Care Cell Maret 2022

Care Cell Maret 2022 - Tuhan menghendaki agar kita tidak berhenti berdoa sampai sesuatu terjadi, atau sampai kita mendapat jawaban atas doa
Oleh: Pdp.Dr. Ferry Simanjuntak

Care Cell Maret 2022

Pertemuan I Care Cell Maret 2022
Pray Until Something Happens (Berdoa Sampai Sesuatu Terjadi) (Luk. 18:1-8)

Pendahuluan
Tuhan menghendaki agar kita tidak berhenti berdoa sampai sesuatu terjadi, atau sampai kita mendapat jawaban atas doa-doa kita. Tuhan Yesus mengajarkan agar kita terus bertekun dalam doa dalam berbagai kesempatan. Salah satunya adalah melalui perumpamaan hakim yang lalim dalam Lukas 18:1-8. Care Cell Maret 2022

Isi

Ada dua pelajaran penting yang dapat kita terapkan dalam kehidupan doa kita melalui perumpamaan ini, yaitu:
1. Jaminan jawaban doa
Hakim lalim dalam perumpamaan ini sama sekali bukanlah gambaran akan Allah. Sebaliknya karakter dan motivasi antara hakim lalim tersebut dengan Allah sangat bertolak belakang. Hakim itu lalim, tidak menghormati siapa pun, tidak punya belas kasihan. Sementara, Allah adalah Bapa kita yang mengasihi kita.
Jadi bila hakim yang lalim itu dapat membenarkan atau membela janda tersebut padahal dia adalah seorang yang lalim, tidak menghormati siapa pun dan tidak punya belas kasihan. Apalagi Bapa kita di sorga yang penuh belas kasihan. Tentu saja Bapa kita di sorga pasti membenarkan kita dan mendengar doa kita.
Hakim itu pun tidak punya hubungan atau koneksi apa pun dengan janda tersebut, tapi ia akhirnya membenarkan perkara janda tersebut. Sementara Bapa kita di sorga mempunyai hubungan yang penuh kasih dengan kita anak-anak-Nya, sudah sangat pasti Ia akan membenarkan kita.
2. Ketekunan orang percaya dalam doa
Janda dalam perumpamaan ini merupakan gambaran orang-orang percaya yang ada di dunia ini. Seperti janda itu, orang-orang percaya di dunia ini digambarkan secara ekstrim sebagai miskin dan tidak berdaya, sehingga tidak punya pengaruh apa pun untuk mengubah situasi. Tidak punya pengaruh politis, ekonomi, sosial. Itu sebabnya orang-orang percaya tidak diperhitungkan orang-orang dunia (yang digambarkan sebagai hakim yang lalim itu), tetapi mereka secara khusus diperhatikan dan didengar oleh Allah.
Karena satu-satunya pembela orang percaya adalah Allah yang ada di sorga, maka patutlah orang-orang percaya bertekun dalam doa.

Kesimpulan
Allah bukanlah pribadi yang lalim, arogan, tanpa belas kasihan. Ia adalah Bapa yang penuh kasih dan pasti membenarkan kita serta menjawab doa-doa kita. Ini seharusnya mendorong kita untuk berdoa dengan tekun. Mungkin di dunia kita bukanlah orang berpengaruh dan tidak mempunyai kekuatan untuk mengubah situasi kita, tetapi di sorga kita mempunyai Bapa yang berkuasa untuk mengubah situasi dan menjawab doa-doa kita.

Pertanyaan Diskusi:
1. Pernahkah saudara merasa bosan berdoa? Menurut saudara apa yang membuat saudara merasa bosan untuk berdoa?
2. Menurut saudara, apakah langkah-langkah sederhana yang dapat saudara lakukan untuk membangun ketekunan berdoa? Sebutkanlah dua langkah praktis yang dapat saudara lakukan!


Pertemuan II
Three Levels of Prayer (Tiga Tingkatan Doa) (Mat. 7:7-11; Luk. 11:9-13)

Pendahuluan
Setiap orang mempunyai caranya masing-masing untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tuhan Yesus memberikan tiga cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan hidup kita anak-anak-Nya, yaitu dengan cara: meminta, mencari dan mengetok. Namun kepada siapa tiga tindakan tersebut kita alamatkan akan sangat menentukan hasil yang kita akan dapatkan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa tiga tindakan tersebut harus kita alamatkan kepada Bapa kita di sorga melalui doa.

Isi
1. Meminta
Dalam Lukas 11:5-8, tindakan meminta kepada Allah digambarkan seperti seseorang yang kedatangan tamu tengah malam. Karena tidak punya persediaan roti, maka ia pergi memintanya kepada tetangganya. Akhirnya ia mendapatkan roti yang ia butuhkan untuk dihidangkan kepada tamunya.
Tengah malam merupakan suatu keadaan darurat dan bersifat mendesak. Roti juga adalah gambaran kebutuhan pokok manusia yang bersifat darurat dan mendesak, karena kelangsungan hidup kita bergantung pada adanya persediaan bahan pokok.
Tentu saja melalui kisah ini, Tuhan Yesus hendak mengajarkan kepada kita agar jangan ragu meminta kebutuhan-kebutuhan pokok kita sehari-hari kepada Bapa kita di sorga, dan Ia pasti memberikannya kepada kita anak-anak-Nya.
2. Mencari
Mencari merupakan usaha yang harus dilakukan dengan tekun. Demikian juga saat kita berdoa. Kadang kita perlu berdoa berulang-ulang beberapa hari, minggu, bulan atau tahun untuk suatu kebutuhan tertentu atau untuk suatu pokok doa tertentu. Sama seperti orang yang sedang mencari harus melakukannya berulang-ulang dengan tekun, tindakan doa yang berulang-ulang tersebut menunjukkan sikap yang tekun dalam doa. Jadi, Tuhan Yesus mengajarkan agar kita bertekun dalam doa.
3. Mengetuk
Tindakan orang yang mengetuk pintu tengah malam adalah gambaran sikap yang tidak malu karena dipaksa oleh suatu kebutuhan yang sangat mendesak. Jadi Tuhan Yesus mengajarkan kita bahwa kalau kita punya suatu kebutuhan kita dapat datang kepada Bapa di sorga tanpa perlu merasa malu, tanpa perlu merasa sungkan, jangan cepat merasa bosan. Punyalah sikap yang terus-menerus mendesak dalam doa sampai doa saudara dikabulkan.

Kesimpulan:
Bapa di sorga adalah pemelihara hidup kita. Ia adalah Bapa yang senang bila kita datang kepada-Nya di dalam doa, baik untuk bersekutu dengan Dia maupun bila kita mengajukan permohonan karena suatu kebutuhan tertentu. Dia menghendaki agar kita meminta, mencari dan mengetuk melalui doa kepada-Nya. Tuhan berjanji untuk menjawab doa-doa kita.

Pertanyaan Diskusi:
1. Mintalah satu atau dua anggota care cell saudara untuk bersaksi tentang bagaimana Allah menjawab doa-doa mereka sehingga anggota yang lain mendapat dorongan semangat untuk terus tekun berdoa!
2. Ambillah waktu untuk berdoa bersama-sama setelah setiap anggota care cell menyampaikan pokok-pokok doa yang ingin didoakan!


Pertemuan III
Prayer as a Lifestyle (Doa Sebagai Gaya Hidup – Belajar dari Tuhan Yesus)
(Mark. 1:35; Luk. 6:12-16; Mat. 26:36-44)

Pendahuluan
Banyak orang Kristen menjadikan doa hanya sebagai ban serep. Artinya mereka hanya berdoa ketika hidup mereka sedang mengalami gangguan atau masalah. Tuhan menghendaki agar doa menjadi gaya hidup kita. Tuhan Yesus sendiri telah memberi teladan dalam hal menjadikan doa sebagai gaya hidup. Ibrani 5:7 berkata, “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.” Ayat ini jelas mengatakan bahwa dalam sepanjang hidup-Nya Tuhan Yesus telah mempersembahkan doa bahkan dengan ratap tangis. Care Cell Maret 2022

Isi
Di dalam hal-hal apa sajakah doa terlihat sebagai gaya hidup dalam kehidupan Tuhan Yesus?
1. Setiap kali mau memulai aktivitas
Tuhan Yesus selalu berdoa sebelum memulai aktivitasnya setiap hari. Untuk itu Ia berdoa pagi-pagi sekali (Mrk. 1:35). Artinya, salah satu cara menjadikan doa sebagai gaya hidup adalah berdoa sebelum memulai aktivitas apa pun setiap hari.
2. Setiap kali membuat keputusan
Sebelum memilih 12 murid, Tuhan Yesus berdoa semalam-malaman (Luk. 6:12-16). Ini menunjukkan bahwa sebelum membuat keputusan apa pun Tuhan Yesus selalu berdoa dengan sungguh-sungguh lebih dahulu. Kita pun dapat menjadikan doa sebagai gaya hidup dengan cara berdoa terlebih dahulu dengan sungguh-sungguh sebelum membuat keputusan apa pun dalam kehidupan kita.
3. Saat menderita
Sesaat sebelum menghadapi salib, Tuhan Yesus berdoa pula dengan sungguh-sungguh. Salib merupakan penderitaan yang harus dialami oleh Tuhan Yesus untuk menyediakan penebusan bagi kita orang berdosa. Demikian juga dengan kita sekarang, pada waktu kita menderita, kita pun sepatutnya berdoa pula dengan sungguh-sungguh.

Kesimpulan
Penting sekali menjadikan doa sebagai gaya hidup, sebagaimana bernafas. Langkah-langkah praktis yang dapat saudara lakukan adalah dengan berdoa setiap kali mau memulai aktivitas setiap hari, berdoa setiap kali akan membuat keputusan, dan berdoa pula saat sedang dalam pergumulan.

Pertanyaan Diskusi:
1. Berilah penilaian pada diri saudara sendiri, apakah doa adalah “ban serep” atau “gaya hidup” dalam kehidupanmu selama ini?
2. Bila doa belum menjadi gaya hidup, cobalah meminta agar setiap anggota care cell memberi laporan setiap hari kepada pemimpin cell tentang doa mereka sepanjang satu minggu ke depan!


Pertemuan IV
Prayer as Reverence and Adoration unto God (Doa Sebagai Pemujaan dan Penyembahan

Kepada Allah – Belajar dari 24 Tua-Tua di Kitab Wahyu) (Why. 4:1-11)

Pendahuluan
Doa adalah pemujaan dan sekaligus penyembahan kepada Allah. Hal itu terlihat dalam Wahyu 4:1-11.

Isi
Sebagai pemujaan dan penyembahan kepada Allah, bagaimanakah doa itu seharusnya kita lakukan?
1. Doa itu harus berpusat kepada Allah sendiri
Doa, pemujaan dan penyembahan kepada Allah bukanlah berpusat kepada musik, penyanyi atau bahkan pengkhotbah, tetapi kepada Allah sendiri. Wahyu 4:1-7 memperlihatkan bahwa Allah duduk di atas takhta dan dikelilingi oleh 24 tua-tua sekaligus 4 makhluk yang penuh mata. Allah yang dikelilingi 24 tua-tua dan 4 makhluk yang penuh mata menunjukkan bahwa Allah menjadi pusat (center) dari doa, pemujaan dan penyembahan itu.
Bahkan 24 tua-tua itu sambil tersungkur. Ini adalah gambaran bahwa mereka merendahkan dirinya sedemikian rupa, sehingga hanya Allah saja yang tampak dan patut diagungkan di dalam doa, pemujaan dan penyembahan mereka.
2. Doa harus dilakukan secara terus-menerus
Wahyu 4:8 mengatakan bahwa doa, pemujaan dan penyembahan itu dilakukan “tidak berhenti-hentinya”. Ini adalah suatu tindakan yang terus-menerus dilakukan. Karena itu doa harus dilakukan terus-menerus, tanpa henti seumur hidup kita, seperti kita sedang bernafas.
3. Doa adalah untuk kemuliaan Allah
Wahyu 4:10-11 berkata bahwa setelah 24 tua-tua itu melemparkan mahkotanya, mereka kemudian berkata bahwa Allah saja yang layak “menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa, . . .” Mahkota adalah lambang dari kehormatan dan kemuliaan. Artinya 24 tua-tua itu menganggap bahwa kehormatan dan kemuliaan diri mereka tidak ada artinya, karena hanya Allah saja yang patut untuk menerimanya. Karena itu doa dan kesaksian kita ketika menerima jawaban doa seharusnya tidak menunjukkan bahwa kita orang hebat dan orang yang sangat beriman. Melainkan menunjukkan bahwa Allah begitu mulia, luhur, terhormat dan penuh kuasa dan dalam kemurahan-Nya, Ia telah bersedia menjawab doa kita.

Kesimpulan
Doa, pemujaan dan penyembahan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Di dalam doa pemujaan dan penyembahan: Allah harus menjadi pusatnya, dilakukan terus-menerus dan dipersembahkan untuk kemuliaan Allah saja.

Pertanyaan Diskusi:
 1. Praktekkanlah berdoa, memuja dan menyembah Allah dengan cara tersungkur sebagaimana dilakukan 24 tua-tua dalam Wahyu 4:1-11!
2. Ingatkanlah setiap anggota care cell untuk menyadari akan kemuliaan, dan kemahadahsyatan Tuhan setiap kali mereka berdoa dan menyembah Allah!

Untuk membaca Bahan Care Cell yang lain silahkan klik disini  

Check Also

Care Cell Mei

ROH KUDUS

Oleh: Pdm. N. Tonny Saputra I.Be and Stay Humble (Bersikap Tetap Rendah Hati) Matius 5:3; …