Care Cell Februari 2022

Oleh: Pdp.Dr. Ferry Simanjuntak

PERTEMUAN 1
Keteladanan Abraham – Taat (Kej. 12:1-9)

Pendahuluan
Teladan artinya sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh, misalnya dalam perbuatan atau perilaku, dalam perkataan dan dalam relasi dengan sesama bahkan dengan Tuhan. Bila seseorang menjadi teladan itu berarti perilaku, perkataan, cara orang tersebut berelasi dengan orang lain dan relasinya dengan Tuhan , ditiru atau dicontoh banyak orang. Abraham misalnya, adalah orang yang patut dicontoh dalam hal ketaatannya kepada Tuhan.

Isi
Bagaimana ketaatan Abraham patut kita contoh saat ini?
1. Abraham bersegera taat kepada firman Tuhan (Kej. 12:1-4)
Ketaatan Abraham yang bersegera sebenarnya tidak hanya dicatat dalam ayat ini saja, tetapi juga dalam Kejadian 22:1-3, yaitu peristiwa ketika Allah meminta Abraham mempersembahkan Ishak. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Abraham bangun dan melakukan perintah Tuhan.
Dalam dua peristiwa tersebut sebenarnya perintah Tuhan tidak mudah untuk dilakukan: a) meminta Abraham pergi ke suatu negeri yang belum dia ketahui, b) mempersembahkan Ishak anak satu-satunya yang telah ia nantikan kelahirannya selama 25 tahun.
Orang Kristen banyak menunda ketaatan mereka atau bahkan tidak taat sama sekali pada perintah Tuhan dewasa ini. Misalnya: pada perintah memberitakan Injil kepada segala suku bangsa, sehingga masih banyak suku bangsa yang belum pernah mendengar Injil. Contoh lain adalah memberi dukungan keuangan kepada pekabaran Injil dan pelayanan melalui persepuluhan atau buah sulung. Karena itu, sering kita dengar banyak rencana pekabaran Injil dan pelayanan tertunda atau tidak optimal karena kurangnya dukungan keuangan.

2. Abraham tetap memelihara persekutuannya dengan Allah (Kej. 12:7-8)
Kebiasaan Abraham adalah mendirikan mezbah bagi Tuhan di semua tempat yang ia singgahi dalam perjalanannya. Artinya dari waktu ke waktu Abraham tetap menjaga hubungan atau persekutuannya dengan Allah. Itu sebabnya, Abraham menerima firman Tuhan dan sekaligus pengarahan Tuhan secara berkelanjutan.
Banyak orang Kristen mendengar firman Tuhan dan pengarahan Tuhan bagi hidup mereka pada waktu lalu namun sekarang sudah tidak lagi. Karena mereka tidak terus menjaga hubungan atau persekutuan mereka dengan Tuhan. Cara yang pasti untuk terus menerima firman Tuhan dan pengarahan Tuhan secara berkelanjutan dalam kehidupan kita adalah dengan menjaga persekutuan yang erat dengan Tuhan.

Kesimpulan
Abraham adalah teladan dalam hal ketaatan yang patut kita contoh. Ketaatan kepada Tuhan adalah ketaatan yang seharusnya kita lakukan dengan bersegera, jangan ditunda-tunda . Untuk menerima pengarahan atau bimbingan Tuhan secara berkelanjutan, kita pun harus membangun hubungan yang terus-menerus dengan Tuhan seperti yang dilakukan Abraham.

Pertanyaan Diskusi:
1. Dalam hal apakah Tuhan menghendaki Anda taat dalam seminggu terakhir ini? Mintalah setiap anggota care cell untuk mengungkapkan keyakinan mereka masing-masing!
2. Menurut Anda, apakah ketaatan pada firman adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan sekarang ini? Diskusikanlah!

 

PERTEMUAN 2
Keteladanan Ayub – dalam Penderitaan dan Kesabaran (Ayub. 1:20-22; Yak. 5:10-11)

Pendahuluan
Di minggu ke-2 ini kita akan belajar dari keteladanan Ayub terutama dalam hal penderitaan dan kesabaran. Musim kehidupan silih berganti di sepanjang kehidupan kita. Termasuk sewaktu-waktu ketika Tuhan mengijinkan kita mengalami penderitaan. Tuhan menghendaki agar kita menang dan tetap memuliakan Dia sekalipun disaat menderita.

Isi
Bila kita membaca Ayub pasal 1 dan 2, maka kita dapat simpulkan bahwa Ayub menderita dalam empat bidang kehidupan dalam waktu yang bersamaan, yaitu:
1. Ekonomi – semua hartanya habis dalam sekejap,
2. Keluarga – kehilangan semua anak yang ia kasihi, tidak mendapat dukungan yang semestinya dari orang terdekatnya yaitu isterinya,
3. Kesehatan – seluruh tubuhnya penuh borok,
4. Sosial – sahabat-sahabatnya salah mengerti tentang keadaannya.

Artinya penderitaan Ayub ini meliputi semua bidang kehidupan. Namun Ayub menang, dan bagaimana Ayub bisa menang dari penderitaannya?
1. Ayub tetap mengucap syukur (Ayub. 1:20-22)
Umumnya, saat orang menderita, mereka akan marah dan tidak dapat menguasai diri. Berbeda dengan Ayub, ia tetap menguasai diri dan mengucap syukur, sehingga ia tidak berbuat dosa dengan mulutnya.
Ingat! Tempat pertama di mana dosa paling mudah menampakkan dirinya saat seseorang menderita adalah mulutnya. Namun Ayub tetap memuliakan Allah dengan mulutnya.
Jadi kita belajar bahwa dalam penderitaanpun kita harus tetap menguasai diri dan mengucap syukur kepada Allah.

2. Ayub bersabar atau bertekun menantikan waktu Tuhan untuk memulihkan keadaannya (Yak. 5:10-11)
Walaupun Ayub tidak dapat memahami mengapa ia menderita, namun ia telah bersabar dan bertekun menantikan waktu Tuhan untuk memulihkan keadaannya. Dan Ayub dipulihkan dua kali lipat setelah penderitaannya.
Ini berarti kita pun harus bersabar dan tetap bertekun dalam iman sementara menderita. Dan percaya bahwa Allah tidak melupakan atau meninggalkan kita. Ia mempunyai jadwal untuk memulihkan kita masing-masing.

Kesimpulan:
Berbagai musim kehidupan akan kita alami di dalam sepanjang kehidupan di dunia ini. Melalui kehidupan Ayub, kita belajar untuk tetap mengucap syukur dalam penderitaan sekalipun, dan bersabar serta bertekun dalam iman dengan menantikan waktu Tuhan untuk memulihkan keadaan kita.

Pertanyaan Diskusi:
1. Menurut Anda, apakah Anda adalah tipe pengeluh atau tipe pengucap syukur saat menderita? Bila Anda adalah tipe pengeluh, menurut Anda, bagaimana Anda dapat berubah menjadi tipe pengucap syukur?
2. Bila ada anggota care cell yang sedang menderita, ajaklah anggota care cell yang lain untuk mendoakannya bersama-sama!

 

PERTEMUAN 3
Keteladanan Nehemia – Kepemimpinan (Neh. 2:1-8)

Pendahuluan
Di minggu ke-3 ini kita akan belajar keteladanan Nehemia mengenai kepemimpinan. Menurut Tuhan Yesus kepemimpinan bukanlah memerintah atau mengendalikan orang lain untuk memenuhi cita-cita atau harapan kita. Tetapi menggerakkan orang lain untuk melakukan kehendak Allah dengan cara melayani mereka. Itu sebabnya kepemimpinan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus adalah kepemimpinan yang melayani atau menghamba. Itulah persisnya kepemimpinan yang diteladankan oleh Nehemia.

Isi
Bagaimana Nehemia menjalankan kepemimpinannya?
1. Ia digerakkan oleh belas kasihan terhadap penderitaan umat Tuhan (Neh. 2:1-3)
Hati Nehemia tergerak oleh belas kasihan ketika mengetahui bahwa umat Tuhan sedang menderita. Belas kasihan itulah yang membuat dia bertindak. Banyak orang memimpin karena digerakkan oleh ambisi . Mereka menjalankan kepemimpinan mereka dengan tangan besi, memaksa, mengendalikan orang lain.
Tuhan Yesus pun hatinya selalu digerakkan oleh belas kasihan pada waktu melayani banyak orang. Dan kita melihat pelayanan-Nya sungguh-sungguh telah memuliakan Bapa dan menghasilkan banyak buah bagi Kerajaan Allah.
Belas kasihan Nehemia juga terlihat ketika ia tidak mengambil gajinya sebagai Bupati, namun dipakai untuk menolong umat Tuhan yang menderita (Neh. 5:14-15).

2. Ia memimpin dengan perencanaan yang baik (Neh. 2:4-8)
Jawaban yang diberikan oleh Nehemia terhadap Raja Artahsasta menunjukkan tentang rencana tindakan matang yang telah dibuat oleh Nehemia untuk menolong umat Tuhan yang sedang menderita. Seorang hamba Tuhan Robert Schuller pernah berkata, “If you fail to plan, you plan to fail.” Artinya jika saudara gagal membuat rencana, saudara sedang merencanakan kegagalan. Ini menunjukkan pentingnya perencanaan yang matang untuk berhasil dalam kehidupan dan pelayanan. Karena itu, biasakanlah membuat rencana setiap hari. Dengan membuat rencana, kita akan lebih mudah mengatur waktu secara efektif dan menghindarkan diri dari kegiatan-kegiatan yang tidak berguna atau tidak produktif.

Kesimpulan
Kepemimpinan adalah menggerakkan orang lain untuk melakukan kehendak Allah dengan cara melayani mereka. Itulah kepemimpinan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan yang diteladankan oleh Nehemia. Itu sebabnya kepemimpinan yang diajarkan Tuhan Yesus disebut sebagai kepemimpinan yang menghamba atau kepemimpinan yang melayani. Hal itu hanya dapat kita lakukan bila hati kita dikuasai oleh belas kasihan terhadap umat Tuhan dan bukan oleh ambisi pribadi. Selain itu, kepemimpinan yang baik juga membutuhkan perencanaan yang matang. Jadilah pemimpin yang baik di tempat saudara masing-masing.

Pertanyaan Diskusi:
1. Orang sering berkata, “saya bukan pemimpin”, padahal kita semua adalah pemimpin paling tidak bagi diri kita sendiri. Apa yang dapat Anda terapkan dalam kehidupan Anda secara pribadi melalui teladan Nehemia?
2. Bantulah setiap anggota cell Anda untuk mulai membuat perencanaan yang baik dalam kehidupan mereka sehari-hari!

 

PERTEMUAN 4
Keteladanan Timotius – Integritas (2 Tim. 1:3-14)

Pendahuluan
Di minggu ke-4 ini kita akan belajar keteladanan Timotius dalam hal integritas. Integritas artinya keselarasan antara apa yang kita pikirkan, katakan dan lakukan. Integritas juga berarti keselarasan antara yang kita percayai atau imani dengan perilaku sehari-hari. Orang yang menampilkan perilaku yang berbeda dari isi hatinya disebut sebagai pemain sandiwara atau badut dalam kehidupan. Tuhan Yesus menyebutnya sebagai orang munafik.

Isi
Keteladanan integritas Timotius terlihat dalam beberapa hal berikut ini:
1. Memiliki iman yang tulus ikhlas atau disebut juga iman yang hidup (2 Tim. 1:5)
Alkitab, terutama kitab Yakobus mendorong kita untuk senantiasa memiliki iman yang hidup bukan iman yang mati. Iman yang hidup adalah iman yang aktif atau bertindak, bukan pasif.
Yakobus memberi contoh: tidak ada gunanya kita mengatakan kepada saudara seiman kita selamat malam, tidurlah dengan nyenyak dan alamilah damai sejahtera. Padahal kita tahu bahwa sekarang lagi musim dingin dan saudara kita itu tidak mempunyai mantel untuk menghangatkan badannya. Yang benar adalah sambil kita mengucapkan kata-kata di atas , kita juga memberikan mantel untuk menghangatkan badannya.
Iman yang hidup itu menular. Seperti yang ada di dalam diri Timotius, pertama-tama itu ada di dalam diri neneknya Lois lalu kemudian terimpartasi kepada ibunya Eunike dan akhirnya terimpartasi juga kepada Timotius.

2. Menerima firman bukan sebagai pengetahuan tetapi untuk dilakukan (2 Tim. 1:13)
Paulus mengajarkan kepada Timotius untuk memegang semua firman Tuhan yang diajarkan kepadanya dan melakukannya. Pengetahuan firman tidak banyak gunanya bila itu tidak diterapkan. Tidak ada gunanya kaya dalam kata-kata namun miskin dalam karya nyata. Tuhan menghendaki agar kita melakukan firman Tuhan yang telah kita pelajari. Bayangkanlah dampaknya bila setiap anggota cell berlomba-lomba melakukan firman Tuhan, maka semua care cell akan bergairah, akan berkembang, akan banyak jiwa baru dan akan terjadi kebangunan rohani.

Kesimpulan
Integritas sebagai keselarasan antara apa yang kita pikirkan, katakan dan lakukan sangat power full untuk mempengaruhi orang lain. Bila orang melihat bahwa perkataan kita berbeda dengan perbuatan kita, orang akan menganggap kita sebagai pemain sandiwara dan badut-badut lucu dalam kehidupan. Itu sebabnya kita harus berpegang teguh pada kebenaran dan menghidupi kebenaran itu sehingga kita memiliki integritas. Timotius memiliki integritas karena ia memiliki iman yang hidup dan melakukan firman Tuhan yang telah diajarkan kepadanya.

Pertanyaan Diskusi:
1. Menurut Anda, darimanakah datangnya integritas di dalam diri seseorang? Diskusikanlah!
2. Bagaimanakah membangun integritas di dalam kehidupan kita sehari-hari? Diskusikanlah!

Check Also

Care Cell Mei

ROH KUDUS

Oleh: Pdm. N. Tonny Saputra I.Be and Stay Humble (Bersikap Tetap Rendah Hati) Matius 5:3; …