seluruh dunia tiap tahunnya.

Demam berdarah merupakan salah satu penyakit tropis yang banyak ditemukan di Indonesia. Menurut data yang dihimpun Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, demam berdarah telah menjadi penyakit endemik di Indonesia sejak tahun 1968. Sejak itu, penyakit ini menjadi salah satu masalah utama di Indonesia, dengan penyebaran dan jumlah penderita yang cenderung meningkat setiap tahun.

Gejala DBD meliputi:

  • Suhu badan tinggi yang bisa mencapai 40 derajat Celcius atau lebih.
  • Sakit kepala berat
  • Nyeri pada sendi, otot, dan tulang.
  • Hilang nafsu makan.
  • Nyeri pada bagian belakang mata.
  • Mual dan muntah.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Ruam kemerahan (muncul sekitar 2-5 hari setelah demam).

Pengobatan yang dilakukan adalah untuk mengatasi gejala dan mencegah infeksi virus semakin memburuk.

Dokter akan menganjurkan pasien melakukan beberapa hal berikut :

  • Minum banyak cairan dan istirahat yang cukup.
  • Mengonsumsi obat penurun panas, untuk meredakan demam.

                DBD dapat dicegah melalui kegiatan PSN (pemberantasan sarang nyamuk).

                Metode PSN lain adalah dengan rutin menjalankan 3M-Plus, yaitu:

  • Menguras tempat penampungan air, seperti bak mandi atau toren, minimal tiap pekan.
  • Menutup rapat tempat penampungan air.
  • Mengubur / mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Selain itu, lakukan pula langkah Plus untuk membantu pencegahan. Langkah Plus antara lain dengan mengatur cahaya yang cukup di dalam rumah, memasang kawat anti nyamuk di ventilasi rumah, menaburkan bubuk larvasida (abate) pada penampungan air yang sulit dikuras, menggunakan kelambu saat tidur, menanam tumbuhan pengusir nyamuk, dan menghentikan kebiasaan menggantung pakaian.

Check Also

Kesehatan April 26 copy

ASAM LAMBUNG NAIK,TERASA TERBAKAR & NYERI DI DADA : Keluhan Sepele Yang Tidak Boleh Diabaikan

Oleh: Andreas Adiwinata, dr., M.Biomed Banyak orang pernah merasakan sensasi panas di dada setelah makan, …